Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Semua Mengejutkan


__ADS_3

Tiba saatnya mata Bening harus di operasi, wanita itu meremas cemas jemari tangan karena menunggu kedatangan Langit dan Mamak.


Tak lama dari itu yang ditunggu pun datang, mereka memberi semangat dan doa semoga semuanya lancar.


Usai Bening masuk ke ruang operasi, tak lama itu Langit pamit untuk pulang karena mengeluh sedikit pusing. Mama Has tentu mencegah dan menyuruh Langit untuk di rawat kembali, tapi sebisa mungkin Langit memaksa kehendak.


Di tempat lain Mamak menangis tersedu-sedu, tapi tak bisa berbuat apapun. 'Mak selalu dukung kamu, Lang, meski ini bukan keputusan yang baik. Semoga semua berjalan lancar.'


Perawat mengamankan Mama Has supaya tidak melihat seseorang yang akan mendonorkan mata untuk Bening, begitu kesepakatan sebelumnya. Mama Has sangat penasaran tapi tidak bisa memaksa.


~


Lamanya menunggu seorang diri, kini lampu di atas pintu ruang operasi itu sudah padam, itu artinya operasi sudah selesai dan berjalan lancar. Mama Has mengucap syukur untuk semuanya, Bening bisa melihat lagi setelah ini.


Mama Has tak lantas mengikuti Bening, dia bersembunyi di balik kamar yang lain, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya tentang seseorang yang telah berbaik hati mendonorkan kornea mata demi anaknya.


Brankar Bening sudah keluar lebih dulu dan akan dipindah ke kamar rawat yang sebelumnya. Kini pintu operasi kembali terbuka dan brankar si pendonor itu juga akan keluar. Mama Has bersiap untuk memasang matanya agar jeli melihat seseorang itu.


Satu ... dua ... tiga ....


"Hah?" Mama Has membekap mulut yang hampir berteriak memanggil nama seseorang. Tubuhnya membatu dengan bola mata membesar dan detik berikutnya cairan bening memenuhi kelopak mata.


Tubuh Mama Has merosot ke bawah. "Kamu bilang gak akan mungkin ngelakuin ini, Lang." Dia memegang dada yang terasa sesak. Tidak menyangka jika pendonor untuk Bening adalah Langit. Pantas saja pendonor itu melakukannya dengan suka rela. 'Astagfirullah halazdhim.' Dia tahu bagaimana keadaan Langit, setelah ini, apa yang akan terjadi dengan menantunya itu.


Sembunyi dan mengendap-endap Mama Has mengikuti brankar Langit, dia ingin tahu di mana pria itu akan di rawat. Ada pemikiran untuk berganti balas budi dengan membiayai operasi paru-paru Langit dengan cara yang sama, yaitu tidak akan memberitahukan siapa yang bersedia membiayai operasinya, dengan begitu Langit tidak akan menolaknya.


Di ruang rawat Langit ternyata Mamak sudah menunggu di sana, berarti Mamak sendiri tahu tentang rencana ini. 'Pengorbananmu sampai sebesar ini, Lang.'


Setelah mengetahui kamar rawat Langit, Mama Has berjalan gontai untuk kembali ke ruang Bening. Pikirannya berkecamuk.


~


Berapa jam telah berlalu. Mama Has sampai tertidur di sisi Bening. Tubuhnya kini terlihat kurus dari sebelumnya karena banyaknya nafsu makan yang hilang.


"Ma!" Bening memanggil dengan suara pelan. Meski begitu, suara itu tetap di dengar Mama Has.


"Dek, kamu sudah sadar?"

__ADS_1


"Adek, haus, Ma."


"Sebentar Mama ambilkan."


Setelah tenggorokannya dialiri air, Bening berusaha bangun dan bersandar di head bed. Kedua matanya masih di dibebat kain kasa.


"Mama sendirian?"


"Iya, Mama sendirian."


"Langit dan Mamak, mana?"


Mama Has terdiam. 'Kondisi Langit sekarang masih sama sepertimu, Dek! Bahkan semakin lemah dan mungkin makin melemah.' Ingin rasanya menjawab demikian, tetapi semua itu tidak mungkin.


"Langit dan Mamak pulang, paru-parunya Langit kembali kambuh dan Langit sedikit kesulitan untuk bernapas, makanya dia pamit pulang." Sengaja Mama Has berbicara begitu supaya Bening memikirkan Langit.


"Ma ... Mama setuju gak kalau Be bayarin operasi paru-paru Langit."


Mama Has terkesiap, namun berikutnya dia tersenyum. Dia pikir akan kesulitan untuk meminta persetujuan Bening tentang hal itu, tapi kini Bening sendiri yang menawarkan.


"Setuju. Mama sangat setuju. Mama akan ikut membantu."


~


Detak jantung berbunyi nyaring namun terdengar mencekam bagi Mamak. Perasaanya tetap cemas sebelum melihat Langit sadar. Dokter memberi keterangan, jika semua normal tidak lama Langit sudah terbangun, tapi sudah lewat dari jam yang diperkirakan tetap saja tubuh Langit tidak memberi respon.


Dokter dan perawat masuk untuk memeriksa kondisi Langit. Setelah itu memberi kabar buruk jika kondisi Langit semakin melemah dan kini kritis.


Tubuh Mamak melemas, wanita lanjut usia itu hanya bisa berpasrah seperti pesan Langit, jika sesuatu terjadi dengannya Mamak harus ikhlas.


Beberapa saat setelah kepergian dokter. Perhatian Mamak kembali pada sebuah pintu yang sedang diketuk seseorang dari luar. Jantung Mamak sedikit berdebar, pasalnya tidak ada siapapun yang tahu kamar rawat ini.


Tok ... tok ....


Pintu ruangan di ketuk, tak lama itu muncul seseorang yang membuat Mamak sangat terkejut. Tubuhnya terasa kaku hanya untuk bernapas. "Nak ...." Suaranya tercekat.


~

__ADS_1


Mama Has berpamit ingin membeli makanan, dia meninggalkan Bening sendirian di ruang rawatnya.


Kaki Mama Has menyusuri lorong yang kemarin dia datangi, yaitu ruang rawat Langit. Saat perawat berbeda orang keluar dari ruangan itu Mama Has mencegat dan melayangkan pertanyaan.


"Sus, saya keluarga pasien yang ada di dalam. Saya mau tanya bagaimana keadaannya?"


Perawat itu tidak tahu jika pasien bernama Langit harus disembunyikan identitasnya, hingga perawat itu menjawab jujur. "Kondisi pasien semalam melemah dan kini dinyatakan koma."


"Apa?! Ko-koma?!" Tidak ada yang lebih mengejutkan dari ini. Tubuh Mama Has hampir limbung di lantai jika perawat tadi tidak sigap menyangga tubuhnya.


"Ya Tuhan ... Langit, koma?" Mama Has terhenyak, wanita paruh baya itu di dudukan di kursi tunggu. Dia meredam suaranya agar Mamak tidak mendengar.


~


"Ma, Langit dan Mamak belum dateng?" Walau bebatan di kedua matanya belum dibuka, tapi Bening tahu jika Mama Has sudah kembali dan duduk di sampingnya.


'Apa mungkin Langit tidak akan menemuimu lagi.' Lagi-lagi air mata Mama Has menggenang.


Tok ... tok ....


"Apa itu mereka, Ma?"


Mama Has melihat ke pintu, dia bisa menduga itu bukan Langit, tapi bisa jadi itu adalah Mamak.


Namun, tebakannya salah. Notaris dari pengurus semua berkas penting.


"Selamat pagi, Bu Bening, Nyonya Has."


"Selamat pagi, Pak Hamdan." Pria paruh baya menggunakan kaca mata itu mendekat dengan membawa tas jinjing.


"Ada apa, Pak." Mama Has sedikit cemas. Ada hal penting apa sehingga pria tersebut datang menemuinya.


"Nyonya dan Nona, mohon maaf saya ke sini ingin menyampaikan sesuatu. Semua aset Nona Bening telah di alih nama dengan Bapak Doddy Hermansyah dan Ibu Sarah Herawati."


"Apa?!" Bening dan Mama Has berteriak terkejut.


"Apa-apaan, Pak. Bapak tahu jika itu aset milik keluarga saya. Kenapa tiba-tiba alih tangan!" sentak Bening.

__ADS_1


"Tapi di berkas itu sudah ada tanda tangan Nona yang menyetujui."


"Tidak mungkin! Itu pasti tanda tangan palsu!"


__ADS_2