
Seorang pegawai yang sedikit paham dengan hal medis ikut mendekati Bening. Wanita berkaca mata itu berjongkok di depan tubuh Bening dan mengecek denyut nadinya.
Kening mengerut dengan raut muka kebingungan. Seolah tidak yakin dengan tebakannya, wanita itu mengulang sampai beberapa kali.
"Embak, bangun, Mbak! Embak kenapa?" Langit menggenggam sebelah tangan Bening, tak bisa menutupi kekhawatirannya. Dia tak perduli dengan pandangan para pegawai yang melihatnya dengan tatapan aneh. Saat ini Langit terlalu panik dengan keadaan istrinya.
"Sepertinya Nona Bening____," ucapan wanita tadi menggantung.
"Dia kenapa?" tuntut Langit.
"Sepetinya Nona Bening hamil. Tapi, maaf, lebih jelasnya menunggu tenaga medis saja yang memeriksanya," ujar wanita tadi.
Deg ....
Langit mematung. Dia sangat terkejut sampai bisikan-bisikan orang disekelilingnya tidak terdengar. Tidak mungkin ... pasti wanita di sebelah Bening itu salah berucap.
Langit berusaha menyangkal. Apa yang di dengar barusan tidak benar, lebih tepatnya dia sangat takut.
Tanpa berpikir panjang, Langit menggendong tubuh Bening, membawanya masuk ke lift bersama Sarah dan Dodi. Mereka berdua memang tidak mencegah Langit, tetapi menyimpan banyak pertanyaan dibenak masing-masing. Sikap panik Langit tentu menimbulkan banyak pertanyaan.
"Astaga ... Nona Bening hamil? Tampar gue, ini beneran atau gak?"
"Ya beneranlah. Tadi diperiksa Andira, dia kan sedikit banyak tau tentang ilmu kedokteran," cetus salah satu dari mereka.
"Mustahil, perawan tua itu hamil dengan pria mana?"
"Hey mulutmu, di depak dari perusahan ini mampus lho. Kira-kira punya mulut kalo mau ngomong. Liat dulu ada kamera pengawas atau enggak."
"Wah iya, mampus gue!"
•
"Mang, lebih cepet."
"Iya, Mas Lang."
Di pangkuan Langit, mata Bening mulai mengerjap. "Rengit,"
"Mbak. Alhamdulillah, Embak udah sadar. Saya khawatir." Langit mencium punggung tangan Bening. Kekhawatiran masih tercetak jelas di wajahnya.
Mulut Bening mendesis. "Kepalaku pusing," keluhnya.
"Sabar Mbak. Kita lagi diperjalanan ke rumah sakit," ujar Langit.
Mobil sudah berbelok ke pelataran rumah sakit. Langit kembali menggendong tubuh Bening untuk dipindahkan ke brankar. Mobil Dodi dan Sarah baru tiba, mereka ikut menyusul Langit masuk ke dalam.
Saat Bening di bawa masuk ke ruang perawatan. Langit segera menelpon Mama Has.
"Ada apa, Lang?" Mama Has bertanya dari seberang telepon.
__ADS_1
"Mbak Bening pingsan, Ma."
"Apa?! Bagaimana keadaanya?"
"Masih di periksa dokter."
"Tunggu sebentar, Mama akan ke sana."
"Iya, Ma."
"Nona Bening tadi udah sadar, Mas Lang. Mungkin Nona Bening hanya kelelahan." Mang Juri berusaha menenangkan Langit. Meski Bening sudah siuman, tapi raut kecemasan di wajah Langit belum juga hilang.
"Iya, Mang. Semoga aja cuma kecapekan. Bukan terkena penyakit berbahaya," balas Langit.
"Pak Langit segitu cemasnya sama keadaan Nona Bening? Kamu percaya kalau dia dan Nona Bening saudaraan?" Dodi bertanya pada Sarah.
Wanita dengan rambut berponi itu menghendikan bahu. "Aku tidak tahu. Tapi menurutku sikap Pak Langit terlalu berlebihan. Keliatan banget kalau mereka deket," balas Sarah.
"Kita liat, sebentar lagi siapa yang datang. Mamanya Nona Bening, atau mama dia yang datang." Dodi tersenyum tipis.
"Apa hubungannya?" bingung Sarah tidak mengerti.
"Kamu ini telat mikir. Kamu dengar Pak Langit tadi menelpon, dia memberitahu keadaan Bening pada mamanya. Kalau yang datang benar mamanya Pak Langit, berati Nyonya Has belum tau. Tapi kalau yang datang adalah Nyonya Has, lalu hubungan Langit dengan Nona Bening bisa jadi mereka ...."
"Adik kakak," sahut Sarah cepat.
"Tapi Nona Bening anak tunggal. Bagaimana ceritanya punya adik?"
Dodi mengangguk pelan. "Bisa jadi, sih."
Obrolan mereka terhenti, saat ketukan high hell menggema di lorong rumah sakit. Terlihat Mama Has berjalan cepat ke arah mereka.
"Ma." Langit berdiri menyambut kedatangan Mama Has.
"Lang! Kenapa istrimu bisa pingsan? Bagaimana keadaanya?" Dua kristal bening lolos membasahi pipi wanita paruh baya itu.
"Hah ... istri?!" Sarah dan Dodi saling bertatapan. Apa yang mereka dengar benar-benar mengejutkan.
"Ma, tenang. Mbak Bening tadi sempet sadar, dia akan baik-baik saja. Mama yang tenang," ujar Langit menenangkan.
"Mama takut terjadi sesuatu dengan Adek. Dari kemarin memang mukanya terlihat pucat."
"Semalam juga ngeluh pusing. Langit udah bilang gak usah berangkat, tapi tau sendiri Mbak Bening keras kepala."
Mama Has mengelus lengan Langit. "Mudah-mudahan istrimu cuma kecapekan sana."
"Iya Ma. Langit juga berpikiran seperti itu."
Mama Has sama sekali tidak terpikir jika kemungkinan saja Bening hamil. Dia tahu jika Bening meminum pil penunda kehamilan, maka dari itu pikiran Mama Has justru takut jika Bening terkena penyakit berbahaya.
__ADS_1
Langit kembali duduk. Dia diam; masih memikirkan ucapan wanita tadi tentang keadaan istrinya yang di duga hamil.
Jantung Langit tak henti terpompa dengan cepat. Telapak tangannya terasa dingin. Harap-harap cemas menunggu dokter keluar dan memberitahu keadaan istrinya.
"Sarah, ini berita mengejutkan."
"I-iya, Pak. Ini benar-benar mengejutkan."
Langit mendengar ucapan Dodi dan Sarah. Dia beranjak mendekati keduanya.
"Mas Dodi, Mbak Sarah, kalian udah tau hubungan saya dengan Mbak Bening, saya mohon rahasiakan berita ini dari pegawai kantor."
"Baik, Pak Langit. Kami tidak menyangka jika Anda adalah suaminya Nona Bening."
"Saya dan Mbak Bening sepakat untuk menutupi status kami. Kalian bisa bertanya dengan Mbak Bening. Untuk sekarang, ada saya dan Mama Has, kalian bisa kembali ke kantor."
"Baik, Pak," jawab Dodi dan Sarah bersamaan. Lalu keduanya meninggalkan ruangan rawat Bening.
"Dok, bagaimana keadaan Bening?"
Dokter wanita yang baru keluar dari ruang rawat Bening justru tersenyum. Membuat Mama Has dan Langit kebingungan. Keadaan seperti ini dokter itu justru tersenyum senang. Aneh.
"Ibu dan Mas, jangan khawatir. Saya akan beritahu kabar baik."
"Kabar baik?" Mama Has mengernyit bingung.
"Nona Bening positif hamil."
"Apa ...!"
"Positif ha-mil?"
"Iya, selamat ya. Tapi ada kabar kurang enak yang harus saya sampaikan. Keadaan ibu bayi mengalami stress, dia juga kelelahan. Saya menyarankan agar Nona Bening bed rest selama satu minggu agar kondisi ibu bayi kembali pulih."
"Mama nggak percaya kalau Adek hamil, Lang. Alhamdulillah, ya Allah." Mama Has menangis haru.
Langit justru mematung dengan wajah pucat. Sampai goyangan di lengan tangannya membuat pria itu menoleh ke arah Mama Has.
"Lang, kamu pasti syok dengar Bening hamil. Tapi ini anugrah, Lang. Anugrah besar, kita harus bersyukur."
"I-iya, Ma. Langit bener-bener gak nyangka Mbak Bening hamil," ucap Langit dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kita sudah boleh masuk, Dok?"
"Silahkan, Bu."
Mama Has bergegas masuk. Tapi Langit masih berdiri di tempatnya.
"Mas Langit, selamat, sebentar lagi akan menjadi ayah." Mang Juri memberi ucapan selamat.
__ADS_1
"Iya. Makasih."