Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Pura-pura tidur


__ADS_3

Ayam berkokok saling bersahutan, menandakan pagi telah menyambut dengan hari baru. Kedua insan yang sah menyandang suami istri itu masih terlelap dalam buai mimpi indah mereka.


Namun berapa saat kemudian, mata Langit lebih dulu mengerjap. Nyawa yang berpencar perlahan mulai kembali, dia merasakan aneh pada tubuhnya yang seolah sedang didekap dengan sosok lain?


Sosok lain? Heh, astaga ... dia lupa jika itu bukanlah sosok lain, melainkan adalah istrinya sendiri.


Tangan Bening mendekap dengan nyaman, kaki sebelah kanan tertumpang di atas perutnya. Beruntung di atas pusar, jika turun sedikit saja, pastilah menyentuh benda keramatnya.


Wajah Bening terlelap dalam damai, napas teratur mampu menerpa wajahnya. Bulu mata lentik, hidung bangir, wajah putih bersih tanpa ada jerawat yang menempel. Dia memang sangat cantik ketika sedang terlelap.


"Bram," panggilan itu lolos dari mulut Bening, meski matanya terpejam, tapi Bening mengigau tentang seseorang dari masa lalunya.


Deg ....


Langit sedikit terkejut mendengar Bening menyebut pria lain. Hatinya dibuat penasaran, siapa pria bernama Bram itu.


Aroma masakan menguar di indera penciumannya, dia bisa menebak jika Mamak sudah bangun dan sedang menyiapkan makanan. Perlahan dia mulai menyingkirkan tangan Bening, namun tangan itu kembali lagi dan memeluk lebih erat.


"Aduh, gimana cara banguninnya, ya?"


"Mbak, ayo, bangun!" Langit mencoba membangunkan dengan menyentuh tangan Bening. Namun wanita itu tidak juga terbangun.


Ketika Bening mengeratkan pelukannya, ada satu bagian yang membuat Langit terpacu berpikiran aneh. Dia tidak nyaman saat tubuhnya menyentuh suatu benda kenyal. Bahkan sang adik kecil yang tanpa dikomando telah berhasil bangun.


"Ugh, apa aku harus mandi pagi lagi? Bisa tiap hari pilek!"


"Hoam ...." Bibir Bening menguap lebar. Yang mana membuat Langit semakin tergoda untuk menyesap. Dan adik kecilnya benar-benar sudah bangun. Dia harus secepatnya menyingkirkan badan Bening, jika tidak hal buruk akan segera terjadi. Dipastikan tidak bisa mengontrol diri sendiri.


Di alam bawah sadar, Bening merasa ada yang menarik guling ternyamanya. Tangan itu segera menarik kain yang ternyata kaus Langit dan berganti menindih guling manusia itu.


Langit berusaha menghindar, tapi Bening yang justru lebih dulu menyentuhnya. Tidak ada pilihan! Bagai rezeki nomplok di pagi hari, dengan senang hati Langit meladeni. Entah bagaimana bibir keduanya saling berpagut. Langit merasakan suhu tubuhnya semakin panas menjalar hingga ke ubun-ubun dan semakin berpikir tidak baik.


Langit menurunkan tubuh Bening ke samping, pagutan mereka terlepas.


"Bram." Lagi-lagi panggilan itu yang keluar dari mulut Bening. Membuat Langit terdiam cukup lama. Mungkinkah Bening sedang bermimpi tentang pria lain. Lalu dia memanfaatkan keadaan itu. Aaakh ... Langit segera terbangun. Dia merasa sebagai pecundang telah mencuri ciuman Bening. Namun, ada lagi yang membuat hatinya berdenyut. Tentang nama pria yang sedari tadi disebut oleh istrinya.

__ADS_1


Langit tidak membangunkan Bening lagi. Pria itu memilih keluar kamar menuju dapur.


"Mak,"


"Astagfirullah hal'azdim, Lang! Kamu ngagetin!" seru Mamak memegangi dadanya.


"Maaf. Kirain Mamak dah tau kalo Langit di belakang Mamak." Pria itu menyengir.


"Dah bangun? Tumben agak pagian dikit? Biasanya jam lima lebih baru bangun. Ini masih setengah lima." Menguasai keterkejutannya, Mamak mulai mengulek cabe di atas cobek.


"Langit nyium masakan Mamak, makanya kebangun. Laper kali perut Langit."


"Eh, jorok banget! Cuci muka sama gosok gigi dulu!" perintah Mamak karena Langit langsung asal comot tempe goreng yang masih ditiriskan.


Langit menyengir dan melesat ke kamar mandi.


Barusaja kamar mandi tertutup, terdengar panggilan lain. "Bu!" Mamak langsung menoleh pada sumber suara. "Nak Bening sudah bangun?" Mamak tersenyum ramah menyambut menantunya. "Apa aktivitas Mamak ganggu tidur kamu?"


"Enggak, Bu! Bening emang udah kebangun." Wanita itu mendekati Mamak.


"Bukan gitu, Bu. Bening jatuh dari atas kasur, makanya kebangun." Dia menyengir.


"Lho, kok, bisa? Mana yang sakit?" Mamak meninggalkan cobek dan beralih meniti tubuh Bening. "Ya ampun, kamu sampek jatuh-jatuh. Nanti Mamak suruh Langit buat permak kamarnya, biar kamu nyaman tidur di sini."


"Enggak usah, Bu. Saya emang gini, kadang suka ceroboh atau apa ya namanya ... di rumah juga sering jatuh dari ranjang. Makanya kalo tidur gak bisa jauh dari guling."


"Tapi Mamak tetep gak enak sama kamu. Kalo Mamak selesai masak, nanti Mamak urut badan kamu biar enakan, ya," kata Mamak.


Bening menanggapi dengan senyuman. Hatinya mulai menghangat dengan kebaikan dan perhatian Langit juga Mamaknya. Dia sangat dihargai ketika datang ke rumah sederhana ini, namun, kenapa dia selalu jahat ketika Langit menginap di rumahnya. Bahkan pernah berpikir jika pria itu hanya numpang hidup. Kamu jahat banget, Be!


"Ohya, Nak Bening, jangan panggil Ibu, ya. Panggil aja Mamak. Orang-orang sini juga manggilnya begitu."


"Iya, Bu, eh, Mak."


Pintu kamar mandi sempit itu sudah terbuka, Langit terkejut melihat Bening sudah mengobrol dengan Mamak.

__ADS_1


"Mbak udah bangun?"


Mendengar suara Langit, entah mengapa membuat Bening tersipu. Dia pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pandangan.


Beberapa saat lalu, bukannya dia tidak sadar sudah berciuman dengan berondong muda itu.


Awalnya memang tidak sengaja, dia menarik kaus Langit dan beralih menindih tubuh pria itu, tapi saat bibirnya menyentuh sesuatu, dia mulai sadar apa yang terjadi. Untuk menyembunyikan malu, dia memilih pura-pura masih tidur padahal sudah terbangun.


Tidak mendapat jawaban, pria itu beralih mengambil teko alumunium dan mengisi air dari keran. Dia memasak air dan menunggui di samping kompor.


Bening dan Mamak tetap bercerita, tanpa menghiraukan keberadaan Langit.


"Ini namanya apa, Mak?"


"Sambal terong penyet. Enak, sedikit asem, manis dan pedas. Emang Nak Bening belum pernah coba?"


Bening menggeleng.


"Nanti dicoba, ya," kata Mamak. Wanita lanjut usia itu beralih melihat Langit. "Lang, istrimu tadi jatuh dari kasur. Pasti badannya sakit-sakit."


"Apa iya, Mak? Tadi udah aku bangunin, tapi Mbak Bening gak bangun-bangun makanya Langit tinggal ke dapur duluan."


"Nanti Mamak urut, tapi kamu ganti aja kasurnya sama yang baru. Kasian Nak Bening tidurnya kurang nyaman."


"Iya, Mak. Rencananya nanti ke pasar mau mampir ke toko furniture buat beli ranjang baru sama kipas juga."


"Eh, gak usah! Mamak sama Rengit, eh, Langit, maksud saya, gak usah diganti. Saya nginepnya cuma sampek besok. Hari Senin udah kerja, jadi cuma dua malam aja nginap di sini."


Sedikit ada kekecewaan di hati Langit, dia mengira Bening mulai belajar menjalani kebersamaan dengannya, namun ternyata keberadaanya di sini bukanlah kehendak wanita itu sendiri. Melainkan sebab perintah Mama Has. Pria itu menghela napas panjang. Bukan sekali merasa kecewa seperti saat ini.


"Lang," panggil Mamak. "Malah bengong! Itu airnya udah mendidih, mau buat apa?"


"Ough. Buat mandi Mbak Bening, dia terbiasa mandi pakai air hangat," kata Langit. "Bentar, Mbak, biar saya siapin dulu."


Bening hanya menatapi pria dengan segala kebaikannya. Namun, dia belum mampu mengimbangi kebaikan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2