
Pagi hari saatnya kunjungan dokter dan perawat untuk memeriksa keadaan pasiennya. Tak terkecuali juga dengan Bening dan Langit yang harus mereka pantau kondisinya.
Perawat membawa map berisi hasil pemeriksaan kondisi mata Bening. Yah ... hari ini hasil itu sudah keluar dan akan mereka jelaskan pada yang bersangkutan.
"Selamat pagi."
"Pagi, Dok." Mama Has yang baru dari kamar mandi menjawab ucapan dokter. Tepat saat itu ternyata Mamak dan Kasep turut muncul di belakang dokter. Keduanya ikut masuk dan berdiri di samping brankar Langit.
"Kamu sudah enakan, Lang?" tanya Mamak lirih.
"Saya periksa Mas Langit dulu, ya. Nona Bening sepertinya sedang tidur," kata Dokter.
"Iya, Dok," jawab Langit.
Dokter memeriksa kondisi Langit, detak jantung, tekanan darah, menanyai keluhan yang dirasa. Langit menjawab jujur, mana saja yang keluhkan.
"Kondisi Mas Langit lumayan membaik, tapi untuk paru-paru yang bocor harus segera di upayakan, ya, Mas. Saya takut cairan paru-paru akan segera menyebar dan semakin mempersulit pernapasan dan bisa berakibat fatal."
"Dok, bagaimana untuk menanganinya?" Mama Has mendekat dan ikut andil menanyakan penanganan untuk Langit.
"Saya sudah menyarankan untuk segera tindakan operasi, tapi Mas Langit belum menyetujui."
"Benar itu, Lang?" Mama Has beralih menanyai Langit. Pria itu nampak enggan menjawab. Melihat raut Langit demikian, Mama Has hanya menebak jika Langit belum menyetujui karena alasan tentang biaya. Padahal Mama Has telah menganggap Langit sebagai anaknya sendiri, dia tidak akan tega membiarkan Langit dalam keadaan begitu saja.
"Dok, berapa biaya untuk operasi paru-paru Langit?"
"Ma!" Langit memanggil. Tentu saja tidak setuju Mama Has menanyakan biaya operasi yang pastinya sangat mahal. Dia tidak ingin merepotkan dan tidak ingin istrinya semakin murka jika semua biaya rumah sakit ditanggung keluarga Bening. Sungguh, keberadaanya akan semakin direndahkan.
"Berapa, Dok?" Mama Has tidak menanggapi panggilan Langit. Tetap mengejar penjelasan dokter tentang biaya operasi.
__ADS_1
"Untuk operasi saja membutuhkan biaya sekitar 250 juta."
Semua yang ada di ruangan itu terkesiap. Jumlah angka yang benar-benar fantastis. "Itu hanya operasi saja, Dok?" Mama Has memastikan.
"Iya, Nyonya. Dan kami akan kabarkan juga untuk operasi donor mata Nona Bening___," ucapan Dokter dipotong oleh Mama Has.
"Putriku harus operasi lagi, Dok?" Perempuan paruh baya itu sampai kepayahan untuk menyangga tubuhnya. Terhenyak menerima kenyataan berat secara berturut-turut.
"Saraf Nona Bening terkena dampak benturan sangat keras, kami berusaha memperbaiki jaringan saraf matanya supaya bisa berfungsi kembali. Untuk sarafnya masih bisa kita beri penanganan lewat obat, tapi untuk kornea mata harus mendapat pendonor, jika tidak, kemungkinan Nona Bening tidak akan melihat seumur hidupnya."
"Apa?" pekik Bening mengejutkan semuanya. "Aaahkhh ...!!" Dia berteriak dengan tangisannya.
"Adek!" Mama Has menghampiri dan merengkuh Bening.
"Bening gak mau buta selamanya, Ma. Kalau Bening gak bisa melihat lagi, lebih baik Bening pergi menyusul anakku!"
"Cari pendonor itu gak gampang, Ma. Siapa yang mau menggantikan posisiku? Gak ada? Gak akan ada yang mau!" Pergerakan Bening melemah. Kini hanya isak tangis yang terdengar memilukan.
~
Bening memposisikan wajahnya membelakangi Langit, meski dia tidak bisa lagi melihat ketampanan wajah suaminya, tapi rasanya malas berdekatan dengan pria itu. Dia belum bisa menerima posisinya sekarang, buta untuk waktu yang tidak bisa ditentukan, dia hanya bisa berharap ada pendonor yang cocok dan mau mendonorkan mata untuk dirinya.
"Nak Bening, bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" Baru beberapa detik Mamak duduk di kursi samping Bening.
"Gak akan membaik sebelum mataku bisa melihat lagi, Mak."
Mamak mengelus punggung tangan Bening. "Yang sabar, ya, Nak. Jangan berhenti berdoa, Allah, akan mengabulkan doa yang meminta dengan sungguh-sungguh."
"Lang, Mama bisa mengusahakan biaya operasimu." Mama Has memang bertukar posisi dengan Mamak.
__ADS_1
"Enggak, Ma. Demi Allah, Langit gak akan mau. Biarkan seperti ini. Langit akan mengusahakan untuk kesembuhanku sendiri." Langit menolak dengan tegas.
"Tapi, Lang. Kamu dengarkan tadi penjelasan dokter seperti apa. Jika terlalu lama dibiarkan, takutnya akan bertambah parah."
"Ma, dia itu laki-laki, dia suamiku, harusnya dia yang membiayai semuanya, bukan kita," sela Bening yang bisa mendengar percakapan mereka.
"Adek! Gak pantes kamu ngomong begitu," sentak Mama Has yang tidak menyangka jika Bening berkata demikian.
"Ma, istriku benar. Harusnya aku yang menanggung biaya semuanya." Langit kembali bersuara.
"Lang, jangan dengarkan. Ini kalian hanya salah paham. Dengar, kalian berdua, dalam rumah tangga tidak ada aku dan kamu, kalian sudah menjadi kami. Semua yang terjadi harus dihadapi bersama-sama. Apalagi untuk masalah uang, jangan punya pemikiran seperti itu. Semua hasil akan dianggap milik bersama."
"Uang bersama? Apa dia ikut mengumpulkan? Semua mutlak uang Bening, Ma!"
"Adek! Astagfirullah, Mama gak tahu bagaimana Mama dan Almarhum papamu dulu mendidikmu. Kami gagal mendidikmu. Bukan hanya Mama, Papa juga akan sedih melihat kamu menjadi perempuan arogan dan sombong."
"Jangan keterlaluan dengan suamimu sendiri! Dia orang pertama yang harus kamu hargai," timpal Mama Has, bukan niat Mama Has untuk memperkeruh keadaan, tapi baginya sikap Bening sudah sangat kelewat batas.
"Ma, tolong jangan berantem sama istriku. Dia butuh istirahat," lerai Langit dengan menahan segala kesakitan dan kekecewaan. Apakah dia harus keluar dari zona yang selama ini dipertahankan atau harus ....
"Tidak tahu kamu memiliki berapa banyak kesabaran, Lang. Mama minta maaf untuk perkataan anak mama tadi." Mama Has justru malu dan sangat sungkan terhadap Langit.
"Mama gak perlu minta maaf. Semua ini terjadi gara-gara dia!" Bening masih saja bersuara menyalahkan dan menyakiti Langit. Dia sama sekali tidak menggubris kepedulian suaminya.
"Dia yang salah! Penyebab kecelakaan itu karna dia. Dia membuat aku kehilangan bayi sekaligus penglihatanku! Dia itu pantas disalahkan."
"Enggak! Mama gak membenarkan ucapanmu! Bahkan menurut Mama semua yang terjadi juga karna salahmu. Kamu gak pernah berhati-hati dalam berucap. Kamu dulu menolak calon anakmu kamu selalu ingin dia pergi, mungkin saja Tuhan mengabulkan ucapanmu waktu itu."
"Keberadaan Langit, suamimu sendiri gak pernah kamu lihat. Kamu selalu semaunya sendiri. Ini teguran, Dek. Harusnya kamu bisa merenungi dan memperbaiki keadaan, bukan memperburuk. Kalian butuh saling support, bukan justru menyalahkan. Tuhan selalu ada, Dek. Tuhan selalu mengawasi semua sikap kita. Jika kamu mencoba ikhlas menerima ujian ini, Tuhan akan mengeluarkan dari kesulitan."
__ADS_1