
"Sah?"
"Sah ...!!!" teriak berapa orang yang menjadi saksi dipernikahan mereka.
Pernikahan tanpa persiapan, tanpa bayangan tanpa kesengajaan. Pun tanpa cinta. Semua terjadi begitu saja. Bukan! Semua terjadi karena kesalahpahaman. Ya, berawal dari tragedi ulet keket harus berakhir saling mengikat janji suci dihadapan Alla. Itu lucu atau konyol? Hah, entahlah ... biarkan saja mereka menjalani takdir unik melepas masa lajangnya.
Padahal Bening dan Mama Has datang ke Solo untuk menghadiri pernikahan sepupunya. Tetapi siapa sangka jika Bening justru menikah lebih dulu.
Mama Has orang pertama yang paling bahagia menyaksikan puteri semata wayangnya menikah. Dia berteriak kencang saat mengucap kata 'sah'. Bahagia tiada terkira Bening menikah dengan calon mantu idamannya. Yang sekarang bukan lagi 'calon' melainkan sudah menjadi menantu sungguhan.
Jika sepasang pengantin identik dengan wajah bahagia, sementara Bening dan Langit justru sebaliknya. Mereka terlihat sendu, bingung dan tidak ceria. Maklum saja, pernikahan yang terjadi bukan atas keinginan mereka. Semua gara-gara bapak-bapak yang memergoki mereka.
Pernikahan sudah selesai dilaksanakan. Sebelumnya Eyang Putri telah membuat kesepakatan dengan para tetangga yang hadir supaya tidak mengungkit masalah yang usai terjadi. Bening dan Langit sudah menikah, dan sebab terjadinya pernikahan mereka tidak perlu dibahas dikemudian hari.
Pak penghulu menandatangani buku berwarna merah tua juga berwarna hijau tua. Ada logo burung garuda di tengahnya. Yang tak lain sepasang buku nikah untuk Langit dan Bening. Buku itu menjadi saksi bahwa mereka adalah pasangan suami istri.
Keluarga Bening tak henti krusak-krusuk menggosipkan Bening dan Langit. Mereka yang sebelumnya nyinyir, kini makin tak terkendali.
"Walah, malu-maluin banget si Ning. Udah umur kok bisa-bisanya ngelakuin kayak gitu di tempat umum."
"Iya. Padahal dia itu pemimpin perusahaan, kok kek gak punya attitude gitu, ya?"
"Parah-parah banget."
"Mana suaminya lebih muda dari umur si Ning. Jatuhnya dapet berondong muda. Ha ha ...."
"Walau berondong muda, tapi kan ganteng banget. Wajahnya tuh, ugh, unyuk-unyuk, bikin gemes, deh."
"Kira-kira berondong muda itu kerjanya apa, ya?"
"Atau masih kuliah?"
"Gak tau. Orang dia nikah tanpa dampingan keluarga. Jadi gak bisa cari info."
__ADS_1
"Mungkin tadinya cuma iseng-iseng, eh, malah ke grep sama warga. Jadi judulnya kek nikah paksa, ya."
"Ha ha ... kayak judul sinetron aja, nikah paksa."
Para bude dan bulek semangat 45 meng-ghibah. Pernikahan Bening dan Langit adalah topik terhangat yang sayang untuk dilewatkan dalam bergosip mereka.
"Selamat ya, Dek. Akhirnya status lajangmu sudah berakhir," ucap Mama Has. Ibu paruh baya itu terlihat berkaca-kaca saat memindai wajah puterinya. "Walau udah ketemu di Jakarta, tapi takdir halal kalian ternyata di Solo," imbuhnya dengan mengelus lengan Bening.
Bening yang tak kuasa menahan perasaanya, jatuh dalam pelukan mamanya. Wanita dengan kebaya putih itu menumpahkan tangisan. Entah tangis sedih atau tangis bahagia. Yang jelas wanita itu masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
"Ma, tampar Bening. Ini nyata atau mimpi?" pinta Bening lirih.
Mama Has terkekeh. "Yang nyata, dong, Dek. Kamu sekarang udah jadi istrinya Langit."
"Masa suami Bening tukang jualan pentol, Ma? Yang bener aja?!"
"Ha ha ... kamu ini aneh-aneh aja. Ya, memang suamimu penjual pentol. Tapi dia ganteng dan baik," ujar Mama Has masih dengan terkekeh pelan.
"Ih, apaan sih!" Bening melirik sinis, sudut bibir atas terangkat.
"Udah-udah. Kalian jabat tangan sama semuanya. Minta doa restu supaya pernikahan kalian langgeng," kata Mama Has.
"Aamiin ya robbal'alamin." Langit mengamini doa mama mertuanya. Sedangkan Bening justru memutar bola mata.
Langit dan Bening melakukan seperti perintah Mama Has. Bersalaman dengan semua anggota keluarga dan juga berapa tetangga yang hadir di sana.
Usai bersalaman, Langit duduk di sudut ruangan. Yang lain sedang mengobrol, juga dengan Bening yang sudah sah menjadi istrinya tengah berdempetan dengan Mama Has, Eyang Putri dan keponakan-keponakan.
Langit menyembunyikan suasana haru. Dia terlibat sedih karena orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya tidak bisa menghadiri hari pentingnya.
Sebelum akad diselenggarkan, Langit menyempatkan waktu untuk menelepon Mamak. Meski sedih Mamak tidak bisa datang, tapi hatinya sedikit lega saat Mamak melantunkan doa restu untuk kelancaran acara akad juga kelanggengan umur pernikahan.
Terdengar suara Mamak menangis, Mamak juga terkejut saat Langit menceritakan pernikahan dadakan itu. Tapi semua harus terjadi, Mamak hanya bisa berdoa, jika pergi ke Solo pun tak bisa mengejar waktu. Belum lagi penyakit linu Mamak akan kambuh jika menempuh perjalanan jauh.
__ADS_1
Sebenarnya bisa saja Langit membeli tiket pesawat, tapi Mamak sudah dulu menolak. Kondisinya tetap tidak fit untuk bepergian.
•
"Tan, kamar saya, eh, kamar Mbak Bening maksudnya. Di mana ya?" tanya Langit.
Rumah Eyang Putri kembali sepi saat kerabat dan tetangga sudah pulang.
Langit yang tadi diajak mengobrol dengan salah satu keponakan Bening kini tinggal sendirian ruang depan. Begitu melihat Mama Has lewat, dia langsung menghampiri mama mertuanya untuk menanyakan kamar Bening. Dia tidak tahan dengan rasa gerah karena jas tebal masih membungkus tubuhnya. Ingin segera mengganti pakaian.
Mama Has tertawa pelan menanggapi pertanyaan Langit. "Panggil Mama, jangan Tante lagi. Saya mamanya istri kamu, yang berati sudah menjadi mama kamu juga," jelas Mama Has.
"Eh, i-iya, sih," gugup Langit. Status baru itu memang membingungkan.
"Dan lagi, jangan panggil Mbak Bening. Rubah panggilan itu jadi sayang, my wife, my bojo, my sweety, atau panggilan sayang lainnya. Biar romantis. Sekarang kalian udah sah pasangan suami istri, dan suami itu lebih berhak atas istrinya."
Langit menyengir menanggapi kalimat Mama Has. Semua itu memang benar, tapi semuanya butuh penyesuaian juga butuh waktu.
"Kamar Bening yang itu," tunjuk Mama Has pada satu pintu bercat biru.
•
Di kamar.
Tok ... tok ....
Langit mengetuk pintu yang ditunjuk Mama Has tadi. Namun tidak ada sahutan. Dia mencoba mengetuk lagi, tapi masih sama. Karena tak kunjung dibukakan pintu, Langit memutuskan masuk begitu saja.
Kriet ....
Pintu terbuka. Langit melangkah masuk, dan menemukan tubuh Bening telentang di atas kasur. Ternyata wanita itu tertidur dengan menggunakan tank top putih dan rok panjang berkain batik jarik. Sedangkan kebaya putih tergeletak di samping kanannya.
Langit segera membuang pandangan ke segala arah, dia lelaki normal. Tidak akan sanggup disuguhi pemandangan demikian. "Huft ...." Dia mengembus napas panjang dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1