Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Satu Permintaan


__ADS_3

Menempuh perjalanan panjang nan melelahkan. Akhirnya Langit dan Bening sudah sampai di kepulauan Raja Ampat. Tour guide menunggu mereka di Bandara Udara Marinda, setelah bertemu mengajak mereka ke tempat penginapan.


Salsa, gadis cantik dengan rambut ikal sebahu yang akan menjadi tour guide Langit dan Bening. Tak ada pilihan lain, hanya gadis yang masih berstatus kuliah itu yang bersedia menjadi penunjuk jalan karena tour guide lainnya telah diboking lebih dulu.


"Kak, perkenalkan nama saya Salsa," gadis itu tersenyum manis melihat ke arah Langit dan Bening bergantian. Mereka telah sampai di penginapan sederhana namun dengan pemandangan luar biasa. Ketika mata memandang keluar akan langsung disuguhkan dengan laut lepas. Laut biru dengan pasir putih disepanjang pinggiran pantai. Sungguh pemandangan menakjubkan. Sejuk dan mendamaikan jiwa.


Langit dan Bening menjabat tangan Salsa.


"Langit."


"Bening."


Memperkenalkan diri masing-masing.


"Wah ... namanya unik. Apa artinya, Langit yang Bening, gitu kali ya?" seloroh Salsa dengan kekehannya. Terlihat dia gadis periang dan sangat ramah.


"Kak, selama seminggu ini saya yang akan menunjukan tempat-tempat indah, juga bertanggung jawab memenuhi kebutuhan Kakak. Seperti jika ada sesuatu, Kak Langit dan Kak Bening bisa langsung panggil saya."


"Iya, Salsa. Makasih." Bening tersenyum singkat.


"Kakak hari ini mau langsung jalan-jalan atau istirahat dulu?"


Bening melihat Langit, pria itu menghendikan bahu. Seolah pasrah mengikuti keputusan sang istri.


"Kayaknya istirahat dulu, ya. Badan capek banget," kata Bening. Dan Langit segera mengangguk menyetujui.


"Baiklah, kalau begitu saya langsung pamit dulu. Jika ada apa-apa Kakak boleh telpon ke nomer saya." Gadis mengenakan kemeja flanel itu memberi selembar kartu nama lengkap dengan nomor telepon.


Bening menerima dan mengangguk. "Iya, nanti kalo butuh bantuan saya langsung telpon kamu."


"Saya permisi." Salsa berjalan keluar. Setelah tak terlihat lagi, Bening menyikut perut Langit.


"Astaga ...." Langit terkejut dan memegangi perutnya yang terkena sikutan. "Kenapa sih, Mbak?"


Bening cemberut. "Kamu seneng kan, tour guide kita cewek muda masih cantik gitu! Ngeliatinnya gak kedip-kedip!" Bening bersedekap dada.


"Oh ... ceritanya ada yang lagi cemburu nih?" Langit berseloroh dengan senyum lebar.


Bening mengangkat sebelah sudut bibirnya juga memutar bola mata, jengah. "Idih, siapa yang cemburu. Gak selevel sama gadis ingusan gitu," sungutnya bertambah cemberut.


Langit membiarkan tas-tas berserak di lantai. Pria itu tiba-tiba mengangkat tubuh Bening dengan gerakan cepat.


"Rengit! Au'!" pekik Bening sangat terkejut. Tangannya melingkar erat di leher pria tampan itu.

__ADS_1


"Haha ...." Langit justru tertawa keras.


"Hei, kamu ini! Turunin!" pinta Bening.


"Nanti saya turunin, tapi nunggu sampek di kamar."


"Kamu ini, ini masih sore!"


"Gak ada larangan sore hari belah duren! Sekarang belah duren, ntar malem bonusnya."


"Hei, sausnya belum hilang tau!"


Langit menjatuhkan Bening di atas kasur. "Masa belum ilang, Mbak? Bukannya udah seminggu?" Pria itu berganti menjatuhkan kepala di atas da da Bening.


Bening berbalik terkekeh. "Ya gak tau!" jawabnya santai.


Langit mendongak dan mengerling. "Tenang ...."


"Rengit, stop! Jangan suruh saya itu!" Bening memotong cepat. "Kamu gak kasihan, nyuruh saya makan pentol segitu gedenya hampir tiap hari!"


"Bhuhahaha ...." Asli. Kali ini Langit terbahak-bahak dengan memegangi perutnya.


"Enak di kamu gak enak di saya! Kamu merem melek, saya yang melotot-melotot! Kayak makan timun tapi gak bisa dikunyah! Menyebalkan."


"Ketawa terus!" sungut Bening.


"Lucu lucu! Bagian mananya yang lucu!" galaknya.


Langit bangkit dan berpindah tidur di samping sisi Bening. Pria itu menyangga kepala dan menatap lekat pada wanita yang lebih tua darinya.


"Embak."


"Hem."


"Embak udah siap jika hamil anak saya?"


Deg .... Bening langsung menoleh. Terlihat berat untuk membuka mulut.


"Kalo gak siap nyerahin sesuatu yang berharga untuk saya, saya gak apa kok."


"Ssstttt!" Bening menutup mulut Langit dengan jari telunjuknya. Tapi pria itu menyingkirkan.


"Jika Embak belum siap. Dan gak mau punya anak dari tukang bakso ini, gak apa."

__ADS_1


"Rengit!" Bening menyorot serius. Tak menyukai kata demi kata yang keluar dari mulut pria itu.


"Kenapa kamu menanyakan ini? Apa kamu gak percaya kalo saya udah cinta sama kamu? Ya ... gak mengherankan kalo kamu ragu. Memang sebelumnya saya gak suka dan selalu ngerendahin kamu. Maka dari itu, kamu sendiri sulit percaya gitu aja. Tapi, setiap orang bisa saja berubah. Dan, saya udah berubah."


"Bukan gitu, Mbak. Saya percaya Mbak berubah. Saya bisa liat itu dari mata Embak."


"Elah, bohong aja. Mana bisa cuma liat dari mata aja," sahut Bening cepat, yang membuat Langit terkekeh.


"Kalo untuk itu ... saya pasti akan berikan seutuhnya untuk kamu. Tapi belum sekarang, kamu tau sendiri saya masih haram untuk kamu sentuh. Setelah saya bersuci, saya akan memberikan hakmu," tambah Bening.


Langit memindai wajah Bening, wanita yang dulu sangat tak suka akan kehadirannya, juga sering merendahkan profesinya kini benar-benar berubah. 'Saya janji akan selalu mencintai, Embak.' Pria itu tersenyum lembut.


"Rengit! Tapi saya ada satu permintaan, apa kamu akan menyetujui?"


Langit mengerutkan dahi. "Permintaan apa, Mbak?"


"Apa kamu sangat menginginkan anak?"


Deg ....


Langit membeku. Pikirannya mulai menerka-nerka hal yang tak diinginkan. Sejatinya setiap rumah tangga pasti menginginkan keturunan, lalu ... apa wanita yang menjadi isterinya itu tak ingin mengandung benihnya?


"Jawab!" Bening menatap serius.


"Anak adalah anugerah besar. Gak bisa diminta dan gak bisa ditolak kehadirannya. Kalo Embak menanyakan itu, tentu aja saya sangat menginginkan anak dari pernikahan kita."


Bening mengangguk dan mengembus panas perlahan. "Saya juga menginginkan anak. Tapi____."


"Tapi apa, Mbak?"


"Bisakah kamu menunggu?"


"Maksud Embak?"


"Untuk tahun ini saya belum siap hamil, tapi gak tau untuk tahun berikutnya."


Deg ....


Lagi-lagi Langit terdiam. Kenapa harus ditunda. Apa ini alasan saja jika wanita yang menjadi isterinya itu tidak mau mengandung calon anaknya.


Melihat Langit terdiam, Bening segera berkata, "Tolong kasih saya waktu. Saya benar-benar belum siap hamil. Saya mencintaimu, Langit. Percayalah. Suatu saat pernikahan kita akan diwarnai tangisan anak, tapi enggak untuk waktu dekat ini. Please."


Langit tersenyum dan mengangguk. "Saya gak mau maksa Embak. Apapun keputusan Embak saya bisa hargai."

__ADS_1


Mengalah. Itulah setiap kali yang selalu dilakukan Langit. Dia tak pernah memaksa kehendak. Mungkin saja belum sepenuhnya hati Bening terbuka untuknya. Dia akan berusaha lebih sabar hingga suatu saat rumah tangga mereka mencapai titik sempurna.


"Makasih." Bening memeluk tubuh Langit. Menyembunyikan wajah di da da bidang suami berondongnya. 'Dia benar-benar baik.'


__ADS_2