Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Aku merindukanmu


__ADS_3

Malam keempat yang harus dilalui Langit tanpa senyuman. Selama itu dia belum melakukan aktifitas lain selain menunggu sang istri di depan kamar rawatnya. Dia hanya akan pulang ketika siang hari: tidur satu jam, mengecek laporan di laptopnya, menemani Mamak sebentar, lalu ke rumah istrinya untuk mengambil pakaian dan perlengkapan lainnya. Setelah itu kembali ke rumah sakit dan duduk di depan ruang rawat Bening.


"Mas Langit baru dateng?" Mang Juri yang baru usai membeli makanan menyapa Langit.


"Iya, Mang. Bagaimana, apa ada perkembangan terbaru?"


"Tidak ada, Mas. Nona Bening masih sama seperti kemarin-kemarin. Tadi sempat ngamuk sebentar, tapi Eyang Putri bisa menenangkan," jelas Mang Juri.


Langit membuang napas panjang. Apa Bening masih saja berpikir labil?


Jarum jam berputar cepat, tetapi sangat lama bagi Langit menunggu waktu hingga tengah malam. Seperti beberapa malam lalu, ia ingin menemui Bening ketika perempuan itu terlelap, ketika mata istrinya terpejam agar perempuan yang di cintai itu tak melihat wajahnya. Ia belum siap bertatap muka, ia belum siap bersua dan hanya mendebatkan persoalan yang akan menghancurkan asanya. Ia belum siap untuk semua itu.


"Lang." Mama Has keluar dari ruang rawat Bening.


"Ma, Mbak Bening udah tidur?"


"Sudah. Masuklah!"


Langit mengangguk.


~


"Mbak." Langit memanggil dengan suara pelan, hampir menyerupai bisikan. Ia sangat rindu ingin meniti wajah istrinya yang pucat namun baginya masih tetap cantik. Ia mengembus napas pelan, lalu duduk di kursi tunggal di samping brankar istrinya.


"Hay, sayang. Ayah datang lagi." Langit menyapa calon anaknya yang masih berumur kurang dari 4 minggu. Tentu saja masih dengan bisikannya. Pria itu memberanikan diri mengelus perut Bening yang tertutup selimut tebal. "Maaf, Ayah selalu datang dimalam hari. Tapi Ayah selalu nunggu di depan."


Kata Mamak, meski bayi dalam perut ibunya belum bisa melihat dunia, tetapi calon bayi itu sudah bisa mendengar suara ayah dan ibunya. Calon anak itu sudah mendengar setiap kata yang diucapkan di luar dunianya.


Satu tetes air mata Bening lolos mendengar setiap kata yang didengar. Langit menyadari jika Bening belum terlelap. Ia segera bangkit dan ingin pergi, ia tak mau menganggu dan membuat Bening histeris lagi.


"Kamu selalu jadi pecundang yang gak mau ngadepin masalah secara langsung!" desis Bening.


Langit mematung. Ia tak berani menatap sang istri.


"Kamu pengecut yang cuma bisa sembunyi di depan pintu! Kamu nemuin istrimu sendiri kalo dia pas lagi tidur! Kamu selalu ngehindar."


"Kalo saya bertemu langsung, apa Embak mau bicara dengan saya? Apa Embak gak akan marah? Apa Embak bisa setenang saat tidur?"

__ADS_1


"Lebih baik saya jadi pecundang, tapi saya gak sanggup liat tatapan benci Embak ke saya."


Bening terdiam, namun isak tangis mulai terdengar.


"Ini yang saya gak mau. Saya benci melihat Mbak nangis. Saya Benci liat Mbak sedih. Saya selalu menyalahlah diri saya sendiri."


"Kamu gak tau apa yang saya pikirkan! Kamu gak ngerasain jadi saya!" Bening bersuara tegas.


"Saya emang gak pernah ngerti keadaan Embak. Saya juga gak pernah berhasil mahamin, Mbak." Suara Langit lirih namun tak kalah tegas dari Bening.


"Rengit!"


"Hanya saya yang gagal dalam hal ini, Mbak. Saya gagal menjadi suami yang bisa memahami istrinya. Saya gagal dalam semua hal. Bahkan hidup saya pun gagal, hidup saya berantakan. Saya gak pernah mengerti bagaimana menjadi suami yang baik, bagaimana menjadi calon ayah yang baik. Saya gak ngerti tentang semua itu. Saya hanya menjalani kehidupan ini dengan penuh sandiwara. Saya gak pernah menunjukan apa yang saya rasa karena semua itu gak penting. Hidup saya gak ada artinya sejak sepuluh tahun yang lalu."


"Rengit."


"Maafin saya, Mbak. Maafin saya yang gagal dalam semua hal." Mata Langit menggenang cairan yang siap lolos saat kelopak matanya berkedip. Sedangkan Bening tertegun pertama kali melihat pria yang menjadi suaminya itu terlihat rapuh. Katakan sekali lagi jika dia jahat, dia kejam membuat suaminya demikian.


"Rengit." Sedari tadi hanya mampu memanggil tanpa bisa berkata apa yang menjadi bebannya. Lidah kelu dengan suara tercekat di tenggorokan.


Bening mencoba meraih tangan Langit dan menggenggam dengan erat. "Rengit."


"Saya gak akan memaksa Mbak mengandung anak saya. Jika Mbak gak siap dan ingin menggugurkan calon anak kita, saya gak akan melarang."


"Rengit!"


"Mbak."


"Diam!"


"Kamu terus saja bicara. Saya cuma ingin di peluk, bukan ingin mendengar perkataanmu."


Dalam kesedihannya, Langit tersenyum tipis. "Aku merindukan, Embak."


"Aku juga."


Langit ingin menyudahi pelukan mereka, tetapi tangan Bening semakin erat melingkar di pinggangnya. Dia hanya mampu merasai kehangatan pelukan yang selama empat hari tak pernah di rasakan.

__ADS_1


"Kenapa Embak harus mendengar ultimatum panjang saya, baru bisa luluh."


"Karena ultimatum panjangmu menyadarkan pikiran dan mengalahkan egoku."


Langit melonggarkan pelukan, dia menunduk dan menjajarkan wajahnya dengan wajah Bening. Kedua tangannya menghapus pipi Bening.


"Kamu gak pernah gagal. Bahkan kamu selalu berhasil mengalahkan egoku. Tapi ...."


Langit mengernyit, menunggu kalimat yang akan diucap istrinya itu.


"Tapi ... meski saya mempertahankan anak ini, bukan berati saya menerima. Bagi saya ini tetap sulit."


Deg ....


Langit berkedip pelan. "Gak apa kalo Mbak belum bisa nerima anak itu sekarang. Saya terima kasih karena Mbak masih mau mempertahankan calon anak kita. Walau Embak belum menerimanya sekarang, tapi saya yakin, ada saatnya Embak menerima kehadirannya."


"Kamu kecewa? Kamu membenciku?"


"Kecewa pasti, tapi enggak untuk membenci. Anggap aja ini kesalahan kita berdua. Jadi, coba kita jalani bersama. Kita jalani dengan perlahan karena saya pun gak tau harus seperti apa. Yang jelas, saya sangat menyayangi dan sangat menunggu calon anak kita lahir."


Bibir pucat yang selama empat hari tak melengkung senyum itu kini mampu menerbitkan senyum tipis.


Tangan Langit memegang kedua pipi Bening dan cium kening istrinya dengan dalam. Setidaknya keadaan sekarang lebih baik dari sebelumnya. Dia paham jika Bening tipikal perempuan yang tidak bisa dipaksa. Perempuan yang hanya akan melunak jika dia bersikap menyerah. Tidak masalah, semua demi keutuhan rumah tangga juga calon anaknya.


"Mbak lebih baik?"


"Hem."


Langit tersenyum dan duduk di kursi yang tadi.


"Apa saya terlalu egois?" tanya Bening.


"Banget."


"Rengit!"


"Enggak. Embak gak egois. Embak hanya ingin dimengerti. Kalo ada sesuatu, ngomong aja, jangan diam."

__ADS_1


"Saya belum siap hamil. Kamu tau itu."


"Ya saya tau. Saya gak nyalahin Embak. Hanya ingin Embak menerima bayi kita secara pelan-pelan."


__ADS_2