Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Tinggal sendiri-sendiri


__ADS_3

Tepat hari ini resepsi Ratna digelar. Eyang Putri, Mama Has, dan tentu saja Bening, mereka memakai baju yang sama. Baju seragam dibuat khusus untuk keluarga.


Namun satu hal yang disayangkan oleh Mama Has, yaitu kehadiran Langit. Pria itu tidak bisa menghadiri acara tersebut dikarenakan badannya belum fit.


Tadinya Mama Has menyuruh Bening untuk tetap tinggal, tapi Langit menolak. Pria itu berdalih ingin istirahat tanpa gangguan siapapun. Terang saja tidak ada yang tahu jika Langit telah ada janji dengan seseorang. Namun entah siapa.


Setelah acara ijab qabul usai, Bening sudah tidak tahan ingin segera kembali ke rumah Eyang Putri. Bukan karena Langit, melainkan karena gunjingan bude, bulek dan tetangga yang hadir di sana.


"Mama takut kalo kamu pulang sendirian lagi. Harus ada yang anterin! Kalo suruh jemput Langit, gimana?" usul Mama Has.


"Elah, Ma. Dikit-dikit Rengit, dikit-dikir Rengit mulu'. Cuman deket ini. Kali ini Bening gak akan mampir kemana-mana, langsung pulang ke rumah Eyang. Janji," rayu Bening.


"Tetep aja, Dek. Mama gak tega kamu pulang sendirian. Nanti Mama cari Bagas dulu." Bagas adalah salah satu keponakan yang juga ada di tempat acara.


Akhirnya Bening pulang diantar oleh Bagas.


"Makasih, ya, Bagas, udah nganterin Mbak."


"Iya, Mbak, sama-sama. Bagas gak mampir lho ini, langsung balik ke sana."


"Oke. Hati-hati."


Setelah Bagas tidak terlihat, Bening gegas masuk dalam rumah. Saat membuka pintu, keadaan rumah begitu sepi. Kemana dia? Mungkin di kamar. Eh, kenapa aku nyariin dia, sih?! Idih ....


Ceklek ....


Di kamar pun tidak ada siapa-siapa. Kemana tuh si Rengit?!


Bening ingin menyangkal rasa penasarannya tentang keberadaan Langit, tetapi dalam nurani tetap penasaran kemana perginya Langit.

__ADS_1


Dia duduk sejenak di pinggir ranjang. Melamun. Memutuskan untuk mencuci wajah dan rebahan. Mungkin semua aktivitas itu bisa menghalau gejolak perasaanya.


Usai dari kamar mandi, perutnya terasa lapar. Dia memutuskan untuk ke dapur dan memasak spageti. Karena hari ini ada acara, asisten rumah tangga di rumah Eyang diliburkan. Dan kini hanya ada Bening di rumah sebesar itu.


Aroma bumbu barbeque menguar ke penjuru ruangan. Wanita itu tersenyum bangga telah menyelesaikan masakannya. Yang mungkin untuk semua orang bisa melakukannya. Namun tidak bagi Bening. Wanita berumur 27tahun itu jarang berkutat di dapur. Pekerjaannya hanya mengurus perusahaan yang dari itu saja membuat waktunya tersita banyak.


"Heum, keknya enak tuh," ucap Langit.


"Hei, Rengit. Astaga ...!" Bening memegangi dada atasnya karena terkejut. "Kira-kira dong kalo mau dateng. Ngagetin aja! Mau bikin saya jantungan!" sentak Bening.


"Ya gak lah, Mbak. Masa iya, bini sendiri mau dibuat jantungan. Saya juga gak mau jadi duda mengenaskan. Baru dua hari menikah udah ditinggal pergi istrinya, 'kan gak lucu. Lagian kita juga belum kikuk-kikuk, sayang dong kalo dilewatkan." Langit menyengir dengan bersandar di sisi pintu.


Bening mengangkat sebelah sudut bibirnya. Menatap sinis Langit. "Otak kok pikirannya mesum doang! Idih ... disapu otaknya biar gak ngeres mulu'. Lagian siapa yang mau kikuk-kikuk?! Kemarin saya udah bilang, kamu siapa dan saya siapa! Masih ngarep gituan sama saya?! Ngimpi dulu." Tanpa perasaan, lagi-lagi mulut Bening berbicara pedas.


Langit mengembus napas panjang. Menahan kekecewaan, namun tak mau ambil pusing. Dia tetaplah pria dengan sejuta topeng yang mampu dia perankan.


"Ngimpi dulu juga gak apa, Mbak. Siapa tau mimpi saya bisa ke wujud, 'kan syukur alhamdulillah."


"Dosa lho Mbak, makan gak nawarin suami," celetuk Langit.


Bening menoleh. "Mau?!" Dia mengangkat garpunya.


"Boleh," Langit sumringah.


"Bikin ndiri!"


"Hah ...." Langit mendengus dan memutar bola mata. Sabar-sabar.


Langit ke dapur untuk membuat minuman, setelah itu menyusul Bening duduk di meja makan. Satu gelas cokelat panas diletakan di meja.

__ADS_1


"Kamu tadi dari mana?" tanya Bening dengan mulut sedang mengunyah.


"Em ...tadi abis ke depan bentar, nyari signal buat nelpon Mamak," jawab Langit mulai memainkan buih-buih di atas cokelat panas dan masih mengepulkan uap.


"Perasan signal baik-baik aja. Ponsel kamu udah jadul kaleee ...." cibir Bening.


"Mungkin, Mbak. Mau ganti ponsel sayang uangnya. Mending buat ditabung jika sewaktu-waktu Mamak sakit, gak akan kebingungan."


Bening menghentikan kunyahan. Menatap Langit sebentar. Sedikit terbawa suasana perhatian Langit pada mamaknya.


"Mbak kapan mau balik Jakarta?"


"Emang kenapa?"


"Nanti sore saya udah pulang. Gimana, ya?"


"Ya gak gimana-gimana. Mau pulang tinggal pulang," balas Bening santai.


"Mbak, kita udah jadi suami istri. Dimana ada suami, harusnya di situ ada istrinya."


"Itu kalo suami istri sungguhan. Kita gak seperti itu. Setelah kembali ke Jakarta, kita tinggal sendiri-sendiri."


"Kok gitu, Mbak?!"


"Ya, emang gitu."


"Gak bisa gitu, dong."


"Bisa!" Bening ngegas. "Sadar diri, Rengit. Kamu tuh cuma penjual bakso. Terus mau tinggal di rumah saya?! Mau numpang hidup sama saya?!" sewot Bening.

__ADS_1


Langit menatap lembut mata Bening. "Mbak, walau saya cuma penjual bakso. Demi apapun gak ada niat buat numpang hidup sama Mbak. Kalo untuk tinggal bersama, suami istri memang harus tinggal satu atap. Terlepas apapun keadaanya."


__ADS_2