Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Puas kamu bikin saya malu


__ADS_3

Langit baru pulang dari Apotek membeli obat untuk Mamak. Pria itu hanya masuk sebentar menemui Mamak dan pergi lagi.


"Tumben lu ke sini, Lang?" tanya Kasep September.


"Ada penting ama lu."


"Weh, ngeri. Pakek penting segala, dah kek pejabat aja," seloroh Kasep.


"Gua serius, Sep." Wajah Langit sangat serius.


"Woke-woke, serius, nih. Ada apa?"


"Gua pinjem duit," ucap Langit lirih, takut kedua orang tua Kasep mendengar.


"Wuih? Ada gerangan apa nih tukang bakso banyak pens pinjem duit?"


"Buat modal bakso. Gua kehabisan modal. Ntar malem gua balikin, serius." Langit meyakinkan.


"Butuh berapa lu?"


"Lima ratus ribu, aja."


"Tunggu bentar!" kata Kasep.


"Eh, Sep!" Langit memanggil, mencegah Kasep yang akan masuk ke dalam.


"Apaan?" Kasep berbalik.


Langit menggaruk pinggiran pelipis juga setengah menyengir. "Jangan ketahuan Amak Apak. Gua malu," ujarnya.


Kasep terkekeh. "Woke, santai aja!" Pria yang lebih muda dari Langit itu kembali melanjutkan langkah masuk ke rumah.


Tak lama dari itu, kembali lagi membawa buku. Lalu diberikan pada Langit.


"Makasih. Ntar malem, pulang jualan gua wa lu."


"Santai aja," sahut Kasep.


"Gua cabut," pamit Langit. Kasep mengangguk.


__ADS_1


Mengendarai motornya pulang ke rumah, seusai tadi berbelanja di pasar tradisional. Bibir Langit tak henti menyunggingkan senyuman. Dia senang hari ini bisa berjualan meski waktunya terlalu mepet.


Jika biasanya sehabis zuhur dia sudah mendorong gerobak bakso, tapi hari ini jam dua siang dia baru pulang dari pasar, mungkin sekitar jam lima sore dia baru membuka warung tendanya. Tak apa, dia percaya jika rezeki akan tetap ada jika seseorang mau mencari.


Langit menurunkan belanjaan dan mengusung ke dapur, Mamak yang baru dari kamar mandi sedikit terkejut melihat Langit membawa belanjaan.


"Lang, apa kamu mau jualan?" tanya Mamak.


"Iya, Mak. Udah seminggu gak jualan, takut pelanggan pada kabur. Lagian Lang gak ada kerjaan daripada nganggur." Tangan Langit dengan cekatan membongkar belanjaan dan menyiapkan panci besar untuk diisi air; proses membuat kuah bakso.


"Tadi kamu baru pulang. Apa nggak capek?"


"Enggak, Mak. Lang malah capek mondar-mandir gak ada kerjaan."


"Kamu nggak nemenin istrimu, dia belum masuk kerja, kan?"


Langit diam sejenak. Membicarakan Bening, pikirannya mendadak kacau. Teringat dengan pertengkarannya tadi.


"Lang udah ijin. Mbak Bening tau, kok." Dia terpaksa berbohong.


Mamak berjalan pelan dan duduk di lantai. Wanita paruh baya itu menyiapkan cobek besar dan akan memulai mengulek bumbu.


"Mak ... Mamak masih sakit, biar Lang aja yang halusin bumbunya. Ntar tangan Mamak sakit."


Langit menyengir ke arah Mamak. Meski begitu, tangannya begitu cekatan membuat pentol bakso dengan berbagai ukuran. "Mamak yang takerin bumbu, ntar Lang yang halusin. Mamak mantau aja," ujarnya.


Mungkin jaman sekarang, orang-orang akan memanfaatkan alat canggih seperti blender untuk menghaluskan bumbu, namun Langit dan Mamak tetap membuat bumbu secara manual; mengulek bumbu dengan cobek besar. Karena menurut mereka lebih hemat juga lebih enak rasanya.


Mamak meracik bumbu dengan mata berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu mengingat seperti apa masa kecil Langit, jauh berbanding terbalik dengan kehidupan yang sekarang. Hidup memang tak ada yang tahu seperti apa masa depan yang akan kita jalani.



Pukul lima sore gerobak bakso Langit baru sampai di Jalan Lobak Kemangi. Pria dengan topi hitam itu segera memasang tenda orange.


Dua orang perempuan langsung ngacir menghampiri Langit begitu pria itu terlihat di pandangan mereka.


"Astaga, Bang Lang! Saya kira udah pindah dan gak jualan di sini lagi. Lama gak jualan, ke mana aja, Bang? Kita sampek kangen sama Abang. Eh, bakso Abang maksud saya." Salah satu wanita itu menyapa Langit.


Meski sibuk memasang tenda, Langit sempatkan waktu untuk melihat ke arah mereka dengan memasang senyum.


"Saya lagi ada keperluan, Neng. Kalo saya pindah, saya bakal kasih pengumuman biar pelanggan gak pada nyariin."

__ADS_1


"Ho'oh, tuh, Bang. Mustinya Abang tuh bikin pengumuman biar kita gak bingung nyari Abang."


"Mau makan bakso?" tanya Langit yang sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Iya, dong, Bang. Dua porsi. Satu gak pakek daun seledri sama yang atu gak pakek bihun."


"Oke, siap, Neng."


Sampai pukul tujuh malam pun tenda Langit masih ramai pembeli, sebagian sampai ngantri demi memesan bakso yang sudah lama tidak berjualan.


"Eh, laper. Coba kita mampir ke bakso itu. Kemarin dapet rekomendasi, katanya bakso disitu enak banget, gak kalah sama yang di cafe-cafe. Sekali-kali kita coba makan dipinggir jalan."


"Okelah."



Selesai makan malam, Bening membuka laptop untuk memeriksa email yang masuk. Fokus Bening teralihkan saat ponselnya bergetar. Lagi-lagi grup alumni yang mengirim pesan, Bening mencoba tak menghiraukan. Dia mengira obrolan tak penting.


Sesaat kemudian terlihat salah satu temannya memanggil. Dia penasaran dan segera menjawab, tapi bagaikan kena prank. Panggilan itu terputus begitu saja.


Indah, mengirim pesan pribadi. "Liat postingan di grup!"


Membaca itu membuat Bening penasaran. Jantungnya mulai berdentam-dentam memukuli rongga da da. Ada gerangan apa, mendadak perasaanya tak enak?


Bening nampak ragu untuk meng-klik pesan dari grup. Tapi pesan semakin banyak yang masuk.


Deg ....


Tubuh Bening mendadak menegang. Jantung yang berdetak semakin kuat sampai ingin loncat dari tangkainya. Tangan yang memegang ponsel sampai bergetar dengan pelupuk mata yang basah dengan genangan cairan Bening.


Dua tetes kristal bening sudah berhasil lolos. Hidung bangirnya kembang kempis, dengan kepalan telapak tangan. Hatinya ikut diremas sedemikian rupa. Dia menangis, dia terisak.


"Mbak, saya pulang." Pukul sembilan malam, Langit sudah kembali ke rumah Bening. Terakhir ada segerombolan orang yang memesan bakso sampai ludes di jam setengah delapan tadi. Dia mendorong gerobak bakso kembali ke rumah Mamak, membereskan dagangan, menghitung uang yang dibawa pulang, mandi, pergi ke rumah Kasep dan barulah pulang ke rumah Bening. Seluruh badan serasa remuk redam karena aktivitas yang dilakoni begitu melelahkan. Tapi dia sudah berjanji dengan Bening akan pulang sebelum jam sepuluh malam.


Bening diam saja tanpa menyambut suaminya dengan senyuman atau segelas minuman. Langit memahami, mungkin Bening masih lelah dan kesal dengannya.


Pria itu mendekat, dia menaruh uang di atas meja depan Bening.


"Ini uang buat Embak. Maaf cuma segini, tadi kepotong buat nebus obat Mamak," ujar Langit jujur.


Bening bergeming. Tanpa melihat Langit, atau uang receh yang diberikan suaminya itu. Perasaanya diliputi kemarahan.

__ADS_1


"Puas kamu bikin saya MALU!" pekik Bening.


__ADS_2