
Menaiki ojek, Langit memilih pulang ke rumah Mamak. Berada di rumah sakit takut membuat emosi Bening tak terkontrol lagi. Apalagi mengingat tatapan benci yang ditunjukan wanita itu begitu dalam menyakiti hati Langit.
"Lang, ini masih siang, kamu udah pulang?" tanya Mamak dengan membawa segelas air putih yang diberikan pada Langit.
"Lang pengen istirahat, Mak." Wajah Langit terlihat lesu. Dia mengambil air itu dan meminumnya sampai tandas. Setelah itu Langit bangkit menuju kamarnya.
Mamak mengangguk. Dia mengira Langit kelelahan dengan jadwal kerjanya yang padat. Mamak duduk di sofa dengan tatapan menerawang.
"Pa, besok kalau Arga besar, Arga mau cari uang yang banyak buat Papa, Mama, dan Bibik Rohmah."
"Ough, pintarnya jagoan Papa. Kamu mau kerja di mana?"
"Arga mau kerja di Perancis buat banyak mobil balap."
"Kenapa tidak kerja di Jerman dengan Papa?"
"Nggak mau! Arga mau kerja sendiri." Anak kecil yang ada dipangkuan ayahnya itu bersedekap dada. Membuat pria berumur 40-an itu terkekeh geli.
Air mata Mamak lolos begitu saja. Terlalu banyak kenangan yang masih diingat sampai sekarang. Alih-alih kerja di Perancis seperti keinginan anak laki-laki itu, sekarang justru hanya sebagai penjualan bakso. Mamak terisak, tapi Mamak sangat bangga dengan pria berumur hampir 25 tahun itu. Dia begitu tegar menjalani pahitnya kehidupan.
Langit mengganti pakaian dan mencoba memejamkan mata, dia ingin istirahat sebentar untuk memulihkan pikirannya.
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam. Mari, silahkan masuk!" Mamak menyuruh Mama Has masuk ke rumah.
"Ada apa, Bu? Tumben."
"Nak Langit, ada, Mak?"
"Ada. Sepertinya Lang lagi tidur. Dia terlihat kelelahan, makanya Mamak tidak suruh dia kembali ke kantor. Biar besok saja berangkat kerjanya."
Mama Has mengangguk. Perempuan paruh baya itu mulai menceritakan kehamilan Bening juga penolakannya terhadap bayinya sendiri. Semua yang diceritakan, membuat Mamak terkejut.
"Astagfirullah, pantas saja waktu pulang tadi Langit terlihat sedih," ucap Mamak.
__ADS_1
"Ma." Langit keluar dari kamar, memang sedari tadi dia tidak bisa tidur.
"Lang ...."
Langit duduk di sofa seberang. "Mama ke sini, Mbak Bening sama siapa, Ma?"
Bagaimanapun, dia tetap seorang suami yang mengkhawatirkan istrinya. Andai Bening tidak membenci keberadaanya, dia tidak akan meninggalkan perempuan itu barang sedetikpun. Namun, sementara waktu dia harus menjauh sampai Bening bisa tenang dan berpikir positif.
"Dia masih dalam pengaruh obat penenang. Dia akan baik-baik saja. Mama sudah mengabari Eyang Putri, Beliau sedang di perjalanan. Dan mungkin akan langsung ke rumah sakit. Makanya Mama tenang ninggalin dia. Tapi ... Mama justru khawatir dengan kamu, Lang."
Langit tersenyum. "Langit baik-baik saja, Ma. Justru yang harus dikhawatirkan adalah keadaan Mbak Bening."
"Mama tau, tapi Mama juga tau keadaanmu saat ini. Kamu pasti sakit hati dan kecewa dengan keegoisan sikap Bening."
"Lang, kamu pria baik, bahkan sangat baik. Mama setuju dan sangat senang waktu kamu berjodoh dengan Bening, dia perempuan yang tidak mudah ditakhlukan. Meski awalnya dia tidak suka denganmu, tapi berkat kesabaranmu, kamu mampu meraih hatinya."
"Lang, untuk kali ini, Mama mohon, bersikaplah seperti itu lagi. Bersabarlah menghadapi keegoisan Bening. Bukan, bukan karena Mama membela anak Mama yang bersikap salah. Bukan! Bukan seperti itu. Hanya saja, Mama minta pengertian kamu, kita tahu bagaimana keadaan Bening, dia mungkin terlalu syok menerima keadaan yang tidak diinginkan. Pelan-pelan kita beri dia pengertian, Mama percaya kalau kali ini kamu juga akan berhasil untuk meyakinkan dia lagi."
"Sekarang yang utama kita pikirkan kesehatan Bening juga calon anakmu. Kita cari cara supaya Bening mau menerima calon anaknya. Mama paham kamu pasti kecewa dengan perkataan Bening, tapi Mama yakin Bening tidak sejahat itu membunuh anaknya sendiri. Dia butuh waktu untuk berpikir. Dan Mama harap kamu jangan terlalu ambil hati perkataanya."
"Semua bukan kesalahanmu, Lang. Semua sudah takdir dari Tuhan. Harusnya kita bersyukur, tapi entahlah dengan Bening, mungkin karena dia belum siap, makanya belum bisa menerima kehamilannya sendiri. Untuk itu, Mama mohon kamu bersabar, ya. Kita coba beri pemahaman sedikit-sedikit."
"Iya, Ma. Insyaallah, Langit bisa sabar dan bisa mengerti keadaan Mbak Bening."
"Jangan tinggalkan dia disaat seperti ini, ya, Lang. Walau dia marah, tolong tetap dampingi dia. Mama tau Bening sangat mencintaimu."
'Kalau Mbak Bening mencintaiku, harusnya dia juga mencintai calon anakku.'
•
Sore hari Langit kembali ke rumah sakit. Apa yang dilakukan pria itu, dia hanya duduk di kursi tunggu. Lalu bangkit untuk mengintip keadaan Bening. Dia merasa lega jika Bening terlihat tidur. Di dalam ruangan ada Eyang Putri dan Mama Has, sedangkan pakde dan bude yang tadi mengantar Eyang sudah kembali ke Solo.
Mama Has terlihat keluar. Dia terkejut melihat Langit duduk di luar. "Lang, kamu sudah datang? Kenapa nggak masuk?"
"Enggak, Ma. Langit di sini aja."
__ADS_1
Mama Has duduk di samping Langit. "Jangan takut sama istrimu, kamu pasti sudah tau bagaimana meluluhkan sikapnya."
"Ini bukan keadaan yang mudah, Ma. Langit gak mau cepet-cepet ketemu, takut keadaanya seperti tadi. Kalau Mbak Bening nanyain Langit, Langit baru berani temuin dia."
"Dari tadi dia nanyain kamu, Lang."
Langit diam, kurang yakin jika Bening menanyakan keberadaanya. Dia tahu Mama Has sedang berbohong demi membuat hatinya lega. Terlihat dari wajahnya yang terlihat gugup.
"Apa Mbak Bening mau makan?"
Mama Has menggeleng. "Mama nggak paksa kamu masuk, tapi, Mama mohon tetap di sini, ya."
"Iya, Ma."
~
Berjam-jam Langit menunggui Bening di depan ruang rawatnya, saat dokter selesai memeriksa, dia akan mencegat dan menanyai keadaan istrinya. Dia sangat khawatir, apakah kondisi Bening sudah membaik atau masih mengkhawatirkan.
"Kondisinya lumayan membaik, tapi kami harus tetap memantau, saat ini pikirannya masih sangat labil, kita takut dia akan berbuat nekad."
Penjelasan dokter membuat Langit kembali melemas, dia mengembus napas panjang dan memejamkan mata.
"Lang."
"Ma."
"Dia sudah tidur. Kamu masuk saja!" perintah Mama Has.
"Tapi, Ma?" Langit terlihat ragu.
"Kamu juga butuh waktu dengan Adek."
Langit mengangguk, dia berjalan sangat pelan karena takut pergerakan sendal jepitnya akan dengar oleh Bening dan membuat perempuan itu terbangun.
Duduk di kursi dengan pandangan mengarah lekat ke wajah Bening. Beberapa saat pandangan itu beralih pada perut Bening yang datar seperti biasanya. Namun, di dalam perut itu sudah ada hasil buah cinta mereka.
__ADS_1
"Maafin saya, Mbak," ucap Langit sangat lirih.