
Langit dibantu Kasep dan Mamak akhirnya meninggalkan rumah sakit. Mama Has dibuat terkejut, pasalnya tidak mengetahui rencana Langit yang akan pulang hari ini juga. Bukan hanya itu, mencengangkan lagi ternyata Mamak sudah membayar lunas semua biaya rumah sakit Bening dan Langit. Hanya tindakan operasi selanjutnya yang belum dibayar karena belum mendapat pendonor mata.
Mama Has membatu saat melihat rombongan mereka mulai menjauh. Hanya bisa menangis tanpa bisa mencegah. Mama Has sedih sekaligus malu dengan Mamak dan Langit, mereka sangat baik, tapi Bening selalu saja bersikap buruk. Mama Has terus berdoa, semoga mereka bisa melewati ujian ini tanpa harus ada kata perpisahan.
Di dalam mobil Langit memilih memejamkan mata, bukan karena mengantuk, tapi lebih tepatnya dia menyembunyikan perasaan sedih.
"Sep, obatnya tadi sudah dibawa?" Mamak menanyai Kasep.
"Sudah, Mak. Ini." Kasep menunjukan plastik putih di depan Mamak. Perempuan lanjut usia itu mengangguk.
"Lang, apa kamu kesakitan?"
"Enggak, Mak. Lang baik aja." Langit segera membuka mata dan menoleh pada Mamak.
Taksi yang ditumpangi berhenti di depan rumah Langit, Kasep membantu memindah Langit ke kursi roda. Setelah membayar argo taksi, mereka masuk ke rumah. Terlihat Habibah sudah menunggu di depan pintu.
"Akhirnya Bang ganteng pulang," sambut Bibah membuat yang lain tersenyum lucu.
"Sep, Bibah, makasih kalian banyak bantuin."
"Kita cuma bisa bantu ini, Lang. Kita seneng kamu udah lebih mendingan dari kemarin," jawab Kasep.
Mereka sedang berbincang, Teddy datang bersama ibunya. Mungkin akan menjenguk Langit. Dan ada ibunya Kasep ikut muncul di belakang Teddy.
Setelah mengucap salam, semuanya duduk di ruang tamu. Habibah akan ke dapur tapi di cegah oleh Ibu Midah, ibunya Teddy, agar tidak perlu repot membuatkan minuman. Perbincangan mereka berlanjut seputar keadaan Langit dan Bening, Langit dan Mamak bergantian menjawab pertanyaan mereka.
"Nak Langit, ini ada sedikit rezeki buat bantu-bantu biaya rumah sakit." Ibu Midah mengusungkan amplop di depan Langit.
"Eh, Bu, gak perlu repot-repot. Teddy dari kemarin dah bantuin Langit."
"Nggak apa, nggak merepotkan. Sedikit dari Ibu buat bantu Nak Langit."
Meski sungkan, tapi Langit terus dipaksa untuk menerima. Bukan hanya Bu Midah, ibunya Kasep juga memberi amplop untuk Langit.
"Lang, mungkin ini gak seberapa, tapi mudah-mudahan bisa bantu-bantu buat sehari-hari selama kamu belum sembuh," ujar Kasep memberi satu juta buat Langit.
"Sep, ini terlalu banyak, aku gak bisa terima."
"Lang, jangan ditolak. Kita ikhlas. Ini juga sedikit dariku." Teddy ikut memberi sedikit jumlah uang.
__ADS_1
"Bang Lang, Bibah juga punya sedikit buat Abang."
Langit tersenyum sungkan pada mereka. Beruntung punya tetangga baik yang masih peduli dengan keadaanya. "Terimakasih, semuanya. Alhamdullah, saya terima rejeki dari kalian. Mudah-mudahan, Allah membalas kebaikan semuanya."
"Aamiin."
Mereka lanjut berbincang-bincang lagi, setelah lumayan lama, mereka berpamitan. Kini hanya tinggal Langit dan Mamak yang masih belum beranjak dari ruang tamu.
"Mak, uang ini di simpan Mamak aja." Langit menumpuk amplop, lalu disodorkan di depan Mamak.
"Mamak masih punya simpanan, Lang. Itu buat pegangan kamu aja."
"Lang gak tau kapan sembuh. Selama itu Lang gak bisa jualan, kita butuh untuk makan. Ini buat pegangan Mamak belanja."
"Uang Mamak dari menggadaikan surat rumah dan tanah masih ada sisa. Jauh lebih banyak dari itu. Udah, uangnya kamu simpan saja."
Langit bernapas lega. "Makasih ya, Mak."
~
Setelah kepergian Langit, Mama Has masuk ke ruangan Bening. Meski duduk di samping Bening, tapi perempuan yang masih terdengar isak tangis itu diam saja tanpa mengajak putrinya berbicara.
"Mama kenapa?"
"Dia pasti sembuh, Ma."
"Sembuh kalau segera mendapat penanganan. Dia itu kondisinya masih lemah. Bagaimana dia sembuh kalau malah pulang?"
"Harusnya dia tidak perlu membayar biaya rumah sakit kamu. Biar dia bisa ngumpulin uang buat operasi paru-parunya sendiri." Mama Has berkata sambil tak henti membersihkan air matanya.
Bening mengerut. "Apa dia jadi bayar semuanya?"
Mama Has reflek mengangguk. Padahal Bening tidak bisa melihatnya. "Semua sudah dibayar, termasuk perawatan kamu sampai sembuh. Tapi belum dengan operasi mata kamu karena kita belum menemukan pendonor."
Bening terhenyak. Perkataanya kemarin dipenuhi oleh mereka, padahal untuk keseharian mereka bisa dibilang kekurangan. Terkadang rasa bersalah muncul, tapi jika berhadapan langsung dengan Langit, dia masih punya setitik kemarahan untuk menyalahkan Langit atas semua yang terjadi.
"Berapa total jumlahnya, Ma?"
"Hampir Rp 150 juta."
__ADS_1
Bening tercenung. Mereka mau membayar semuanya meski totalnya sangat banyak.
~
Pagi hari.
"Ma, Langit belum ke sini?"
"Belum. Kenapa? Kamu mulai nyari dia? Kemarin disuruh pulang," cetus Mama Has.
Bening terdiam.
Dokter dan perawat masuk untuk memeriksa Bening. "Selamat pagi, Nona dan Nyonya." Dokter itu langsung memeriksa dan perawat memberi obat.
"Nona, ada kabar baik. Sudah ada seseorang yang bersedia mendonorkan kornea matanya untuk Anda."
Deg ....
Mama Has dan Bening langsung terkesiap. Secepat ini.
"Sungguh, Dok? Siapa? Apa dia yakin mendonorkan kornea matanya buat anak saya? Dia minta imbalan berapa?" runtut Mama Has sangat senang.
Bening sampai meneteskan air mata, namun tak bisa bersuara karena terlalu senang, itu artinya sebentar lagi dia bisa melihat keindahan dunia ini. Dia bisa melihat Langit dan Mamak. Ah, kenapa antusias melihat mereka. Padahal aku sendiri yang seperti mengusir mereka.
"Dia terlihat sangat yakin, Nyonya. Untuk imbalannya saya tidak tahu. Saya belum bertanya lagi."
"Kenapa dia mau mendonorkan kornea matanya, Dok? Harusnya dia seneng bisa melihat, tapi malah ingin buta?" tanya Bening.
"Saya tidak tahu pasti. Tapi, dia bilang disisa hidupnya dia ingin berguna bagi orang lain."
"Tunggu! Apa orang itu punya penyakit parah dan hampir ...." Mama Has tidak menyambung kalimatnya.
"Saya tidak bisa menjelaskan, Nyonya. Saya harus menghargai privasi setiap pasien. Karena dia meminta pihak rumah sakit untuk tidak memberitahukan identitasnya. Untuk jadwal operasi, kita akan lakukan setelah kondisi Nona Bening normal dan semakin membaik."
"Iya, Dok. Terimakasih. Apa kami bisa menemui pendonor itu?"
Dokter menggeleng. "Dia tidak ingin ditemui keluarga pasien."
Senyum di bibir Mama Has memudar. Padahal dia ingin sekali bertemu dengan pendonor itu untuk mengucapkan terima kasih sekaligus ingin melihat siapa orang dermawan yang mau berbuat kebaikan besar itu.
__ADS_1
"Ma, Be, seneng banget. Ada harapan aku bisa melihat lagi. Siapa orang yang mau menggantikan posisi Bening, ya, Ma?"
Mama Has justru terdiam. Perempuan paruh baya itu menebak keberadaan seseorang. 'Ah, gak mungkin. Dia sendiri kondisinya masih lemah, tidak mungkin dokter menyetujui.' Mama Has diliputi kecemasan, tetapi segera ditepis karena dia tahu kondisi seseorang itu tidak memungkinkan untuk menjadi pendonor.