Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Beban


__ADS_3

Sore hari, Langit, Mama Has dan Bening memutuskan kembali ke Jakarta. Awalnya hanya Langit yang bersiap-siap, tapi Mama Has mengikuti Langit untuk pulang sore itu juga.


Keberangkatan yang tadinya hanya bertiga dengan Mang Juri, kini menjadi berempat ditambah dengan Langit.


Bening kesal dan cuek saat mamanya memberi titah untuk duduk di kursi belakang bersama Langit. Wanita itu menjaga jarak dengan sang suami.


"Lang, sampek di Jakarta, rencananya mau gimana?" Mama Has membuka obrolan.


Langit yang sedari tadi fokus pada layar ponsel beralih pada mama mertuanya. "Rencana apa, Ma?" Langit balik bertanya untuk memastikan.


"Maksud Mama, apa kalian udah putusin buat tinggal di mana. Di rumah kami, atau mau ke rumahmu dulu?" jelas Mama Has.


Langit melirik Bening, sedangkan wanita itu juga tengah meliriknya.


"Ma, kita nikahnya di Solo, orang-orang gak ada yang tau. Jadi aku sama Langit masih bisa tinggal terpisah," sahut Bening.


"Eh, kok gitu? Ya gak boleh, dong, Dek. Kalian udah sah menjadi pasangan suami istri. Wajib tinggal satu rumah. Lagian gak ada hubungannya sama orang lain. Entah mereka tau atau gak. Kalian tetap punya kewajiban tinggal bareng!"


"Ma, Bening sama Rengit nikah karna ke greb warga dan kita berdua gak ada rasa cinta sama sekali, masa harus tinggal bareng?" eyel Bening.


"Mama tau, tapikan pernikahan kalian udah ke laksana, masa iya mau bubar padahal baru kemarin kalian nikah. Yang bener aja, Bening! Nikah itu bukan mainan."


Perdebatan kecil tak terelakan antara ibu dan anak itu, Langit yang tadi hanya diam akhirnya ikut bersuara untuk melerai.


Namun, perdebatan itu dimenangkan oleh Mama Has. Bening terpaksa mengikuti perintahnya agar mengizinkan Langit tinggal di rumahnya. Meski begitu, beberapa hari kemudian Bening bergantian ikut ke rumah Langit.

__ADS_1



Sampai di Jakarta sudah tengah malam, Langit tidak kembali ke rumah Mamak, melainkan ikut pulang dulu ke rumah istrinya.


Bening sudah terlelap saat mobil yang dikendarai Mang Juri berhenti di depan rumahnya. Mama Has menyuruh Langit untuk membopong tubuh Bening daripada harus dibangunkan, takut pusing.


Mama Has mengantar Langit sampai di depan kamar Bening, pria yang menahan berat badan Bening itu menyungging senyum saat Mama Has menyuruhnya masuk ke dalam kamar.


Kamar sudah terbuka. Langit menuju ranjang king size dan menurunkan Bening di sana. Pria itu memindai wajah Bening sebentar lalu melihat sudut-sudut kamar. Ukuran yang lumayan besar daripada kamarnya yang ada di rumah Mamak.


Langit ingin menyimpan jepit rambut Bening yang tadinya tak sengaja terlepas. Dia membuka laci atas tapi justru menemukan foto yang membuatnya penasaran. Foto Bening sedang duduk dengan seorang pria tampan yang memiliki kisaran umur lebih tua darinya.


Dalam foto tersebut, Bening nampak bahagia dengan menampilkan senyum manisnya.


Cukup lama Langit memandangi foto itu.


"Ngapain kamu berdiri di situ?"


Suara Bening mengejutkan Langit. "Astaga, Mbak! Ngagetin, deh!" Langit mundur satu langkah dengan memegang dadanya. "Saya cuma mau ngidupin lampu tidur, biar gak terlalu terang," bohong Langit.


Bening yang tadinya menyorot Langit, kini beralih. "Huft ... sampek kapan kamu terus-terusan ngerecokin hidup saya, Rengit!"


Langit duduk di ujung ranjang. Wajahnya nampak biasa, tanpa ada kemarahan atau kesedihan. Pria itu tetap menatap Bening dengan kelembutan.


"Saya kasih tips biar Embak gak uring-uringan terus. Anggap saya teman atau saudara mbak, dengan begitu Mbak gak terbebani dengan kehadiran saya di dekat Mbak." Langit menunduk sebentar untuk menyiapkan kalimatnya lagi. "Walau status saya imam keluarga, tapi saya gak maksa Mbak buat nurut sama suami. Kita jalani takdir ini pelan-pelan. Sulit memang menerima sesuatu yang baru, tapi apa salahnya kita coba. Jika pada akhirnya kita tetap tidak menemukan kecocokan, apa boleh buat ...." Kalimat Langit tidak selesai. Membiarkan Bening menebak sendiri kalimat yang kurang baik untuk disebutkan.

__ADS_1


Dalam hati Bening sedikit besarnya membenarkan ucapan Langit, namun gengsi yang besar sangat sulit untuk ditaklukkan.


"Saya pun cari teman pilih-pilih, gak asal berteman sama siapa saja yang nantinya bisa ngerugiin! Kehadiranmu tetap membuat beban tersendiri bagi saya!"


"Coba pikir, umur kita terpaut 4 tahun. Saya kek nikahin adek sendiri. Belum lagi profesi kamu. Aduh, bikin saya pusing kalo sampek semua teman atau pegawai kantor pada tau. Itu beban besar bagi saya. Kamu gak mikirin itu semua!" Bening memijat-mijat kepalanya pelan.


Langit tersenyum tipis. Pandangannya tetap fokus pada Bening. "Kalo saya, sih, umur gak masalah, Mbak. Toh, di berbagai negara banyak yang nikah dengan umur terpaut jauh. Ada nenek-nenek nikah sama berondong muda berumur belasan tahun. Dan banyak juga yang sebaliknya. Untuk profesi saya ... saya minta maaf. Tapi ya beginilah yang saya jalani. Untuk kebutuhan sehari-hari saya cuma mengandalkan jualan bakso. Tapi saya akan memberikan semua uang jualan untuk Embak. Sebagai nafkah lahir dari saya."


Bening mendekus. "Udah malam, besok pagi saya ada rapat penting di kantor! Jika besok menang tender, saya bisa buka seratus tenda orange seperti punyamu."


"Alhamdulillah, kalo gitu, saya bisa jadi juragan pentolnya, ya, Mbak!" girang Langit.


Bening tersenyum miring. "Terserah. Mau jadi juragan pentolnya atau apapun. Profesi itu cocok denganmu." Bening bersiap tidur kembali. "Pikiran gak bisa maju!" lirihnya yang masih bisa di dengar Langit. Senyum yang tercetak hilang begitu saja berganti embusan napas panjang.


"Kamu tidur paling ujung! Gak boleh lewatin guling pembatas ini! Awas aja kalo berani nyuri kesempatan kayak di rumah Eyang tadi malam! Bakal tanggung akibatnya!" ancam Bening dengan sorot tajamnya.


"Gimana, ya, Mbak? Orang tidur itu biasanya gak sadar. Jadi mana tau kalo lewatin batas apa gak! Gitu harus dihukum? 'Kan aneh!"


"Ya siapa tau aja kamu sengaja mau nyentuh-nyentuh saya pas saya lagi tidur!"


"Enggak, Mbak! Mbak bisa pegang omongan saya ini. Sampai kapanpun saya gak akan nyentuh badan mbak, sebelum meminta izin dan mendapat keikhlasan mbak sendiri. Insyaallah, saya bisa tahan."


"Bener, ya! Saya pegang ucapanmu."


"Silahkan."

__ADS_1


Percakapan mereka usai saat Bening membenarkan selimut dan mulai bersiap tidur. Tapi Langit justru melangkah ke kamar mandi.


Sebenarnya Bening sendiri merasa telah berbicara keterlaluan pada Langit. Tapi lagi-lagi ego masih besar untuk dikalahkan dengan nurani. Ego membenarkan tindakannya, bahwa Langit pantas diperlakukan seperti itu. Karena mereka bersatu secara paksa.


__ADS_2