
Setelah Mama Has dan Eyang Putri pergi, tatapan Bening menyorot tajam mata Langit.
"Mbak liatnya gitu amat. Ngeriii tau Mbak!" ujar Langit menggeser tempat duduknya.
"Hua ... mimpi buruk apa saya nikah sama kamu, Rengiiiit!"
"Heh, jangan gitu Mbak. Saya juga gak nyangka tiba-tiba nikah sama Mbak. Tapi ya, semua udah kek gini. Mau gimana lagi?" balas Langit dengan santai.
"Denger ya, walau status kita suami istri, tapi jangan harap perlakuan saya seperti istri sungguhan. Saya tetap saya, dan kamu tetap kamu. Dalam artian, tidak ada kewajiban dan tidak ada hak apapun dalam pernikahan pura-pura kita, atau pernikahan paksa ini. Ah, apalah nyebutnya. Uh, yang benar, pernikahan karna kesalahpahaman ini. Kita gak mungkin menikah jika bukan karna di greb warga! Kamu sadar diri 'kan, aku siapa, dan kamu siapa. Kita itu bagai Langit dan bumi," cerocos Bening tanpa perasaan.
Langit terdiam dengan menelan ludah susah payah. Beginikah sifat Bening yang sesungguhnya? Istri yang baru berapa jam tadi dinikahi sudah membanding-bandingkan derajat mereka. Dalam hati, pria yang menyembunyikan kekecewaannya itu tertawa miris.
Namun, dia bukanlah pria dengan sifat melankolis, apapun hanya disimpannya seorang diri. Langit terbiasa menyikapi sesuatu dengan guyonan, seolah tak pernah serius dalam menanggapi masalah. Dan semua akan tetap dijalani seperti itu.
"Baiklah, gak masalah. Saya nurut sama Mbak ...."
"Harus!" potong Bening. Seolah perintahnya tidak boleh dibantah. "Tapi kalo di depan Mama dan keluarga, kita bersikap normal sebagai pasangan suami istri. Jangan sampai mereka tau seperti apa hubungan kita!"
Langit mengangguk.
"Kamu berbalik dulu!" perintah Bening.
"Emang kenapa, Mbak?" bingung Langit.
"Hei, saya mau ganti bajulah."
"Kenapa harus berbalik? Mbak lupa saya udah liat itunya____"
"Rengiiiiitt!!!" sentak Bening. Dia malu bercampur kesal. Ucapan Langit mengingatkannya pada kejadian tadi. Kejadian yang membuatnya malu setengah mati. Bening menutup wajahnya dengan tangan sebelah. Seolah tindakan yang dilakukan bisa mengurangi rasa malu. Bukannya berkurang, Bening malah tambah malu saat Langit lagi-lagi mengingatkannya.
"Mbak juga tadi yang nyuruh saya buat remas itu____"
"Rengiiit!!! Diam!!!" sentak Bening lagi.
__ADS_1
Langit justru terbahak. Rasa kecewa baru berapa menit dirasakan mampu tersamarkan dengan ulah jahilnya. Meski Bening galak, acuh dan tidak begitu peduli, namun menjahili Bening sesuatu yang menyenangkan baginya.
Hidup dikelilingi wanita tapi tak ada yang bisa membuatnya seperti sekarang. Bagai mendapat mainan dan kebiasaan baru, pasti sangat seru juga memacu adrenalin.
"Cepet berbalik!"
"Oke-oke!!!" Akhirnya Langit menuruti perintah Bening. Dia berbalik dan berganti membelakangi Bening. Punggung lebar tanpa pakaian itu dibiarkan terbuka begitu saja.
Usai memakai kaus rumahan, Bening tak sengaja menatapi punggung Langit. Sedikit heran dengan tubuh pria itu, mulai dari wajah yang memiliki ketampanan di atas rata-rata. Sekarang dihadapkan dengan punggung putih mulus dan terlihat kekar. Pria itu bukan seperti pria biasa. Memiliki kelebihan fisik yang menonjol. Pantas banyak wanita yang berubah centil dan gila jika berdekatan dengan Langit. Nyatanya pria itu memiliki fisik nyaris sempurna. Seperti judul lagunya Andra and the BackBon. Akh ... kamu ini mikir apa sih, Bening!!
Dia segera menguasai diri. Malu dong, jika ketahuan berpikir seperti itu. Memuji-muji fisik Langit.
"Eh, Rengit. Besok-besok jangan gak pakek baju di depan saya!"
Langit menolehkan kepalanya sedikit. Mengintip. Apa Bening sudah selesai berganti baju?
"Emang kenapa, Mbak? Laki mah bebas mau pakek baju atao gak! Kalo wanita baru gak boleh. Tapi gak untuk wanita barat. Mereka justru senang gak pakek baju. Mungkin lebih sepoi-sepoi, gitu," jawab Langit cengar-cengir.
"Gak usah nyama-nyamain sama wanita barat! Kita tinggal di Indonesia, bukan di luar negeri. Pokoknya jangan buka baju di depan saya."
"Udah mau maghrib. Mandi sana!"
Pria itu bangkit dari atas kasur, lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Hah ... kehidupan baru. Rasanya gimana gitu. Aneh. Ck ... Tuhan, takdir macam apa ini?"
•
"Ma, ambilin," rengek Bening pada Mama Has yang sedang meladeni Eyang Putri. Ya, mereka sedang makan malam bersama. Seperti kebiasaan sehari-hari, Mama Has yang selalu menuangkan makanan di piring anaknya. Tapi mulai sekarang semua itu harus dirubah.
"Bening, kamu lupa udah punya suami? Mulai sekarang kamu belajar buat layani suamimu. Itu kewajibanmu sebagai seorang istri. Mama udah gak berhak lagi manjain kamu. Biar ganti kamu yang manjain Langit," nasehat Mama Has.
Apa boleh buat, meski menahan kesal tapi Bening harus melakukannya. Jika tidak, sang mama akan terus menegur dan memberi wejangan.
__ADS_1
Bening mulai menyendok nasi dan menaruh di piring Langit. Tetapi pria itu melotot saat Bening mengisi piringnya dengan tiga centong nasi. Alamak, itu porsi untuk tiga orang! Kira-kira dong! Ini perut lho, bukan tong sampah. Belum-belum Langit dibuat begah melihat makanan segitu banyaknya. Apalagi Bening menambahkan semur daging dengan porsi penuh juga, ditambah kuah sayur bening, lauk pauk tiada kira. Astaga ....
"Ning, kok, banyak banget ngambilin makanannya. Kalo gak habis sayang makanannya," tegur Eyang Putri.
"Kata siapa gak habis. Laki tuh makannya harus banyak, Eyang. Dia butuh tenaga buat kerja," jawab Bening menahan tawa. 'Rasain lu Rengit. Emang enak gue kerjain! Begah-begah tuh perut.'
"Kerja apa kalo malam-malam begini, Ning! Kamu ada-ada aja. Yang ada suamimu sakit perut."
"Mah, kayak gak tau aja. Namanya pengantin baru, malam pun harus kerja. Kerja di atas ranjang, gitu maksudnya," sela Mama Has terkikik geli.
Sekakmat!!! Bening justru terpojok dengan kalimatnya sendiri.
"Bu-bukan itu maksud Bening, Ma, Eyang!"
"Makasih, Mbak. Eh, Be. Udah perhatian sama suamimu. Aku tau kamu pasti mau sepiring berdua, 'kan? Makanya ngambil makanan sebanyak itu. Biar romantis gitu, ya?" sahut Langit tak habis akal.
"Eh ...."
"Owalah, kalian mau romantisan? Gak apa. Biar kemistrinya makin terjalin."
Mama Has dan Eyang Putri terkekeh, sedang Bening mendengus pelan. Sial. Mau ngerjain malah dikerjain.
Akhirnya Bening makan bersama Langit. Mau apa? Daripada mama dan eyangnya tak henti menggoda, dia sangat muak.
"Nak Langit."
"Iya, Tan. Eh, Ma, maksudnya."
"Kok tiba-tiba kamu di sini juga. Maksud Mama, kamu kok di Solo juga? Emang ada urusan apa?"
Deg ....
Langit bingung menjawab apa. Kenapa tidak terpikir jika mereka akan menanyakan keberadaanya di kota itu.
__ADS_1
"Sa-saya ... cuma liburan aja kok, Ma," jawab Langit dengan menyengir paksa.
"Liburan kok bisa ngepasin gini. Ngaku. Kamu ngikutin kita 'kan?" sela Bening dengan tuduhannya.