Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Makan Malam Bersama Keluarga Bening


__ADS_3

Sehabis Maghrib, Mama Has, Bening dan keluarga dari Solo tadi telah memenuhi meja makan. Mama Has meladeni Eyang Putri dengan mengambilkan makanan dan menuangkan air putih.


"Dikit aja sayurnya, Has."


"Iya, Ma."


"Kak Ning, koleksi film Korea My Family punya Kakak lengkap banget. Dian nanti mau nonton sampek selesai, bareng Kakak, ya," ajak Dian.


Dian anak dari Pakde dan Bude. Umur Dian 18 tahun, dia manis namun sedikit bawel. Apapun diceritakan, meski cerita itu tidak penting. Yang mana membuat Bening jengah mendengarnya. Dia sangat mirip dengan ibunya. Banyak kalimat juga berbicara sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orang lain. Bening sangat malas. Tapi, bagaimanapun Dian adalah keponakannya.


Saat menikmati makan malam bersama, terdengar bel rumah berbunyi. Asisten rumah tangga segera berlari menunju pintu depan. Tak selang lama telah kembali dan mendekat di samping Mama Has.


"Nyonya, ada tamu," kata asisten rumah tangga itu.


"Siapa, Bik?"


"Saya tidak paham, Nya. Laki-laki muda, mungkin temennya Non Bening."


Dahi Mama Has mengerut. Temennya Bening? Siapa? Selama ini teman Bening tidak ada yang datang ke rumah. Mama Has yang penasaran justru beranjak ingin mengetahui siapa tamu itu.


"Mah, Mas, Mbak, silahkan dinikmati. Has ke depan dulu, mau liat tamu yang datang," pamit Mama Has.


Mama Has berjalan menuju ruang tamu, di depan pintu dia menangkap seluet pemuda yang baru-baru ini dikenalnya.


"Nak Langit, mari masuk!" Mama Has tersenyum mempersilahkan Langit masuk.


"Iya, Tan. Maaf kalo ganggu, Langit cuma mau ambil motor. Tadi malam gak sempet balik ke sini karna pulangnya udah tengah malem," ucap Langit dan masuk ke dalam mengikuti Mama Has.


"Saya bawakan bakso buat Tante dan Mbak Bening." Langit menyodorkan bungkusan bakso di depan Mama Has.


"Wah, makasih banget. Tante suka banget bakso bikinan kamu. Sekali makan bikin nagih." Mama Has antusias menerima bungkusan bakso. "Ohya, Tante dan keluarga sedang makan malam. Ayo, Nak Langit ikut makan sekalian!" ajak Mama Has.


"Eh, gak usah, Tan. Langit ke sini cuma mau ambil motor. Gak mau repotin. Tante lanjutin aja makan malamnya, biar Langit langsung pamit," tolak Langit tidak ingin merepotkan.

__ADS_1


"Gak ngerepotin. Kebetulan tadi masak banyak karna mama saya dan keluarga dari jauh pada dateng. Ayo, kita pindah ke ruang makan! Dah jauh-jauh dateng kok mau langsung pamitan, makan dulu. Gak baik lho nolak rezeki," ujar Mama Has sedikit memaksa.


"Tapi, Tan ...." Sekali lagi Langit ingin menolak, namun melihat Mama Has menggelengkan kepala membuat Langit tak enak hati menolak ajakan Mama Has, "baiklah," jawabnya pasrah.


Mama Has menunjukan jalan ke ruang makan. Saat sampai di dekat meja. Mata Bening melotot lebar bahkan hampir keluar. Sangat terkejut melihat kedatangan langit. Mau apa si Rengit dateng lagi?!


"Has, siapa pemuda itu?" tanya Eyang Putri.


Pandangan Nenek, Pakde, Bude dan Dian tak lepas meniti penampilan Langit dari atas sampai bawah. Langit memang hanya mengenakan kaus putih biasa tanpa kerah, juga celana jins hitam. Namun wajah Langit yang sangat tampan mampu menarik perhatian mereka.


"Ini mantu idaman Has, Mah. Tapi Bening belum ngasih keputusan," seloroh Mama Has tersenyum dengan melirik Bening.


"Uhuk-uhuk." Mendengar itu Bening tersedak sampai batuk-batuk tiada henti. Dian yang duduk di sampingnya menyodorkan segelas air putih. "Minum, Kak!"


"Wah, ganteng banget pacar Kak Ning. Kalo Kak Ning tolak, buat Dian juga gak apa! Dian terima senang hati," celetuk Dian dengan kekehan.


"Dian!" Pakde memberi kode anaknya untuk diam. Mulut Dian mencebik dan melanjutkan makannya.


"Lho, la ini udah ada kandidat, kenapa masih betah melajang, Ning?" Bude mulai kepo.


"Ganteng banget lho, Ning, walau cuma pakek baju biasa."


"Ayo, Lang, duduk! Jangan sungkan, ini semua keluarga Tante. Ini eyangnya Bening, itu pakde dan budenya. Lalu yang itu, keponakanya." Mama Has memperkenalkan. Mengabaikan kalimat Bude tadi.


"Ma-malam, semua. Perkenalkan saya Langit," ucap Langit. Dia sangat gugup memperkenalkan diri sendiri. Apalagi waktu Mama Has mengatakan calon mantu idaman, membuatnya tak nyaman. Padahal sama sekali tidak ada pikiran demikian. Dia datang hanya ingin mengambil motor, bukan untuk hal sejauh itu.


"Kamu ganteng banget, kamu anak pengusaha di bidang apa?" Ucapan yang tadi tidak direspon tidak membuat Bude menyerah. Kembali dilayangkan pertanyaan yang seolah menilai status derajat Langit.


"Bu, gak pantes langsung tanya kek gitu!" Pakde memperingati istrinya.


"Udah, ayo lanjutin makan malamnya," sela Eyang Putri.


Langit duduk di sebelah kiri Bening, saat Langit baru duduk, dia telah mendapat lirikan tajam dari wanita di sebelahnya. Dia tidak berani membalas lirikan itu.

__ADS_1


"Eh, Rengit! Ngapain sih pakek acara dateng segala! Nambahin masalah aja!" Bening berbisik dengan mendekatkan dirinya dengan Langit.


"Saya dateng cuma mau ambil motor. Tapi Tante maksa saya untuk gabung," balas Langit tak kalah lirih.


"Ehem .... bisik-bisik ngobrolin apa sih?" tegur Dian.


"Gak ngobrol apa-apa kok," balas Bening fokus pada makanannya.


"Ohya, tadi Langit bawa bakso. Mamah mau coba," tawar Mama Has.


"Boleh. Mamah mau kuahnya aja, baksonya gak suka karna biasanya terlalu kenyal."


Mama Has menyuruh asisten rumah tangga untuk memanaskan kuah bakso, setelah itu dihidangkan untuk keluarganya.


"Wanginya sedep banget, ya, Has," ujar Eyang saat Mama Has menaruh kuah bakso dihadapannya.


"Mama cobain dulu. Pasti ketagihan. Baksonya juga dicobain dikit dulu," pinta Mama Has.


Pertama Eyang Putri menyendok kuah bakso, lalu memotong pentol bakso dengan bagian kecil. "Iya, Has. Kuahnya seger banget, baksonya juga empuk. Enak banget," puji Eyang Putri.


"Apa Has bilang ... baksonya nagihin." Mama Has antusias.


"Masa, sih, aku juga mau coba," kata Bude.


"Emang dia belinya di mana? Tumben rasanya beda sama yang pernah kamu beli dulu," tanya Eyang.


"Adanya di Jalan Lobak Kemangi, jauh dari sini," jawab Mama Has.


"Dian mau nyoba juga, Bu!" rengek Dian. Bude membagi kuah miliknya untuk Dian. "Wah, ini mah memang enak banget. Sayang ya, cuma dikit," celetuk Dian.


"Maaf bawanya cuma dua bungkus, gak tau kalo keluarga Tante pada kumpul."


"Gak apa, Lang. Ini juga makasih udah dibawain bakso."

__ADS_1


"Udah akrab gini, kenapa gak cepet-cepet ambil keputusan dan langsung halal, Ning? Daripada lajang terus. Nungguin apa coba?"


Sumpah. Rasanya Bening tak tahan untuk melakban mulut Bude supaya tidak berisik dan kepo dengan status lajangnya. Benar-benar membuat kesal.


__ADS_2