Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Datang tengah malam


__ADS_3

Tok ... tok ....


Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Langit yang sedang fokus menatap layar laptop. Pria itu memasang telinga agar tidak salah dengar. Di tengok jam di dinding sudah pukul sebelas malam. Merinding, tentu saja. Sedikit lama tidak terdengar lagi, pria itu melanjutkan aktivitasnya.


Tok ... tok ....


"Eh, kedengeran lagi," lirih Langit mengernyit. Dari gorden pintu dia mengintip, sepertinya ruang depan sudah gelap. Mamak pasti sudah tidur.


Tok ... tok ....


Tok... tok ....


Ketukan semakin sering terdengar, takut dan penasaran menyergap Langit. Pria itu bangkit untuk mengetahui siapa yang datang ke rumahnya di jam hampir tengah malam begini. Golongan hantu atau manusia?


Seeettttt ....


Begitu pria itu diambang pintu kamarnya, dia melongok pada jendela samping pintu, ah, bodoh! Tentu saja tidak kelihatan karena tertutup gorden merah rumba-rumba.


Tok ....


"Si-siapa, ya? Han-hantu atau orang?" Dia melakukan tindakan bodoh lagi. Bertanya dengan makhluk yang ada dibalik pintu depan. Tidak ada jawaban. Langit memutar arah dan melesat ke dapur.


Tidak berapa lama telah kembali.


Tok ... tok ... tok ....


Tok ... tok ... tok ....


Ceklek ....


Langit membuka pintu dan melempar satu genggam garam tepat di tubuh Bening. Wanita itu melongo karena terkejut dengan sambutan Langit. Bahkan pria itu sama-sama ikut terkejut.


"Mba-Mbak Be-Bening____"


"Rengit, tengil!!!" Hidung Bening kembang kempis. Gigi-gigi saling beradu seolah siap menerkam pria berwajah pucat itu.


Cetak ....


Lampu utama dinyalakan oleh Mamak. "Siapa yang bertamu tengah malam begini, Lang?" tanyanya. Mamak mendekat dan merasa asing dengan wajah Bening. "Kamu malem-malem dicariin wanita cantik banget. Dia manusia atau ...."


"Ssstttt, Mak. Dia Mbak Bening, Mak. Istri Langit," jawab Langit.


"Oooooooo, dia istrimu, Lang?" Mamak mengamati penampilan Bening. "Cantik banget, ya," puji Mamak. "Tapi mukanya merah gitu kenapa?" Mamak tidak henti bersuara.

__ADS_1


Muka saya merah gara-gara anakmu ini sudah kurang ajar!!! Dasar Rengit!!! batin Bening geram.


Langit memandang kikuk pada Bening, sedangkan wanita itu menyengir paksa ke arah Langit.


"Ayo masuk, Nak!" Mamak mempersilahkan.


Bening tidak lekas masuk, melainkan membersihkan sisa butiran garam yang masih menyangkut di pakaian, bahkan sebagian masuk ke saku kemejanya. Wanita itu mendengus sebal.


"Ma-Maaf," ucap Langit merasa bersalah.


"Maaf-maaf! Apa maksud kamu lemparin garam segini banyaknya ke badan saya?!" tanya Bening dengan intonasi tertahan. Takut Mamak dengar.


Langit menyengir. "Saya kira_____" Tidak melanjutkan kalimatnya takut Bening semakin murka.


"Apa?! Kamu kira saya kuntimanak! Hah!"


Langit beralih mengusap tengkuk. "Hi ... hi ... ya, maaf. Abisnya, tengah malam begini siapa lagi yang bertamu ke rumah orang kalo bukan sebangsa begituan."


"Malah ngobrol di pintu. Ajak masuk istrimu, Lang!" ujar Mamak sudah kembali membawa secangkir teh.


"Ayo Mbak, masuk!"


Bening mengikuti langkah Langit duduk di sofa.


Bening melirik. Kamu gak tau perjuanganku sampek sini, ini malah di sambut begini! Tau gini, nyesel ikutin saran Mama.


"Cuma jalan-jalan aja!" ketus Bening dengan rotasi mata jengah.


"Tengah malem gini jalan-jalan?!" bingung Langit.


"Kalian ini lucu." Mamak justru tertawa melihat interaksi keduanya. Usai mengganti mimik wajah dengan serius, Mamak berkata. "Nak Bening belain ke sini karna nyusul Langit, kan? Mamak tadi udah nyuruh dia pulang ke rumahmu, tapi dia gak mau. Takut ganggu Nak Bening yang katanya lagi banyak kerjaan. Tinggal masing-masing begini juga atas persetujuan kalian berdua. Jadi, Mamak gak bisa paksa Langit pulang ke rumah Nak Bening."


"Iya, Bu. Tadinya kami sepakat buat tinggal terpisah untuk sementara waktu. Tapi Mama gak setuju. Makanya tengah malam gini, Bening ke sini. Maaf ya Bu, kalo kedatangan saya mengganggu," ujar Bening.


"Gak apa, Nak. Mamak seneng Nak Bening mau nginep di sini biar Langit gak suka begadang."


Bening melirik pria di sampingnya yang terlihat bingung. "Jadi, Mbak Bening mau nginep di sini?" ulang Langit.


"Kamu budek apa gimana, sih?! Kan tadi saya udah bilang gitu!" jawab Bening lirih dengan mendekatkan wajahnya di telinga Langit. Pria itu sampai bergidik.


"Tidur sama Mamak atau____"


"Ya tidur sama kamulah, Lang! Kamu ini gimana!" sahut Mamak yang mendengar kalimat Langit.

__ADS_1


"Tapi, Mak. Kamar Langit sempit, nanti Mbak Bening tidur di mana?"


"Sempit juga gak apa. Kalian udah pasangan suami istri."


"Ish ... Mamak ini! Bukan itu maksud Langit, Mak."


"Dah malem, ajak istrimu masuk kamar. Kasihan nanti masuk angin."


"Mang Juri gak ikut nginep, Mbak?" Langit justru bertanya tentang Mang Juri.


"Enggak. Dia udah pulang."


"Lang, Nak Bening, Mamak masuk duluan, ya," pamit Mamak.


"Iya, Bu."


Kini di ruang depan hanya ada Bening dan Langit, keduanya diam sebelum Langit ijin masuk ke kamar sebentar.


"Aku harus cepat membereskan barang-barangku," ucap Langit. Tangannya cekatan menyimpan laptop dan iPad. Baju kotor yang belum sempat dibawa ke kamar mandi tidak luput dibereskan.


Saat mendekap baju kotor, Langit dikejutkan dengan sosok Bening yang sudah berdiri di kusen pintu kamar, tengah mengamati kegiatannya.


Pluk ....


Kain segitiga berwarna orange jatuh mengenai kaki Langit. Bening melotot sama halnya dengan Langit. Omegat. Secepat kilat Langit menunduk dan mengambil kain keramat itu.


Sesaat kemudian Bening tersenyum tipis dan membuang pandangan ke segala arah untuk mengamati kamar persegi yang berukuran 4x3 meter.


Lumayan rapi. Lemari kayu kecil terletak di sudut ruangan dan diatasnya ada tumpukan buku. Samping tempat tidur ada meja dan kursi. Di dinding yang menghadap matahari terbit terdapat jendela kecil tertutup gorden merah rumba-rumba. Dan, ranjang kecil itu diisi busa tipis dengan sprei berwarna buluk. Ah, sama seperti orangnya kalo pas lagi jualan bakso.


Di dinding tepat di atas kepala ranjang ada kipas angin yang tertempel di sana.


"Saya ke belakang dulu, Mbak," pamit Langit dengan membawa baju kotornya.


Setelah Langit pergi, Bening ragu-ragu melangkah lebih dalam. Bisakah malam ini tidur di kamar yang lebih mirip kamar pembantu. Eh, tidak! Bahkan kamar pembantu di rumahnya lebih mewah dari ini.


Bening duduk di ranjang. Terasa keras saat pantatnya menyentuh busa kasur yang sudah tipis. Menelan ludah susah payah, benar-benar tidak menyangka malam ini harus tidur di kamar seperti ini.


Langit kembali dengan tas ransel kecil milik Bening yang tadi tergeletak di sofa, juga membawa potongan kardus.


Tatapan Bening tertuju pada kardus persegi, bertanya-tanya untuk apa kardus itu.


Langit yang mengetahui tatapan Bening langsung menjawab pertanyaan yang ada di benak wanita itu. "Buat kipasan. Kipas angin di atas itu rusak, kemarin belum sempet benerin. Takut Mbak kepanasan, makanya saya siapin potongan kardus ini buat ciptain kipas alami."

__ADS_1


__ADS_2