Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Selalu direndahkan


__ADS_3

Seusai makan malam, Langit dan Bening memutuskan menghabiskan waktu duduk di balkon kamar untuk sekadar bersantai dan menunggu rasa kantuk datang.


Sikap Bening sedikit membaik; tidak lagi menghindar ketika Langit mengajaknya berbincang. Namun, hubungan mereka belum bisa dikatakan seperti suami istri karena keduanya belum sedekat seperti pasangan lainnya. Bahkan mereka belum saling mengerti tentang perasaan yang sesungguhnya.


"Anginnya kenceng banget, Mbak. Embak gak kedinginan," ujar Langit.


"Nggak terlalu dingin," jawab Bening tanpa meninggalkan layar ponsel yang menyala. Wanita itu asik berbalas pesan dengan grup alumni teman kuliahnya.


Merasa diabaikan, Langit menggeser duduknya. "Embak!"


"Apa, Rengit! Saya lagi sibuk bales wa." Seolah kalimat Bening memberi kode pada Langit untuk tidak menggangu aktifitasnya.


"Saya dianggurin." Langit pura-pura bersedih. Dia ingin mencari perhatian Bening.


"Ini penting, biar saya nggak ketinggalan update terbaru dari temen-temen saya."


"Saya bete', terus saya mau ngapain? Tadi lupa nggak bawa iPad."


"Ya ngapain gitu. Terserah kamu." Bening benar-benar tidak melihat ke arah Langit sedikitpun.


"Mereka ada-ada aja mau comblangin saya sama Andre," ucap Bening.


Langit hanya memperhatikan setiap gerak-gerik wanita di sampingnya. Wanita yang terlihat sangat bahagia dengan dunianya. Apa Bening benar-benar tidak menganggap dia ada, sampai kalimat barusan harus diucapkannya.


Hati Langit kembali mencelos. Entah sampai kapan keberadaanya tidak di anggap bahkan tidak dihargai.


Terdengar suara tawa Bening tanpa jeda. Wanita itu sangat asik berbalas pesan sampai tidak memperdulikan sekitar.


"Uhuk-uhuk ...." Bening terbatuk-batuk saat terdesak air ludah sendiri. "Rengit! Uhuk-uhuk, tolong bikin jus, dong. Tenggorokan saya butuh yang segar-segar. Buatkan jus mangga, jangan manis-manis dan tambahin es batu," perintah Bening.


Karena batuk Bening tak henti-henti, akhirnya Langit beranjak ke dapur untuk membuat jus seperti permintaan Bening.


Tak lama pria itu sudah menaiki tangga membawa nampan berisi jus dan kopi. Saat membuka pintu kamar, suara tawa Bening kembali terdengar. Langit hanya mengembus napas panjang.


"Embak, ini jusnya," ujar Langit.


"Oh iya, makasih."


Langit kembali duduk di tempat semula. "Udah asikkan sama temennya?" sindir Langit.


"Udah," jawab Bening singkat tanpa menoleh.

__ADS_1


"Embak ...!"


"Em?"


"Masih marah sama si ganteng ini?"


"Idih?!" Bening menoleh dengan menyipitkan mata. Seolah tidak setuju dengan perkataan pria itu yang mengatai dirinya sendiri tampan.


"Marah nggak marah. Mau gimana lagi, itu mau kamu. Tapi jangan nuntut dan salahin saya kalo saya nggak mau beberin status kita."


"Bukannya saya gak mau nerima bantuan Embak. Saya laki-laki sekaligus kepala rumah tangga, saya malu harus bergantung dan merepotkan Embak. Seolah saya gak bisa mandiri dan hanya bisa bersembunyi di belakang istri. Atau memanfaatkan jabatannya saja. Dalam pikiran saya, justru seperti itu akan dipandang rendah oleh mereka," terang Langit mengutarakan pemikirannya dengan serius.


"Padahal saya nggak kepikiran sejauh itu. Pemikiran kita berbeda. Justru pekerjaanmu sebagai tukang bakso itu yang menurutku sangat rendah. Pikirkan Rengit! Istrimu ini seorang CEO di perusahaan besar, harkat dan martabat saya dipandang tinggi oleh mereka. Dan kalo mereka tau suami saya cuma tukang bakso, akan semalu apa wajah saya?! Jangan egois. Ini bukan permintaan, tapi ini perintah. Tapi jika kamu benar-benar kolot dengan pemikiranmu. Terima aja konsekuensinya, saya nggak akan akui di depan publik. Kita akan tetap seperti ini!" Bening terlihat emosi saat mengatakan serangkaian kalimat panjang tentang pemikirannya yang berbeda dengan Langit. Dia galak dan keras, tetap tidak mau memahami dan menerima keputusan Langit.


Dengan membuang napas kasar Bening bangun dan masuk ke dalam.


"Mbak!"


"Embak!!"


Panggilan Langit sama sekali tak digubris. Dia menjatuhkan diri di ranjang dan menutup badan dengan selimut sampai sebatas dagu.


Langit menyusul masuk dan duduk di sisi yang lain. "Mbak," panggilnya lirih.


"Baiklah, selamat malam, keturunan bidadari. Semoga mimpi indah." Langit menahan amarah dan berusaha tetap sabar. Bahkan masih mengucap ucapan selamat malam dengan lembut. Dia merebahkan diri di samping Bening.


Bening sendiri membuka mata dan menoleh ke arah Langit. "Dasar egois! Apa nggak bisa bandingin, kerja kantoran itu jauh lebih baik daripada tukang bakso! Di kasih enak malah sok nggak mau! Pantes hidupmu dari dulu mungkin gitu-gitu aja, karna pikiranmu gak maju! Kamu sangat kolot!"


Ucapan Bening memang lirih namun masih bisa di dengar Langit. Pria itu tetap memejamkan mata tanpa mau meladeni lagi.



Pagi ini menjadi pagi yang kurang cerah untuk Bening. Jika beberapa hari lalu dia murung karena Langit tak kembali, tetapi kali ini Langit berada didekatnya dia justru uring-uringan.


"Embak belum selesai?"


"Kamu bisa liat sendiri saya udah selesai apa belum. Gak usah nanya-nanya!"


Langit menutup mulut. Pertanyaan ke limanya masih mendapat jawaban sangat ketus dari Bening.


"Saya tunggu di bawah, ya, Mbak."

__ADS_1


Bening hanya melirik tanpa memberi jawaban. "Apes dapet suami masih labil. Bukan labil, tapi kolot. Yah ... pikirannya terlalu kolot. Jadi nggak pernah maju. Kalee sampek tua bakal jadi tukang bakso aja!"


Lagi-lagi apa yang bisa Langit bantah, dia memilih mengembus napas pelan dan keluar.


"Pagi, Ma," sapa Langit.


"Pagi, Nak Langit. Tumben sendiri?"


"Mbak Bening belum selesai bersiap."


Tak begitu lama high heels Bening terdengar keras menuruni anak tangga.


"Pagi, Ma."


"Pagi,"


"Dek, kata Mang Juri mobilnya belum selesai di servis dan masih di bengkel. Kamu berangkat di antar Nak Langit dulu, ya."


"Ah, enggak-enggak! Bening berangkat naik taksi aja!" tolak Bening cepat tanpa memikirkan perasaan Langit.


"Adek, dia suamimu. Tidak apa sekali-kali berangkat diantar Nak Langit. Biar orang-orang tau kalo kamu udah punya suami."


'Aduh, mending Bening di anggap belum punya suami daripada orang-orang tau siapa suami Bening, Ma.' Batin Bening berontak ingin menjawab, tapi jelas tidak berani dengan Mama Has.


Langit diam saja tanpa mau menyahut percakapan mereka. Dia tahu emosi Bening belum surut, apapun yang dikatakan takkan diterima baik oleh wanita itu.


Kluting ...


Ada pesan masuk di ponsel Bening. Dia mengambil ponsel dan tampak menahan keterkejutan.


Langit mengernyit penasaran tapi tak bisa langsung bertanya.


"Ma, Bening berangkat sekarang ya."


"Belum habis sarapannya,"


"Ditunggu temen di depan. Dia satu arah jadi Bening nebeng dia."


Bening beranjak keluar rumah hanya melirik sekilas ke arah Langit.


"Nak Langit sedang marahan sama Bening?" tanya Mama Has yang sedari tadi mengamati keduanya.

__ADS_1


Langit tersenyum. "Hanya masalah kecil, Ma. Langit bercanda sedikit keterlaluan dan Mbak Bening marah."


__ADS_2