Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Godaan atau ujian


__ADS_3

Usai shalat maghrib, Langit pergi ke dapur mengambil makan. Di sana ada Mamak juga sedang sibuk dengan pisau dapur.


"Mak udah makan?"


"Mak lagi gak nafsu makan. Kamu aja yang makan," jawab Mamak, tanpa berbalik melihat Langit. Wanita lanjut usia itu tengah mengupas bawang merah. "Kamu mau ke rumah istrimu sekarang?" lanjut Mamak.


"Gak tau, Mak. Langit gak tega ninggalin Mamak. Tadi wa Habibah, tapi besok ada ulangan, dia gak bisa nemenin Mamak." Langit sangat lahap memakan sayur buatan Mamak. Pindang ikan baung, tahu goreng, kerupuk udang dan bakwan dari tetangga.


"Mamak sendirian gak pa-pa. Sana, kamu pulang ke rumah istrimu! Dia nungguin kamu, Lang."


Langit menghentikan gerakan tangan. Diam menatap nasi juga lauk yang hanya tinggal setengah. Nungguin?! Hebat kalo dia nungguin Langit, Mak! batin Langit.


"Biarin ajalah, Mak, malam ini Langit gak pulang. Tadi udah bilang juga sama mama


Has."


Mamak berbalik, menatap Langit dengan sorot tajam. Seolah memberi arti tidak setuju dengan ucapan Langit. Akhirnya wanita lanjut usia itu memindahkan baskom berisi bawang merah yang belum dikupas ke atas meja kayu di depan meja Langit.


"Jangan dibiasakan begitu, Lang. Kamu wajib pulang. Temui istrimu, siapa tau dia nunggu."


Langit mengembus napas pelan. "Iya, Mak. Nanti Langit pulang. Tapi Mamak harus janji ngabarin Langit kalo ada apa-apa!" pesan pria itu dengan menyorot penuh khawatir.


Mamak justru membalas dengan senyum menenangkan. "Iya, Mamak janji. Dah, gak usah terlalu khawatir."


Pukul sepuluh malam Langit berpamitan sama Mamak. Sebenarnya tak tega meninggalkan Mamak sendirian di rumah itu. Namun, apa bisa dibantah, bila Mamak sendiri yang memaksanya.


Pria itu membawa tas ransel yang digendong diatas punggungnya. Ada berapa barang yang dibawa, seperti laptop beserta charger-nya, i-pad dan barang lainnya.


Motor matic keluaran lama mulai dihidupkan mesinnya, dia menengok sebentar pada pintu rumah. Di sana ada Mamak yang masih mengawasi pergerakannya.

__ADS_1


Melewati gang sempit, terlintas peristiwa dedemit mbak kun. Pria itu mempererat tarikan gas motor sampai ban menggelinding dengan cepat. Jalan terjal diterjang begitu saja, motor hampir saja oleng saat menerabas jalan berlubang.


Din ... din ....


"Lang ... oooeee!!! Lu naik motor kenapa kek orang kesetanan gitu! Muke gile, ada lubang segitu gede ditrabas!"


"Haha ... ngejar apaan, sih, lu?"


Dua pemuda yang sama-sama mengendarai motor berteriak demi menyapa Langit. Pria itu segera mengendurkan gas motor sampai laju jalannya mulai melambat.


Langit ikut terkekeh saat dua pemuda yang menyapanya tadi tertawa lebar. "Anjir, ngagetin aja, Sep, Ted!" balas Langit pada dua pemuda yang berpakaian rapi. Sampai di ujung jalan, mereka berhenti.


"Mau kemana dah malam begini malah ngeluyur bawa ransel gede? Kek mau minggat aja, lu!" seloroh pemuda yang diketahui bernama Kasep. Cerita singkat tentang pemberian nama Kasep. Waktu itu saat ibunya Kasep hamil, ditafsir melahirkan pada bulan Agustus, namun kenyataanya sampai akhir bulan September, pemuda dengan rambut ikal itu belum juga lahir. Maka dari itu, kedua bapak ibu Kasep menamainya dengan Kasep September. Lanjut ke jalan cerita.


"Ada urusan," jawab Langit singkat. "Kamu mau kemana, rapi banget?"dia balik memberi pernyataan.


Langit mengernyit, nampak sekali jika pria itu sedang menimang sesuatu. Satu menit, dua menit, dia tetap tercenung walau Kasep September dengan Teddi Jeber sudah berlalu karena kesal dicueki. Pria itu asik dengan pertimbangannya. Saat sudah sadar, dia telah kehilangan dua temannya tadi.


"Sialan, mereka ninggalin aku!" umpat Langit, lalu kembali melajukan motornya.


Mbrem-mbrem ....


Motor matic yang sedikit mengeluarkan asap itu sudah terhenti. Namun, berbeda dari izin dengan Mamak tadi. Nyatanya pria itu malah ikut berhenti di depan warnet Jang Jupri.


Dia memilih berhenti di sana untuk mengerjakan sesuatu.



Buk ... buk ....

__ADS_1


"Hiiiihh!!!!" Bening memukul-mukul guling tidak bersalah yang ada di sampingnya. "Tidur, Be! Ngapain, sih, melek terus!" kesalnya dengan diri sendiri.


"Kamu gak mikirin dia 'kan?! Idih ...."


"Tapi, kenapa dia gak pulang, ya? Apa dia marah soal tadi?"


"Hei, mau marah kek. Mau ngambek, kek. Bodo' amat, 'kan?! Ngapain coba dipikirin!"


Posisi telentang dia rubah tengkurap. Menyusrukan wajah pada bantal. Bertahan berapa detik, lalu dia angkat lagi kepalanya. Mendongak melihat jam di dinding ternyata sudah hampir jam dua belas malam.


Kesal hati dan pikirannya tak sinkron, wanita itu bangkit ke kamar mandi.



Langkah Langit hampir tak terdengar saat menaiki anak tangga di rumah Bening. Membuka pintu dengan gerakan amat sangat pelan. Beruntung kamar tidak dikunci.


Gelap, pertama kali membuka pintu disuguhi cahaya remang-remang yang berasal dari lampu hias. Meski begitu manik Langit bisa melihat seluet tubuh yang teronggok di atas bed cover.


Langit menaruh ransel di lantai dan di belakang pintu. Jam menunjukan pukul tiga pagi. Pria itu berjalan pelan mendekati Bening, menatap lekat. Pria itu tersenyum tipis dengan menggeleng pelan. "Masih aja ngelukis pulau Nusa Kambangan," bisiknya.


"Eugh, Rengit ...." Bibir Bening berucap lirih.


"Eh," kaget Langit. Dia hampir saja lari, sebelum Bening membuka mata dan mendapati dia menatapi wanita itu.


Namun, beberapa saat tak mendapati Bening bangun. Ternyata istri galaknya hanya mengigau. Lagi, sudut bibir Langit terangkat. Tersenyum samar. Lucu juga melihat wanita itu mengigau.


Pergerakan wanita itu membuat baju tidur yang dipakai tersingkap ke atas, hampir saja sampai ke pangkal paha. Langit melotot hampir keluar saat kain segitiga terlihat menyempil. Dia meneguk air ludah susah payah. Cobaan atau ujian? Cukup sulit.


Godaan sangat berat saat paha putih mulus terpampang nyata di depannya.

__ADS_1


__ADS_2