
Langit melihat diri sendiri, merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya. Pria itu mendongak. "Baju saya emang semuanya seperti ini, Mbak. Saya gak punya pakaian formal kek mereka," ujarnya tanpa marah. Dia memang tidak menyalahkan Bening karena kalimat kurang pantas dari wanita itu. Hanya saja, ada kekecewaan yang disimpannya.
"Waktu datang ke acara reuni kamu punya baju bagus 'kan?"
"Itu baju cuma nyewa, Mbak. Udah saya kembaliin sama tukang loundrynya."
Bibir kanan Bening terangkat sebelah, membuang pandangan ke segala arah. Kemarahan masih tercetak jelas diraut wajahnya.
"Aturan kamu gak usah dateng nganter berkas, malu-maluin aja. Untung mereka gak tau siapa kamu. Bisa aja status saya jadi bulanan karyawan sendiri!" dengkus Bening tidak suka.
Langit diam. Sekali lagi menahan kekecewaan atas lontaran kalimat Bening. Entah sadar atau tidak, kalimat itu seperti merendahkan derajatnya. Tidak bisakah wanita yang menjadi istrinya itu menghargai keberadaannya.
"Maaf. Tadi Mama yang nyuruh saya anter. Saya juga belum sempat pulang, jadi cuma pakek baju seadanya." Akhirnya Langit memilih mengalah, dia meminta maaf meski tidak bersalah. Bahkan harusnya Bening yang mengucap terima kasih atas bantuannya. Namun, alih mendapat terima kasih, justru menerima kalimat hinaan.
"Udah, pulang sana! Dua puluh menit lagi meting dimulai. Gak ada guna debat sama kamu. Capek doang! Besok-besok gak usah dateng lagi ke sini. Malu-maluin!" usir Bening.
Langit mengangguk dan menatap wanita di depannya sebentar. Jangankan di suguhi air minum, bahkan dia tidak ditawari duduk. Wanita itu melengos tanpa mau melihatnya. 'Apa segitu buruk penampilannya?'
"Apalagi?" tanya Bening melihat Langit tak kunjung beranjak keluar.
"Nanti saya pulang ke rumah mbaknya tengah malam. Saya mau racik dagangan sama jagain Mamak. Linu-linu di kakinya kambuh, Mamak gak bisa bantuin saya," terang Langit meminta izin.
"Eh, dengerin, nih. Mau pulang tengah malem kek, mau enggak pulang kek, ya, bodo' amat! Malah gak pulang juga gak apa! Gak peduli. Kalo bukan karna Mama, saya juga males tinggal bareng sama kamu!" tuding Bening.
Langit bernapas panjang, meredam gejolak hati yang harus ditahan. "Baik, Mbak. Saya pulang," pamit Langit dan keluar dari ruangan Bening.
Wanita yang mengenakan pakaian staylis itu mengurut dahi dengan pelan. Kedatangan Langit membuat mood paginya hancur. Namun, selepas kepergian Langit, ada sesuatu yang mengusik hatinya. Dia lirik berkas yang ada meja. Muncul setitik rasa bersalah telah memarahi pria itu, tapi segera dia tepis begitu saja agar tidak berkepanjangan dan harinya semakin buruk.
Bening berusaha tidak memusingkan sikapnya tadi, dia menyahut berkas untuk dibawa ke ruang meting.
__ADS_1
•
"Lang, kamu udah pulang?"
"Gimana, kaki Mamak? Masih linu?" Langit tidak menjawab pertanyaan Mamak, justru khawatir menanyakan keadaannya.
"Lumayan. Mamak dari tadi cuma duduk aja. Mau goreng bawang merah gak jadi."
"Gak usah mikirin itu, Mak. Langit udah pulang, biar Langit aja yang siapin bahan jualan."
"Gimana kemarin?"
"Tenang aja, Mak. Semua baik-baik aja." Langit tahu pertanyaan Mamak menjurus kemana. Pria itu menunjukan sikap tenangnya, dengan memandang lembut mata Mamak. "Mamak ke rumah sakit? Biar Langit anter!"
"Kamu baru pulang, pasti capek. Kaki Mamak udah gak pa-pa. Si Murti udah nebusin obat, kamu gak usah khawatir." Mamak menepuk punggung Langit pelan. "Ohya, Mamak lupa!!!" pekiknya tertahan. "Ini hal penting kenapa malah sampek lupa? Mamakmu ini benar-benar udah tua. Udah pikun juga." Mamak langsung terkekeh kecil.
Pertanyaan Mamak membuat Langit menunduk. Istri? Sayangnya istriku gak mungkin mau diajak pulang kesini, Mak. Batinnya.
"Dia lagi kerja, Mak. Dia 'kan bos besar, jadi sulit buat luangin waktu." Pria itu menyandarkan kepala belakang di sandaran sofa, tangannya menekuk dan dibuat untuk bantalan. Mata Langit memandangi genting rumah dengan sebagian terdapat jaring laba-laba. Rumah kuno yang ditinggali bersama Mamak sudah lebih 5 tahun belakangan ini.
"Mak, gimana, ya?" tanya Langit tiba-tiba. Wajahnya terlihat bingung.
"Gimana apanya?" Mamak balik bertanya. Pertanyaan Langit ambigu, dia tidak bisa menebak kemana arah pertanyaan itu.
"Mbak Bening udah pasti gak mau tinggal di sini, kalo aku terus yang nginap di sana ... terus gimana sama Mamak?"
"Kamu gak usah bingung, Lang! Mamak gak apa. Kamu lupa, pas kamu pergi kayak kemarin Mamak sering dirumah sendirian. Nih, buktinya Mamak gak apa, paling cuma linunya aja yang kambuh."
"Apa Langit tetap tinggal disini, Mbak Bening juga tinggal dirumahnya?"
__ADS_1
"Lho, ya, gak bisa gitu! Kamu ini ada-ada aja. Suami istri gak boleh tinggal kepisah, kecuali ada alasan khusus dan telah disetujui belah pihak."
"Tapi, Mak. Mbak Bening juga setuju, kok, misal Langit tetap tinggal dirumah ini."
"Nanti keluargamu jauh dari harmonis. Lagian, dalam rumah tangga ada hak dan kewajiban yang harus dijalankan. Bagaimana kalian akan menjalankan itu semua kalo tinggal terpisah? Keduanya mendapat pahala, tapi jangan sampek malah jadi dosa karna gak dilakuin." Mamak memberi wejangan.
Langit juga tau, Mak. Tapi gimana lagi kalo Mbak Bening gak mau. Langit gak ngerti pernikahan seperti apa ini?
•
"Bang, keknya hari ini kurang sumringah. Ge ada masalah, ya?" tanya salah satu pembeli.
"Neng ini sok tau! Saya biasa aja," jawab Langit menebar senyum. Itu yang selalu dia lakukan untuk melayani pembeli. Harus ramah dan tidak lupa tebar senyum.
"Berapa hari Abang gak mangkal, tiap pulang kerja kek ada yang kurang, gitu, Bang. Pentol bakso sama penjualnya ngangenin. Hi hi ...." Wanita itu terkikik geli.
"Waduh, kangen pentol baksonya boleh, kalo penjualnya jangan!"
"Emang kenapa, Bang? Padahal penjualnya itu yang lebih ngangenin." Wanita yang dari tadi menggoda dengan candaannya juga terlihat cantik. Meski begitu, tak sedikitpun membuat Langit meliriknya. Senyum yang tersungging memang milik semua wanita, tapi tidak dengan hatinya.
•
Jam menunjukan pukul 11 malam, tapi tak sedikitpun pikiran Bening mau meninggalkan urusan dunia nyata.
Sejak menikah dengan tukang bakso itu, ego dan nuraninya sering melakukan pergolakan. Seperti malam ini, nuraninya sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Langit sampai semalam ini belum pulang. Tapi ego mencegahnya untuk diam dan tidak peduli.
Wanita itu krusak-krusuk di bawah bad cover, berbagai gaya tidur sudah dicoba, berharap matanya bisa terpejam tapi nihil. Dia dihantui rasa bersalah atas kejadian di kantor tadi. Apa saat ini Langit marah padanya? Dia pun mengakui jika kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya tadi memang keterlaluan, seolah menghina Langit. Padahal berkat pria itu, meting pagi tadi berjalan lancar dan dia bisa memenangkan tender.
Tidak ada yang tahu jika sesungguhnya hati Bening pun kebingungan. Terkadang benci dengan kehadiran pria itu, tapi rasanya ada yang kurang saat pria itu tak ada.
__ADS_1