
Dua hari menginap di rumah Langit memberi kesan sendiri bagi Bening. Namun, wanita yang tidak mudah menunjukan keramahannya itu tetap menjaga sikap seperti biasanya; dingin dan acuh, meski tidak separah waktu di awal.
Tidak bisa dipungkiri jika selama tinggal di rumah sederhana milik Langit, banyak hal baru yang diam-diam di ingatnya. Terutama tentang kesederhanaan, kebaikan dan berlanjut perhatian dari pria humoris itu.
Satu Minggu telah berlalu. Alasan sedang tidak enak badan, Langit mengirim pesan pada Bening agar tidak menunggu kepulangannya. Dia meminta izin tinggal di rumah Mamak selama 2 hari.
Mengirim pesan? Apakah mereka mulai berkomunikasi lewat ponsel. Iya. Tentu saja Langit yang meminta nomor ponsel Bening lebih dulu, dengan alasan agar lebih mudah berkomunikasi. Dan Bening memberikan nomor ponselnya.
Setelah membaca pesan singkat dari suami berondongnya, Bening membuang ponsel ke ranjang tempat tidur. Ada sedikit kekecewaan, tapi belum bisa dideklarasikan dengan gamblang. Logika selalu menolak meski nurani ingin. Apa dia mulai peduli? Mulai ada rasa? Mulai kecanduan dengan kehadiran berondong penjual bakso itu. Ah, gak mungkin!!! Logika selalu menyangkal.
Penasaran, dia raih kembali ponsel yang tadi di buang. Apa ada balasan dari Langit. Oh, no! Tidak ada balasan apapun. Ngeselin, pakek sakit segala.
"Kalo sakit, harusnya pulang, kan?! Malah nginep di situ!" Balasan terakhir Bening yang belum di read oleh Langit. Bahkan hanya ada tanda conteng satu.
"Ngeselin!!!" Berkali-kali Bening mengatakan itu. Kekesalan seketika melingkupi perasaanya. Ah, fix, mungkin ada suatu rasa berbeda yang mulai dirasakan Bening.
Tidak ingin larut dalam kekesalan, wanita yang sudah siap tidur itu kembali bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Ingin mengalihkan kekesalan yang dirasa agar suasana hatinya tidak terlalu buruk. Baru ingin memulai membuka laptop, ponsel yang tadi dibuang berdering. Dia segera melihat si penelepon, hati kecil berharap Langit menghubungi.
"Malam, Embak!" sapa seseorang yang mulai akhir-akhir ini sangat familiar menggangu pikirannya.
"Apa?!" balas Bening sewot.
"Mulai galaknya. Lagi sakit bukannya disayang-sayang."
"Idih, maunya!" cibir Bening.
"Kirain dah tidur."
"Belum!"
"Mbak ketus banget."
"Bodo'!"
"Uhuk-uhuk ...." Terdengar Langit sedang batuk-batuk.
Bening mulai fokus melihat ke Langit. Mereka sedang video call.
"Kamu serius sakit?"
"Iyalah, Mbak. Masa saya bohong!"
"Kenapa gak pulang?"
"Justru karna masih sakit gak mau ke rumah Mbak. Takut nularin virus."
"Kamu lagi di mana?" tanya Bening.
"Lagi di kamar."
"Kayaknya beda." Bening tidak percaya. Sedikit terlihat dinding kamar bukan seperti yang ada di kamar Langit.
Mendeteksi kecurigaan Bening, Langit segera mensetting kamera agar tidak menampilkan seluruh ruangan. Sedikit teledor! Jangan sampek Mbak Bening tau aku lagi di Surabaya.
"Besok pulang kerja, saya mampir," kata Bening.
"Eh, jangan!!!" pekik Langit kaget.
Bening mengernyit semakin curiga. "Kenapa jangan!"
__ADS_1
"Eum, enggak! Gini lho, kata bidan kena batuk menular. Takut Mbak ikut ketularan. Nanti kalo udah sembuh, saya bakal langsung pulang. Hayo, Mbak kangen saya?"
"Rengit, jangan mulai ngeselinnya!"
Di seberang telepon, Langit tertawa keras. Namun detik berikutnya terdengar suara batuk-batuk lagi.
"Sukurin, tuh."
Obrolan melebar ke mana-mana sampai hampir satu jam mereka belum memutus sambungan telepon.
"Dah hampir tengah malem. Embak gak ngantuk?"
"Ngantuk, sih."
"Ya dah, tidur. Besok biar gak kesiangan."
"Heem." Bening hanya berdehem. Tidak menjawab iya karena hati kecilnya tidak ingin mengakhiri obrolan unfaedah itu. Jika berkata jujur, dia gengsi dengan Langit.
"Mimpi indah, ya, Mbak. Ketemu dalam mimpi." Langit tersenyum.
"Ck, apaan sih, kamu, tuh."
"Udah. Saya matiin, nih!" Bening pura-pura kesal.
"Ya udah matiin aja telponnya. Tapi jangan hatiku yang dimatiin sama Embak."
"Rengggiiiit!!!"
"Ha ha ... oke-oke keturunan bidadari, selamat malam dan selamat beristirahat."
Kalimat terakhir dari Langit mampu menimbulkan semburat kemerahan di pipi Bening; dia tersipu malu. Beruntung sambungan telepon sudah diakhiri, Langit tidak melihat wajahnya yang berseri malu. Astaga, Be. Apa-apaan! Gini aja udah kek mau terbang. Kontrol diri, Be.
•
"Pagi, Dek. Sepertinya lagi seneng. Senyum terus," kata Mama Has membaca raut wajah Bening.
"Biasa aja, tuh, Ma."
"Semalam Langit gak pulang?"
"Lagi sakit, jadi gak pulang."
"Kok sering sakit. Sakit apa?"
"Katanya batuk menular, gitu."
Tidak banyak percakapan antara Mama Has dan Bening. Karena Bening sendiri harus pergi ke kantor.
•
Di kantor.
Hari ini tidak ada jadwal meting di luar kantor. Wanita yang menata rambut sedemikian rapinya itu hanya sibuk mengamati keuangan perusahaan yang semakin mengalami penurunan. Meski tidak signifikan, tapi cukup mengkhawatirkan jika terus menerus dibiarkan.
Tuling ....
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia melirik sekilas saat layar ponsel masih menyala. Hanya ada angka tanpa nama. Membuat Bening penasaran dengan si pengirim pesan.
"Apa kabar, Be." Dari sapaan itu Bening menduga pada satu pria yang paling dikenalnya.
__ADS_1
"Hari ini sibuk, nggak? Aku mau ajak kamu janjian di Cafe biasa."
Fix. Ini dari si kadal buntung! Mau apa lagi, dia!
Muak. Bening tahu siapa si pengirim pesan tanpa nama itu. Dia membiarkannya begitu saja tanpa berniat meladeni. Dugaanya semakin kuat menuju ke seseorang.
•
Dua hari berlalu.
Sore hari pulang dari kantor, Bening langsung menuju ke kamarnya.
Ceklek ....
"Surprise!!!"
"Astaga!!!" Bening memekik kuat.
"Ha ha ...."
"Rengiiit!!! Lo bisa, nggak?! Nggak bikin orang lain kesel!" sentak Bening.
"Sorry-sorry!"
"Sorry-sorry!!" ulang Bening terlihat sekali kekesalannya.
"Embak, saya udah pulang. Jangan dimusuhi, ntar saya balik lagi ke rumah saya."
"Bodo'. Suruh siapa ngagetin! Saya capek baru pulang." Bening menaruh tas dengan gerakan kasar dan berlalu ke kamar mandi tanpa peduli tatapan Langit tidak lepas darinya.
'Kirain gak ketemu dua hari bakal ada perubahan. Paling, gak, tunjukin kalo dia seneng pas liat aku pulang.'
Langit duduk di meja rias. Menunggu Bening selesai membersihkan diri.
Tidak lama Bening keluar dengan jubah mandi juga handuk di atas kepalanya.
Langit menyambut di depan pintu kamar mandi. "Embak!"
"Hem ...."
"Wangi banget."
"Baru mandi ya wangi!" ketus Bening.
"Masih kesel aja." Langit mengekor saat Bening berjalan ke ruang ganti. Tapi wanita itu segera berbalik saat sampai di depan pintu.
"Mau liat saya ganti baju!!!"
"Mau-mau. Mau banget."
"Tungguin sampek sumur bor di rumah ini kering!"
"Heh, apa hubungannya, Mbak?"
"Gak ada!"
"Ngintip dikit gak apa, Mbak. Ujungnya aja."
"Ujung handuk?!"
__ADS_1
"Kok ujung handuk. Ya, ujung anu-nya, lah."
"Anu ini, mau!!!" Bening mengepalkan tangan di depan Langit. Membuat pria itu berbalik menuju ranjang dan kembali menunggu Bening sampai selesai berganti pakaian.