Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Feel-nya buyar


__ADS_3

"Aaa' ... Aem!"


"Rengit! Nyebelin!" Bening cemberut. "Saya laper tau, dari kemarin belum makan," serunya dengan nada ngegas.


"Saya juga laper, Mbak. Dari seminggu belum makan. Gak doyan makan gara-gara mikirin bidadari Abang ini." 'Ting' Langit mengedipkan sebelah mata. Menggoda sang istri yang sudah memasang senyum malu. Menyenangkan juga mendengar Langit berkata 'Gak doyan makan gara-gara mikirin bidadari Abang ini' Uwu banget, kan? Hati Bening dipenuhi bunga-bunga cinta yang bermekaran. Untuk saat ini, tapi entah untuk hari lusa. Mengingat kebersamaan mereka selalu diwarnai pertengkaran.


"Gombal!" sahut Bening menahan senyum.


"Tapi Embak seneng kan saya gombalin." Langit menaikturunkan kedua alisnya. Lagi-lagi menggoda perempuan di depannya.


"Cepetan suapi saya, malah canda mulu!" kata Bening.


Langit kembali menyuapi Bening, sesekali mengarahkan sendok ke mulutnya. Ya, mereka makan sepiring berdua. Saat ini tak ada yang lain karena Mama Has pamit pulang lebih dulu. Bukan karena apa, tetapi ingin memberi kesempatan untuk anak dan menantunya supaya lebih dekat.


"Mau minum," pinta Bening. Langit mengambil gelas di atas meja dan mengusungkan di depan wanita itu. "Udah kenyang," katanya. "Kamu habisin aja."


Bening tak beralih menatap Langit saat pria itu menunduk sedang menikmati makannya. Senyum tipis terbit menghiasi wajah Bening, saat ini rasa bahagia masih besar menyelimuti hati. Tak ada bayangan sedikitpun bisa Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan. Pria dengan umur terpaut lumayan jauh dari umurnya. Pun dengan tingkah konyol dan mengesalkannya, tapi justru itu yang membuat Bening merindu.


"Mbak, udah. Gak usah ditatap terus, ntar makin jatuh hati sama ketampanan hakiki saya. Ntar lebih sulit lagi lepas dari pesonanya."


Bening memutar bola mata malas. "Huuuuhhh!"


Tok ... tok ....


Pintu diketuk. Dokter dengan satu perawat datang dan menghampiri brankar Bening. "Bagaimana Nona? Ada yang dikeluhkan?" tanya Dokter. Sedangkan perawat memasang alat untuk mengecek suhu badan dan tekanan darah Bening. Usai menulis laporan, perawat memberikannya pada dokter.


"Semua sudah membaik. Suhu badan sudah normal. Sepertinya sore ini Nona Bening sudah bisa pulang." Dokter menjelaskan.


"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Langit.



Seperti kata dokter, sore ini Bening sudah bersiap meninggalkan ruang rawat yang sejak kemarin dia tempati.


Langit membawa tas juga menuntun langkah sang istri. Di lobi terlihat Mang Juri tergopoh-gopoh menyambut majikannya. "Biar saya saja yang bawa, Mas." Mang Juri merebut tas pakaian yang tadi dipegang Langit.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Mang Juri mulai melaju ke jalan raya.


Bening yang memang masih sedikit lemas hanya bersandar di bahu Langit.


"Mbak tidur aja kalo ngantuk."


"Hem."


"Ohya, Mbak. Tadi Mamak telpon, suruh nyampein kata maaf gak bisa jenguk Embak. Kemarin pas pulang ke kampung, mungkin kecapekan, jadi badannya agak kurang enak. Gitu katanya."


"Oh, ya gak papa. Besok kalo udah sembuh banget, saya mau nginep lagi tempat kamu. Kangen sama Mamak dan masakannya."


"Kalo sama saya?"


"Enggak! Kamu nyebelin!"

__ADS_1



Usai makan malam Bening meminta istirahat di kamar saja. Ingin merebahkan tubuh dan bermanja-manja ria dengan suami lama namun rasa baru.


"Rengit, kamu belum ngantuk?" tanya Bening dengan fokus pada pria yang masih asik mengotak-atik layar iPad.


"Iya, Mbak, bentar lagi."


Terdengar hembusan napas kasar. Tapi tentu saja Langit tidak mendengar.


Melirik dari ujung matanya, terlihat Bening sedang cemberut, lalu pria itu mematikan layar iPad-nya. Beranjak menghampiri Bening. "Apa saya udah boleh tidur di sini?" Langit menunjuk sisi tempat tidur samping Bening.


"Au'!" jawab Bening acuh.


"Gitu aja ngambek sih, Mbak." Langit duduk. "Kalo ngambek gitu nambah emesin lho."


Bening bergeming.


"Mbak, inget gak ini malam apa?" tanya Langit lagi.


Bening mengerutkan dahi, nampak mengingat-ingat. "Sepertinya malam Jum'at."


"Nah, itu."


"Nah, itu apa?"


"Mbak tau, malam Jumat itu waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk ibadah suami istri." Langit memasang wajah bringas, sang istri pasti mengerti.


"Heuh ... ini nih, bacaannya naskah kotrak mulu' tapi gak pernah baca buku ibadah setelah nikah. Ibadah suami istri itu, kek gini lho, Mbak." Langit memperagakan dua orang berciuman lewat tangannya.


Bening masih mengerut dengan tatapan aneh. Namun belum berkomentar.


Langit menggaruk kepala bagian belakang. Bagaimana dia akan menjelaskan secara gamblang.


"Mbak gak maksud?!" Langit bertanya dan Bening memberi jawaban menggeleng. "Gimana kalo kita langsung praktek," usul Langit.


"Heh, belajar materi aja belum udah main praktek-praktek! Aneh!"


"Kelamaan kalo ngasih materi dulu. Keburu yang ono gak bisa dikendalikan."


Bening kembali menatap dengan aneh.


"Embak ...."


"Hem?"


"Yuk, praktek, yuk. Ntar bakal merem melek deh?" rayu Langit. Sedikit menggeser posisi duduk menjadi lebih dekat dengan Bening.


Jantung Bening mulai tak biasa, berdegub lebih cepat. Langit menempelkan bahunya.


"Mbak siap belum?"

__ADS_1


"Siap apa, sih?"


"Ish ... siap merem melek lho?"


"Merem melek gini?" Bening memejamkan mata lalu membuka kembali, dia ulang sampai beberapa kali dengan gerakan cepat.


"Embak di ajak gituan malah ngelucu dulu!"


"Yeee ... siapa yang ngelucu!"


"Mbak, sekarang serius geh." Langit memasang wajah serius.


"Mbak udah siap belum gawangnya saya bobol? Dah siap belum rasain pentol a'co spesial saya. Dah, siap belum kikuk-kikuk indehoi sama saya! Dah, semua udah saya jelasin seeeejelas jelasnya! Sekarang dah ngerti?"


Bening justru terbahak. Bukan dia tak tahu. Hanya saya, Bening Agistasari selalu suka berpura-pura.


"Lah, malah ngakak!" Langit misuh-misuh "Saya dah on Mbak. Ini jadi setengah mager. Kayak mau bangun tapi gak jadi."


Bening beralih tersenyum menutup mulut. "Iya, saya dah maksud," ucapnya.


"Asik!!!" Langit berubah berbinar. "Jadi, dah siapkan ....?"


Bening menunduk dengan tersipu malu. Kedua tangan dia tutup ke dua pipinya. Malu dan geli. Hiiiihh, dasar, Rengit!!


"Tapi, sebelum kikuk-kikuk indehoi, saya harus baca doa dulu. Masalahnya____" Langit menggerakan ujung mata ke kanan kiri. "Saya belum hapal doanya," lanjutnya dengan menyengir.


"Bhuuuahahhaha ...." Bening kembali terbahak melihat raut wajah Langit.


"Kalo gitu batal. Kita lakuinnya kalo kamu udah hapal."


"Heh ... gak bisa gitu!"


"Bisalah."


"Gimana nasib itu saya, Mbak. Gak bangun, gak tidur juga?" Langit melirik ke bawah.


Rasanya momen romantis indehoi malam pertama fell-nya buyar begitu saja. Perut Bening sampai sakit dari tadi tak henti menertawai Langit.


"Pokoknya malam ini jangan sampek batal. He'em, Tuhan bakal maklumin hambanya yang benar-benar belum hapal, yang penting niatnya!" ucap Langit. "Sini Embak nunduk!"


"Eh, mau apa?"


"Ya mau baca doa-lah."


"Katanya gak hapal?"


"Emang. Tapi ada alternatif lain."


Bening mengernyit tapi mengikuti perintah Langit.


"Bismillahirrahmanirrahim ... doa sebelum belah duren. Aaminn."

__ADS_1


"Hah?!"


__ADS_2