
Motor matic Langit berhenti di samping rumah. Pria itu berjalan masuk lewat pintu samping, tujuannya langsung menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki, seperti yang dianjurkan Mamak.
Keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kaus singlet. Saat melewati pintu tengah dan menuju ruang depan, dia dikejutkan dengan sosok yang duduk di sofa.
"Mbak!"
"Mbak-Mbak!!!" Bening memberengut kesal. "Kemana ponselmu?! Liat ada berapa panggilan masuk!" ucapnya.
Langit mendekat dan duduk di kursi yang berseberangan. "Mbak gak ke kantor?" Langit mengalihkan topik pembahasan. Enggan untuk memperpanjang yang semalam. Biarlah berlalu meski tak bisa terhapus. Semua yang dialami sebisa mungkin hanya di simpan, tanpa mau diulang-ulang pembahasannya.
Bening mendengus. "Nggak penting ke kantor apa enggak! Semalaman saya khawatirin kamu, Rengit!"
Langit tersenyum lebar. "Embak khawatirin saya? Eum, mulai perhatiankah?"
Bening memutar bola mata jengah. Selalu saja sikap yang ditunjukan Langit seperti itu. Dia lebih menyukai Langit yang langsung marah atau jujur tentang perasaanya, daripada pria itu harus menyembunyikan dan menutup diri. Karena sejujurnya dia merasa bersalah dengan kejadian semalam.
"Semalam nggak bisa tidur!" cerita Bening.
"Hem, padahal tidur saya nyenyak banget," balas Langit.
"Bohong!" sambung Bening cepat. "Mamak bilang kamu pulang jam 3 pagi."
"Saya ketemu temen. Udah, langsung nongkrong sampek lupa waktu."
"Terus aja bohong!"
"Enggak, Embak!"
"Renggiiit!"
"Eembaak!"
"Huh!" Bening mendengus sebal.
"Semalam saya pikir kamu ... ah, udahlah."
"Saya kenapa, Mbak? Marah?" tebak Langit. "Saya gak ada hak buat marah," ujarnya.
Bening menatap dengan kesal. Asli, lebih baik Langit memarahinya daripada pria itu masih bersikap baik. Karena rasa bersalahnya kian menyeruak.
"Semalam itu ...."
"Mending gak usah dibahas," potong Langit.
__ADS_1
"Dengerin dulu!" kata Bening. "Kemarin sore sebelum jam kantor selesai, saya sama Dodi ada jadwal meting di cafe yang semalam. Mang Juri nggak bisa ikut karna mobilnya harus servis. Saya berangkat bersama Dodi, waktu mau pulang ketemu sama Bram. Dia temen deket saya, saya gak enak harus pulang gitu aja. Dari kamu berbicara sama pegawai cafe, saya memang mau pulang. Tapi Bram mencegah. Dan saya pikir kamu mau nyamperin, tapi malah keluar gitu aja." Panjang lebar Bening meluruskan yang semalam.
"Santai aja kali, Mbak. Saya gak apa. Toh, saya ini siapa. Bukan siapa-siapa Embak juga."
"Saya pikir wajib meluruskan yang semalam karna kamu suamiku."
Keduanya saling tatap. Bening nampak terkejut dengan ucapannya sendiri. Dengan lantang menyebut Langit sebagai suaminya.
Langit bergeming sesaat. Andai pengakuan itu dikatakan di depan pria yang semalam, hatinya takkan merasakan kekecewaan.
Paham jika dia maupun Bening belum bisa saling terbuka dan saling mencintai. Hanya saja dia sangat terluka karena status sebagai suami begitu tak dihargai oleh Bening.
Karena profesinya hanya tukang bakso lantas dia tak pantas mendapat pengakuan publik. Lalu sampai kapan seperti ini.
"Lang, Nak Bening, ayo, sarapan dulu!" Mamak muncul dan berdiri di pintu tengah.
"Iya, Mak,"
"Iya, Bu."
Langit dan Bening menjawab bersamaan. Setelah Mamak pergi, Bening kembali menatap Langit. "Saya minta maaf untuk yang semalam," ucapnya yang berhasil mengejutkan Langit. Selama ini wanita bernama Bening Agistasari, wanita yang dikenal dari awal selalu galak dan jutek bisa juga mengucap kata maaf. Dan, ini pertama kali bagi Langit mendengar kata maaf langsung dari mulut Bening.
Langit tersenyum. "Saya dah bilang, santai aja, Mbak."
"Saya seratusrius." Langit menyengir. "Dah gak sah dibahas yang semalem. Saya bukan pria posesif yang membatasi gerak-garik istri. Saya rasa belum pantas melarang Mbak bertemu siapa saja, karena status kita emang cuma gini. Belum jelas hubungan kita mau dibawa kemana."
Bening terdiam mendalami perasaanya. Ada setitik keberuntungan mendapat pria sebaik Langit. Pria sabar dan tidak mudah tersulut emosi. Hanya saja dia belum bisa memahami keinginan hatinya sendiri. Dia butuh waktu, dia butuh bukti banyak untuk luluh dan memberikan hatinya.
"Dah, yuk, sarapan. Laper banget, nih," ajak Langit. Dia bangkit lebih dulu dengan Bening yang mulai mengikuti di belakangnya. Dia pun merasa lapar, karena tadi belum sempat memakan apapun.
Semalam Bening tidak bisa tidur, dia terpikiran Langit yang pasti salah paham melihatnya bersama Bram.
"Mamak masak apa?" tanya Langit ketika datang ke meja makan bersama Bening.
"Mamak masak sayur ontong pisang, goreng jeroan ayam, sama bikin sambal." Mamak menyebut semua sayur yang dimasak. "Eh, ada ikan asinnya juga," imbuhnya.
"Ontong pisang itu apa, Mak?" tanya Bening. Dia merasa asing dengan nama sayuran yang disebut Mamak tadi.
"Ontong pisang ya jantung pisang, Nak Bening. Nak Bening belum pernah makan, ya?"
"Belum, Mak."
"Nih, coba dikit dulu. Mamak sering masak ini. Nggak perlu beli, di belakang rumah ada, tinggal ngambil pakek galah."
__ADS_1
Setiap makan di rumah Mamak, selalu saja menemukan menu makanan yang berbeda. Meski begitu, masakan Mamak sangat enak menurut Bening. Dia lahap saja menghabiskan makanan sederhana itu.
"Nak Bening pagi-pagi ke sini memang nggak pergi kerja?"
"Enggak, Mak, Bening ambil cuti."
Langit melirik sekilas, apa Bening tidak masuk kantor demi menjelaskan yang semalam?
•
Usai sarapan, membantu Mamak mencuci piring, Langit menyusul Bening yang ada di kamarnya.
Wanita itu sedang membaca buku yang ada dimeja 'Buku sukses dalam membangun bisnis'.
"Kamu baca buku seperti ini karna pengen usaha?" Tiba-tiba Bening melayangkan pertanyaan itu.
"Em, iseng aja, Mbak."
"Kalo kamu ingin pindah haluan berbisnis, coba kamu kerja di kantor."
"Saya dah bilang gak punya ijasah, Mbak."
"Kalo masuk kantor saya tidak perlu ijasah, Rengit. Saya bisa bantu kamu."
"Kantor Embak?" ulang Langit memastikan. Dia tidak ingin salah tanggap.
"Iya. Daripada kamu jualan bakso, mending kerja di kantor saya. Kerja kantoran itu lebih baik dan nggak akan direndahin orang."
"Maaf, Mbak. Saya gak bisa."
Kali ini Bening dibuat terkejut dengan penolakan Langit. Dia ingin membantu mensejahterakan keadaan pria itu, tapi justru di tolak.
"Kenapa?!"
"Orang seperti saya gak cocok kerja kantoran. Saya bodoh, sekolah aja gak lulus. Mana bisa kerja di perusahaan."
"Tapi kamu bisa gunain iPad, saya yakin kamu bisa."
Langit menggeleng dan tertawa lebar. "Saya punya iPad cuma buat main game. Saya tuh gamer sejati Mbak."
"Saya mau bantu, malah kamu gak mau!" sungut Bening. "Jika kamu beralih kerja kantoran, setidaknya saya gak malu ngakuin kamu sebagai suami saya."
Tawa di bibir Langit memudar. Apa segitu rendahnya profesi sebagai tukang bakso sampai Bening benar-benar malu untuk mengakui hubungannya di depan umum.
__ADS_1