Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Kini menjalani profesi yang selalu di rendahkan.


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, tidak ada yang dilakukan selain berdiam di rumah dengan aktivitas yang sama, hanya mengobrol dengan Mama dan Mamak, makan, tidur lalu melamun.


Hidup tidak akan berhenti meski kita telah lelah, kita ingin menyerah. Kehidupan terus berjalan meski tak sesuai keinginan kita. Satu minggu tinggal di rumah Mamak, Bening mulai menjalani aktivitas seperti orang biasa. Dia yang selama ini tidak pernah membersihkan rumah, kini terlatih untuk melakukan itu. Dia yang notabene menumpang di rumah Mamak, tidak mungkin hanya memangku tangan sedangkan para orang itu saling membahu untuk membersihkan rumah.


"Nak Bening, tidak usah di jemur. Nanti biar Mamak saja yang jemur." Terdengar teriakan Mamak dari pintu dapur.


"Gak apa, Mak. Ini sebentar lagi sudah selesai."


Mamak menghilang dibalik pintu.


"Biarkan saja, Mak. Biar Bening belajar mandiri," sahut Mama Has.


"Ibu ... Nak Bening tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Dia nanti kelelahan."


"Dia bisa memperkirakan dirinya sendiri. Saat seperti ini dia harus belajar kesulitan, kelelahan dan menghargai. Hidup bukan semata tentang kebahagiaan, kesenangan dan kemudahan, seperti yang sering dia dapat. Ada saatnya masa sulit itu menghampiri, lalu mengajarkan kita untuk lebih menghargai apapun yang kita miliki. Mungkin kesalahan saya juga yang tidak pernah mengajarkan Bening tentang kesulitan hidup, saya terlalu memanjakannya. Apapun keinginan dia selalu saya turuti tanpa mengajarkan bagaimana dia harus berusaha ketika menginginkan sesuatu."


"Setiap orang tua pasti melakukan itu, Ibu. Tidak beda dengan saya, saya selalu menuruti semua perkataan Langit, sampai pada akhirnya membahayakan nyawanya pun saya setujui. Entah kenapa saya selalu tidak tega untuk mencegah semua keinginannya."


Dua wanita yang sudah berumur itu saling bertukar cerita sambil melakukan aktivitas di dapur. Mama Has ikut membantu Mamak memetik cabe rawit. Asiknya bercerita Mama Has sampai tidak sadar jika Mamak memasak berbeda untuk hari ini.


Yah ... Mamak sedang membuat dagangan bakso, wanita lanjut usia itu tidak bisa hanya berdiam tanpa mencari rupiah. Uang simpanannya sudah mulai menipis jika dia tidak memiliki penghasilan sama sekali. Dia harus memeras otak dan tenaga untuk menghasilkan uang.


Tadi pagi sekali Mamak menemui Kasep, meminta tolong membelikan bahan dagangan bakso. Kasep bingung, apa Langit sudah kembali, kenapa Mamak menyuruhnya berbelanja. Ternyata tidak, Mamak sendiri yang akan menjajakan bakso itu.


"Mak, harum banget kuahnya. Mamak bikin bakso sebanyak ini untuk ...?" Mama Has yang tersadar langsung bertanya.

__ADS_1


"Nanti sore, Mamak mau coba keliling jualan bakso di tempat biasanya Langit jualan. Jika pelanggan belum kabur, insyaallah, masih ada yang beli."


Mama Has terdiam, mereka memang tidak bisa tinggal diam. Butuh uang untuk keperluan sehari-hati. "Oh, begitu. Saya bantu, ya, Mak."


Pukul 03.00 sore, Mamak bersiap menata bahan dagangan ke gerobak bakso yang setiap hari di pakai Langit berjualan. Mama Has ikut membantu, sedangkan Bening mengamati dari dalam ruang tamu. Mengingat saat setiap hari menyaksikan Langit menata semua barang dagangan dan berangkat dengan wajah berbinar. Lalu saat ini apa dia akan membiarkan Mamak mencari uang sendiri.


Bening menghapus lelehan air mata dan beranjak ke kamar Langit. Tak berapa lama dia keluar, menghampiri Mamak dan mamanya.


Mama Has dan Mamak begitu heran melihat penampilan Bening sangat berbeda. Memakai kaus dan celana jens behl.


"Dek," panggil Mama Has, siapa tahu Bening tidak sadar dengan pakaian yang dikenakan. Mama Has dan Mamak melihat penampilan Bening dari atas ke bawah, benar-benar bukan style yang biasanya.


"Be, mau bantu Mamak," ujar Bening dibalik masker putih yang dikenakan.


"Enggak, Mak. Bening yang sehat, yang kuat, sudah sepantasnya Bening yang bekerja keras." Dia memancarkan senyum, namun hatinya masih ragu dengan apa yang akan dilakukan.


Dulu, dia selalu merendahkan profesi ini, tetapi ketika roda berputar, mau tidak mau dia melakukan profesi rendahan yang selalu dia remehkan. Tidak ada jalan lain untuk bertahan hidup, hanya ini yang bisa mereka lakukan. Kini seorang Bening Agistasari harus merasakan perjuangan Langit. Merasakan susahnya mencari uang receh di pinggir jalan.


Di bantu Kasep mendorong gerobak, Mamak dan Bening berangkat menuju Jalan Lobak Kemangi. Kasep juga yang membantu dan mengajari Bening untuk memasang dan menggulung tenda.


Tidak sebentar saja Bening melepas masker penutup hidung, dia masih enggan menampakan diri di depan orang-orang. Dia membiarkan rambut panjangnya digerai agar menutupi sebagian wajahnya, juga topi hitam milik suaminya turut dia kenakan.


"Wah, tenda Bang Langit udah buka lagi, ya. Eh, kok bukan Bang Lang yang jualan, Nek?" tanya seorang wanita yang datang menghampiri.


"Iya, Mbak. Bang Langitnya sedang ada urusan, jadi saya dan is ...."

__ADS_1


"Adiknya!" Bening memotong ucapan Mamak. Dia memperkenalkan diri sebagai adik bukan istri, agar mereka tidak patah hati. Karena dia tahu, wanita-wanita yang sering membeli bakso di sini adalah pens suaminya.


"Yah ... Bang Lang gak ada. Maaf ya, Nek, kita gak jadi beli. Masih kenyang." Dua wanita itu mulai pergi.


"Yah ... Mak, pelanggan pertama kita malah gak jadi beli." Bening terlihat sedih dan kecewa. Beberapa orang terus saja begitu, memilih pergi saat bukan Langit yang berjualan.


Bening duduk menyangga dagu, ternyata hanya untuk menghasilkan uang 15ribu rupiah saja membutuhkan perjuangan dan kesabaran extra.


Dulu, dengan begitu mudahnya dia memaki dan mencibir Langit dengan profesi ini, padahal butuh kerja keras untuk mencari nafkah yang halal.


Bening menghela napas panjang, bahkan sampai jam 10 malam dagangan mereka tidak habis terjual. Mereka terpaksa menggulung tikar dan memutuskan untuk pulang.


Bening berjalan paling di belakang, wanita itu menyembunyikan tangis sesak. Betapa teringat semua perlakukan buruknya terhadap Langit. "Maafin, aku, Bang. Aku tidak pernah menghargai kerja kerasmu. Aku rindu, Bang. Aku sangat merindukanmu," lirihnya.


Dua tetes air mata ikut terjatuh dari mata yang berbeda. Mungkin dia pun turut merasakan sesuatu.


Sampai di rumah Bening membantu Mamak membereskan semuanya. Seperti dulu yang dilakukan Langit, sepulang berjualan harus mencuci semua perabot sendirian. Terkadang dia hanya menyaksikan dari pintu tengah tanpa mau mendekat apalagi membantu. Dia hanya membantin kesal dan kadang mencibir.


'Sekarang aku melakukan pekerjaan yang kamu lakukan dulu, Bang. Ini sangat melelahkan. Aku tahu, Abang dan anak kita pasti melihat perjuangan kerasku. Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan kalian.' Air mata Bening masih menetes, dia sesegera mungkin untuk menyeka.


"Nak Bening, alhamdulillah, hari ini mendapat rezeki 290 ribu. Meski jumlahnya tidak terlalu banyak seperti ... tapi ini sudah lumayan."


'Alhamdulillah, Mbak, hari ini dapet hampir satu juta.' Biasanya Langit yang paling antusias menghitung hasil penjualan bakso. Tapi hari ini ....


Bahkan mereka yang berjualan sampai malam, hanya mendapat 290 ribu. Tidak ada bandingannya dengan Langit. Kini sedikit banyaknya dia tahu perjuangan Langit untuk menghasilkan uang satu juta, pasti sangat melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2