
Deg ....
Bening terpaku di tempat. Kata demi kata yang terdengar bagai sindiran keras! Seorang Bening Agistasari mati kutu mendengar kalimat barusan. Suaranya tercekat di tenggorokan.
"Embak mau makan sini apa bawa pulang?" tanya Langit dengan tersenyum. Bening mendongak menatap lekat wajah suaminya, yang kini banjir keringat.
Bening hanya diam, bahkan sangat sulit untuk sekadar menelan saliva. Wajahnya sedikit pucat pasi. 'Apa dia udah lupa pertengkaran semalem? Kenapa seolah gak ada masalah. Pakek senyum-senyum gitu? Dia gak marah?' Bening larut dalam pikirannya.
Melihat Bening melamun, Langit tersenyum tipis dan kembali ke tempatnya untuk meracik bakso pesanan yang lain. Masih banyak pembeli yang antri.
Beberapa saat kemudian Langit memberikan bungkusan besar kepada Nyonya Laras. "Ini pesanan, Anda, Bu."
"Makasih, ya, Bang Lang. Satu minggu tidak jualan memang Abang kemana?" Nyonya Laras mengambil dompet dan mengambil beberapa lembar uang.
"Lagi ada urusan, Bu."
"Rissa uring-uringan nyariin Bang Lang, pengen makan bakso. Ini nanti kalau tau Abang jualan, dia pasti langsung kesini," ujar Nyonya Laras memberikan uang pada Langit.
Langit menerima dan menghitung jumlah uang. "Masih sisa tujuh puluh ribu," ucapnya. Dia tidak menanggapi soal Clarissa karena tak enak dengan Bening.
"Sudah, tidak usah dikembalikan, buat Abang saja."
"Tapi, Bu ...."
"Itu rezeki sedikit buat Bang Lang. Saya pamit, ya," ucapnya. Lalu beralih pada Bening, "Nona Bening, saya duluan."
"I-iya."
Bibir Langit masih menyisakan senyum, pria itu menyimpan uang ke dalam besek dan beralih mengambil gelas yang diisi dengan teh hangat. Dia menaruh di depan Bening. "Mbak pasti capek. Minum dulu."
Bening melihat gelas teh di depannya. 'Bahkan dia masih bersikap semanis ini?'. Wanita itu mengambil gelas dan meminumnya.
"Mau dibuatin bakso sekarang apa nanti?"
Bening masih diam.
"Bang Lang! Saya sudah selesai, berapa semuanya?" Salah satu penghuni meja lain memanggil.
"Tunggu sebentar, Neng." Langit bangkit dan mendekat ke meja yang lain.
Bening terus memperhatikan interaksi Langit dengan pembeli wanita yang terlihat sangat akrab. Dalam transaksi pembayaran, tak jarang mereka melempar candaan yang bukan hal biasa menurut Bening.
__ADS_1
"Bang, kapan sih putus sama orang spesialnya? Kasih kesempatan kita buat daftar jadi calon istri Abang."
"Iya, Bang. Cuma jadi nikah siri juga gak apa."
"Jangankan nikah siri, dibonceng motor berdua sama Abang aja hati Eneng dah bahagia banget, Bang."
"Saya doain Abang cepet putus, biar melajang lagi."
'Heh, mulut rombeng! Bisa-bisanya bicara kayak gitu. Doain saya dan Langit putus! Sia lan! Belum ngerasain mulutmu penuh sambal!' hidung Bening kembang kempis dengan wajah memerah menahan amarah. Sebelah tangannya menggenggam botol saus dan memencet dengan kuat sampai saus itu tumpah dan meluber kemana-mana.
Langit hanya membalas dengan tawa renyah. Tapi pria itu fokus menghitung porsi yang mereka makan. Tanpa meladeni omongan mereka.
"Hey, Mbak! Lihatlah! Sausnya tumpah kemana-mana!" omel wanita yang mengetahui keteledoran Bening.
Bening yang tersadar sampai membuka mulut lebar-lebar. 'Astaga ... apa yang aku lakuin!'
Beberapa pembeli melihat Bening. Mereka berbisik-bisik mengomentari tindakan Bening. Langit yang tahu segera mendekat dan membersihkan saus yang tumpah.
"Mbak geser, biar saya bersihkan," ujar Langit.
"Biar saya aja! Ini kesalahan saya."
"Nanti tangan Mbak kotor dan panas. Dah gak apa, saya aja yang bersihin."
Bening mengembus napas panjang. 'Kurang apa dia, Be? Dia baik banget, tapi kamu jahat banget? Gimana kemarin kamu marahin dan salahin dia, tapi dia masih baik sama kamu'. Rasa bersalah menyelusup ke hati Bening.
Bening duduk di tempat lain. Mulutnya masih bungkam namun pikirannya terus bermonolog. Tak sadar, beberapa orang sudah meninggalkan tenda orange, hanya tinggal dua orang yang masih belum selesai dengan mangkuk bakso mereka. Beberapa kali Langit menolak pembeli karena bakso yang dibuat sudah ludes terjual.
Langit duduk di depan Bening. "Embak mau di sini sampek penghuni lain berganti menempati tempat ini?" seloroh Langit, membuyarkan lamunan Bening.
"Apa sih?" Bening cuek.
"Ada apa dua jam Mbak nunggu di sini?"
"Emang gak boleh nungguin suami sendiri! Atau ... kamu risih saya tungguin karna gak bisa ganjen sama cewek-cewek yang makan di sini!" sungutnya. "Kamu seneng dikerubungi banyak cewek-cewek gitu?! Biar bisa caper? Ngeselin! Mentang-mentang gak ada istri bisa tebar pesona, sok senyum manis! Seneng juga mereka doain kita putus! Pengen saya potong mulut cewek tadi! Di boncengan Abang aja udah bahagia! Bulsit!" Bening mengomel panjang lebar.
Wajah Langit memerah karena menahan tawa. 'Terkadang dia kejam, tapi lucu juga'
"Uhuk-uhuk ...." Langit pura-pura batuk. "Apa di sini ada yang cemburu, ya? Hawanya panas gitu?" sindir Langit.
Mata Bening melotot. 'Emang aku tadi ngomong apa?'
__ADS_1
"Siapa yang kamu maksud lagi cemburu?"
Langit menghendikan bahu, namun bibirnya tersenyum.
'Dia tuh manis lho kalo gitu' batin Bening melihat Langit tersenyum padanya.
"Bang, yang itu apa pembeli spesial sampek Abang mau ngobrol berdua gitu? Kita jadi ngiri tau, Bang. Tiap hari kesini Abang jarang ngobrol ama kita." Suara protes dari pelanggan yang tersisa.
"Iya Neng, yang ini spesial banget, soalnya kalo gak ditungguin bisa-bisa tenda saya dirubuhin sama dia."
"Reeeeengiiit!"
"Haha ...." Langit justru tertawa melihat Bening kembali marah.
"Wah, iya, Bang, sadis ya. Tadi aja satu botol saus Abang jadi korbannya. Ih ...." Wanita itu bergidik ngeri menatap Bening.
"Heh ... bilang apa kamu! Kamu mau jadi korban kesadisan saya berikutnya, hah?" Bening menyahut botol sambal.
"Waduh, kabur!" Dua wanita itu justru berlari keluar sangking takutnya.
"Mbak! Mbak! Jangan gitu!" Langit menggenggam tangan Bening.
"Bang Lang! Baksonya ngutang! Besok bayarnya kalo psikopat itu udah gak ada!" Terdengar teriakan dari dua wanita tadi.
"Hei, sialan! Kamu yang psikopat! Dasar cewek gila!" Bening berteriak murka.
'Genap seminggu Mbak Bening nungguin aku jualan. Bisa-bisa pelanggan pada kabur, abis itu langsung gulung tikar' Langit menepuk jidat.
Brak ....
Bening menaruh botol sambal dengan gerakan kasar. Da danya naik turun pertanda wanita itu tengah emosi tingkat tinggi.
"Astaga ... sehari di sini udah kayak mau gila!" sungut Bening.
"Embak aja yang kurang sabar," sahut Langit.
"Gimana mau sabar kalo mulut mereka nyablak. Ngomong gak dipikir."
"Kalo Mbak marah terus, bisa-bisa tenda saya beneran roboh."
"Bodo! Biarin aja, biar kamu gak jualan dan gak diganjenin sama mereka! Ngeselin."
__ADS_1
"Cemburu ya, Mbak? Tenang aja Sayang, cinta Abang cuma untuk Embak. Biar tiap hari mereka makan di sini, saya gak akan tergoda."
"Gombal!"