
Sam merasa tidak sanggup menangani kakak sepupunya seorang diri, pria itu lantas menghubungi sang ayah untuk datang ke rumah Tuan Bima.
Saat ayahnya sudah datang, Sam meninggalkan ayahnya untuk berbincang dengan Langit. Menyuruhnya memberi pengertian, agar kakak sepupunya itu bisa meredam kebencian dan perlahan memaafkan Tuan Bima.
"Lang, bagaimana keadaanmu?"
Langit yang tadinya tidak mengetahui kedatangan seseorang, kini langsung menoleh pada Om Edwin. "Om?" Langit merentangkan tangan untuk memeluk pria paruh baya yang tak lain adik Tuan Bima.
Seseorang yang menyaksikan itu di depan pintu hanya bisa memandang iri pada adiknya yang begitu dirindukan dan bisa memeluk Langit. Sedangkan dia yang ayah kandungnya tidak bisa melakukan itu. Mata Tuan Bima berkaca-kaca saat menyaksikan kedekatan Langit dengan Edwin.
"Kami sangat menantikanmu bisa segera bangun. Papamu begitu mencemaskan keadaanmu."
"Jangan bahas itu, Om. Om tahu bagaimana Langit belum bisa memaafkan kesalahan Papa."
"Lang, jangan berlarut dalam amarahmu. Om tahu kamu begitu marah karena perbuatan papamu, tapi dia telah menyesali perbuatannya. Dia telah menghukum Della dan Vino di penjara. Papamu mengajukan tuntutan seumur hidup. Tidakkah semua itu bisa meleburkan amarahmu."
Langit menunduk, sudut matanya berair dan dia selalu menyekanya agar tidak terjatuh.
"Aku sudah nyaman dengan hidupku, Om. Aku tidak ingin kembali ke sini, rumah ini mengingatkanku dengan keadaan waktu itu. Walau sudah sepuluh tahun berlalu, aku masih sangat ingat saat Papa mengusir aku dan Mama, jika dia telah menyesali perbuatannya, kenapa dia gak pernah mencariku. Kenapa baru sekarang, setelah kemarahanku semakin tertumpuk."
Edwin menghela napas panjang. Pria paruh baya itu kembali berkata. "Untuk itu jangan sepenuhnya menyalahkan papamu. Sebenarnya dia mencarimu, tapi Om yang menyembunyikan identitasmu. Kamu tahu jaringan Della dan Vino juga mengincarmu, Om tidak mau mereka menemukanmu dan melakukan rencananya untuk melenyapkanmu. Untuk itu, maafkan Om. Om memang sudah menyusun rencana, Om melindungimu secara diam-diam. Saat papamu sakit-sakitan, kamu pasti tahu jika Della dan Vino menguasai semua aset papamu, Om harus bekerja keras untuk mengalihkan semuanya. Setelah Della dan Vino berhasil Om jebak, barulah Om ingin memberitahukan keberadaanmu pada papamu. Tapi, sebelum Om sempat memberitahu, ternyata kabar kecelakaan istrimu bisa menyeret identitasmu ke jagat media, hingga Kak Bima tahu dengan sendirinya dan mengutus Sam untuk membawamu kesini." Panjang Lebar Edwin menjelaskan.
"Om tidak berusaha membela Papa, kan? Semua yang Om katakan bukan karangan Om?"
"Tidak, Langit. Om tidak mungkin mengarang cerita hanya supaya kamu memaafkan papamu, sama saja Om berbuat curang. Semua yang Om katakan memang itu kebenarannya. Sekarang, papamu sudah menyesali perbuatannya, Lang, tolong maafkan dia. Sebelum ...." Edwin menghentikan kalimatnya.
__ADS_1
"Sebelum apa, Om?"
"Sebelum papamu pergi menyusul mamamu." Suara Edwin melirih.
"Maksud Om?"
"Jaringan saraf pada tubuh papamu sudah rusak akibat dosis obat-obatan yang terus di berikan Della padanya. Della meracuni papamu secara perlahan dan membuat semua jaringan tubuh rusak, bahkan sebagian sudah tidak berfungsi. Untuk itu Lang, Om minta, maafkanlah papamu. Dia telah menerima ganjaran atas perbuatannya dulu yang sudah menelantarkanmu. Sebelum kamu juga merasakan penyesalan, Om harap kamu mau memaafkan dia."
Air mata Langit kembali menggenang, meski kemarahan dan kebenciannya masih ada, tetapi mendengar kebenaran itu membuat hatinya sedikit melunak. Apalagi dia tahu jika papanya sedang sakit parah, dia tidak mungkin tega berbuat lebih kejam dari ini. "Langit akan mencoba."
~
Dua hari kondisi Langit semakin membaik, satu per satu alat yang menempel pada tubuhnya sudah mulai dilepas.
Pria yang hanya bisa duduk di kursi roda itu mengamati putranya dari luar pintu. Setelah puas melihat keadaan Langit, dia menyuruh penjaganya untuk mendorong kursi roda kembali ke kamarnya.
Pagi ini seperti pagi yang lalu, Tuan Bima memperhatikan dari luar pintu kamar Langit saat dokter dan perawat khusus sedang bertugas memeriksa kondisi Langit. Mereka juga melakukan terapi untuk kaki Langit supaya bisa berjalan lagi.
"Kondisi Anda semakin membaik, Tuan Langit, jika begini, kemungkinan Minggu depan Anda bisa melakukan operasi kornea mata."
Langit mengangguk. "Terimakasih."
Setelah dokter dan perawat itu pergi, Tuan Bima menyuruh penjaganya untuk mendorong kursi roda kembali ke kamarnya, tetapi suara Langit menghentikan pergerakannya.
"Tunggu! Aku tahu Papa di sana?" Langit mencegah Tuan Bima yang akan pergi. "Aku ingin berbicara," suara itu mulai melirih tidak setinggi suaranya yang kemarin.
__ADS_1
Tuan Bima menyuruh pelayan itu berbalik. "Tapi, Tuan. Pikirkan kondisi Anda," penjaga itu tampak khawatir, sejak Langit berbicara sedikit kasar kemarin, kondisi Tuan Bima sempat menurun.
"Tidak apa, aku ingin mendengar putraku berbicara."
Penjaga itu akhirnya menghatarkan Tuan Bima di dekat ranjang Langit.
"Bicaralah, Lang. Papa akan mendengarkan. Walau kamu ingin memaki dan memarahi Papa seperti kemarin, Papa tetap akan mendengarkanmu."
Langit menghirup udara dan membuangnya perlahan, sebelum bersuara tetapi air matanya sudah menggenang. Perasaan sakit, kecewa juga rindu membaur menjadi satu. Dia tidak bisa mendeskripsikan mana yang lebih dominan. Namun, perasaan sayang juga masih besar dirasakan.
"Langit pengen peluk Papa." Bibir Langit bergetar saat mengatakan permintaan itu. Tak dipungkiri dia sangat merindukan pelukan seorang ayah yang sejak lama tidak bisa dia rasakan.
Mendengar permintaan putranya dengan senang hati Tuan Bima mengabulkan. Dia merentangkan tangan untuk menjangkau tubuh Langit sebisanya. "Maafkan, Papamu yang jahat ini, Nak. Papa menyadari, sangat tidak pantas dan sangat malu menginginkan kamu seperti dulu setelah semua yang terjadi, tapi, Papa ingin sekali menebus kesalahan Papa padamu. Di sisa umur ini, Papa ingin melihatmu bahagia."
"Pelukan ini. Pelukan ini yang selalu Langit rindukan. Setiap malam aku hanya bisa membayangkan pelukan ini tanpa bisa merasakan langsung. Ternyata pelukan Papa masih sangat nyaman."
Ayah dan anak itu saling memeluk dalam tangis haru. Semua jarak yang membentang telah tersingkirkan, jika Langit tidak mengurangi egonya, mungkin sampai saat ini belum memaafkan Tuan Bima, tetapi didikan dari Mamak membuat Langit tumbuh menjadi pria baik. Mamak sering memberi wejangan, "memaafkan itu lebih baik daripada menyimpan dendam. Orang yang legowo memaafkan kesalahan orang lain, kelak hidupnya akan lebih terasa damai."
"Ingat, Lang, dendam sesuatu yang hanya akan merugikan dan berujung penyesalan."
Ah, Langit jadi rindukan Mamak. Sungguh beruntung dia bisa di asuh Mamak, wanita kedua yang berperan dalam menggantikan peran ibunya.
"Kamu sangat baik mau memaafkan Papa atas semua yang terjadi. Papa sangat berterimakasih."
"Langit tidak mau ada penyesalan. Memilih memaafkan untuk mulai hubungan yang baru. Lang yakin, mama pasti senang dengan keputusanku."
__ADS_1