
Dua bapak-bapak memergoki mereka tengah berduaan dengan posisi vulgar. Dan posisi demikian yang menimbulkan kesalahpahaman.
Bening berbalik, segera menurunkan kaus dan juga tank topnya. Sedangkan Langit pucat pasi melihat kehadiran dua bapak-bapak yang bisa dipastikan salah paham dengan keadaan barusan. Padahal kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang mereka lihat.
"Pak, tunggu dulu! I-ini, tidak seperti yang Bapak-Bapak liat. Saya bisa jelaskan," ujar Langit ragu-ragu. Melihat wajah dua bapak-bapak itu tidak bersahabat, bisa ditebak jika penjelasannya tidak diterima.
"Alah ... mau jelaskan gimana? Kamu bukan mau menjelaskan, tapi mau ngeles kan?!" tukas salah satu bapak-bapak tadi.
"Sumpah, saya bisa jelaskan, Pak. Tolong dengarkan dulu! Saya tidak melakukan apapun dengan Mbak ini. Saya tadi cuma nolongin dia karna di dalam kausnya ada ulat keket. Dia takut dan reflek meluk saya. Udah gitu aja, gak ada yang terjadi lagi," jelas Langit. Dia menggaruk kulit kepala yang tidak gatal karena saking bingung bercampur gugup. Bagaimana agar dua bapak-bapak itu bisa percaya.
Langit tahu, dia dan Bening dalam masalah besar. Tidak mudah untuk mencari jalan keluarnya. Niat baiknya berujung malapetaka.
"Dimana rumah kalian?"
"Rumah saya di Jakarta," jawab Langit.
Bapak itu beralih melihat Bening, memberi kode agar wanita itu juga menyebutkan tempat tinggalnya.
"Saya juga tinggal di Jakarta. Saya di sini karna bude saya mau hajatan," timpal Bening.
"Siapa budemu?"
"Marva dan Antoni."
"Oh ... kamu anaknya si Hastuti?"
__ADS_1
"Iya, betul, Pak." Bening berubah sumringah. Mereka mengenal mamanya, kemungkinan masalah yang terjadi sekarang tidak akan panjang.
"Rumah eyangmu tidak jauh dari sini. Ayo, kalian berdua harus mempertanggung jawabkan perbuatan zina yang kalian lakukan tadi. Jika dibiarkan perbuatan zina akan semakin merajalela. Zina itu salah satu dosa besar, jika kalian saling suka, harusnya segera nikah daripada berbuat dosa! Bukan hanya kalian, tapi orang yang membiarkan perbuatan zina juga akan menanggung dosanya."
"Lho lho, Pak. Kok, jadi gini?!" Alamak, semua tidak seindah bayangan Bening. Ternyata dua bapak-bapak itu masih tetap pada kesalahpahaman mereka.
Bening hampir menangis karena frustasi. Kejadian dua preman tadi belum hilang, kini adalagi kejadian yang sama-sama mengerikannya.
Langit maupun Bening tidak bisa berbuat apapun, saat dua bapak-bapak yang asli penduduk kota itu menggiringnya ke rumah Eyang Putri.
•
Mama Has, Eyang Putri dan kerabat lainnya tengah berkumpul di rumah Eyang Putri. Termasuk Bude Entin dan bude-bude nyinyir lainnya. Mereka baru saja mendiskusikan tempat mana yang akan didatangi demi mencari jejak Bening.
Mama Has dan yang lainnya ikut melihat rombongan yang datang, termasuk ada Langit dan Bening.
"Ada apa?" ucap Mama Has bingung sekaligus khawatir karena puterinya seolah sedang di arak warga.
Mama Has paham siapa saja bapak-bapak yang mengantar Bening. "Lho, itukan, Langit?" Bukan hanya bingung dan khawatir. Mama Has dibuat terkejut dengan sosok Langit yang juga ada pada barisan bapak-bapak itu.
"Assalamu'alaikum." Pak RW mengucap salam. Kebetulan Pak RT sedang ada urusan, maka sementara ini kasus kesalahpahaman itu diserahkan kepada Pak RW.
"Walaikum salam," jawab semuanya.
"Adek?!" Mama Has fokus pada Bening. "Ada apa, Dek? Kamu kemana aja? Mama dan keluarga bingung nyariin kamu," berondong Mama Has. Dia mengamati wajah Bening yang terdapat sisa air mata. Tidak sabar mendengar penjelasan Bening.
__ADS_1
"Ma, Bening dan Rengit dituduh berzina," terang Bening singkat.
"Apa?!" Mama Has dan yang lainnya terkejut.
"Gimana maksud kamu, Dek?!" cecar Mama Has.
"Maaf, Mbak Has. Kami tidak mungkin menuduh tanpa alasan. Pak Karim dan Pak Budi melihat langsung mereka sedang berbuat tidak senonoh di Jalan Mawar Putih. Keduanya melakukan hal negatif di gang sempit. Lebih tepatnya di belakang semak-semak."
"Hah? Apa?!" Mama Has tentu saja sangat terkejut. Tidak percaya bila puterinya melakukan zina. Dia adalah ibunya, tahu segala sikap dan sifat Bening. Mustahil Bening melakukan yang dituduhkan mereka.
Dan Langit??? Tidak mungkin Bening bersama Langit. Seperti yang diketahuinya akhir ini, bagaimana Bening tidak suka dengan pria itu. Benar-benar sulit dipercaya.
Keluarga ikut terkejut. Apalagi Bude Entin. Wanita paruh baya itu sampai membuka mulut lebar-lebar. Dia yang dari dulu tidak respek dengan Bening dibuat terkejut dengan kejadian sekarang.
"Semuanya, mari silahkan masuk! Kita bicarakan dengan tenang biar jelas." Eyang Putri angkat suara untuk mempersilahkan mereka masuk.
"Langit, apa yang sebenarnya terjadi, Nak?" tanya Mama Has.
Langit nampak lesu. "Semua hanya salah paham, Tan. Tapi bisa serumit ini," jawabnya.
Tak mendapat jawaban memuaskan, Mama Has kembali menatap Bening dengan lekat. Berharap puterinya menjelaskan lebih detail. Namun, Bening Agistasari malah menangis tertahan, membuat Mama Has tak tega.
Semua sudah duduk dengan Tenang. Mama Has duduk di samping Bening dan merangkul pundaknya.
"Kalian pasti paham, zina itu dosa besar. Bukan hanya pelakunya, tapi orang yang melihat dan membiarkannya juga ikut menanggung dosa. Berhubung mereka kepergok sedang berduaan dan sedang melakukan sesuatu, maka kami sarankan agar mereka dinikahkan. Selain untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka, juga menghindari perbuatan zina yang mungkin saja mereka ulangi lagi."
__ADS_1