
Langit sengaja berlama-lama di kamar mandi, malas dan merasa rendah saat bergabung dengan teman-teman istrinya. Mereka berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain; terlalu blak-blakan.
Sudah sedikit lama dia berada dalam kamar mandi, terpaksa keluar dari tempat kecil itu dan langsung berdiri si sisi Bening, tak lupa memasang senyum palsu.
"Eh, Bang, udah digaji belum sama bini Abang? Ntar dapet uang gaji dipakek buat biaya rumah sakit lagi. Hihi ... cuma muter doang. Gitu kalo kerja di perusahaan istri, Ngandelin gaji istri," celetuk Rani dengan senyum dibuat-buat.
Langit menahan napas beberapa detik lalu membuangnya kasar. Dia menyembunyikan kepalan tangan di belakang tubuhnya. Itulah salah satu alasan dia selalu menolak tawaran Bening untuk bekerja di kantor. Dia bakal dipandang rendah dari profesinya sebagai tukang bakso.
Langit berkali-kali mengucap istigfar dalam hati. Berharap tak terpancing emosi yang hanya akan berakhir sia-sia dan bisa saja membuat suasana semakin keruh.
"Tolong kalian pulang! Gua mau istirahat," ucap Bening dengan ketus. Kedatangan teman-temannya tak membuat wanita itu senang, bahkan sebaliknya. Kesal, marah, juga malu.
Teman-teman Bening saling memandang satu sama lain. Lalu Rani mengelus pundak Bening dan berkata, "Baik, kalo lu mau istirahat. Kita-kita cabut sekarang. Sehat-sehat ya, mommy and babynya." Mereka bergantian pamit dan lekas pergi dari ruang rawat Bening.
Langit melangkah ingin pergi, tapi di cegah oleh Bening. "Mana bubur ayamnya? Lama banget! Laper tau!"
Suara ketus dan sikap acuh namun ingin dipedulikan itu membuat Langit menerbitkan senyum. Pria itu berbalik dan langsung membongkar wadah makanan. Meski begitu mulutnya tak mengucap sepatah katapun.
Bening melirik dan mengamati yang dilakukan suaminya. Rasa kesal dari perbincangan teman-temannya tadi belum juga hilang. Raut wajahnya ditekuk sedemikian rupa dengan bibir dibuat mengerucut.
"Saya kira udah hilang selera makannya," ujar Langit yang mulai menduduki kursi tunggal.
"Nungguin dari jam lima sampek sekarang udah hampir jam sembilan. Gak kasihan kamu!" sahut Bening.
"Maaf. Tadi nyari tukang bubur yang udah buka tapi gak nemu. Saya bingung mau nyari kemana lagi, akhirnya pulang dan nyuruh Mamak buatin bubur buat Embak."
'Oh, benarkah? Sweet?' Bening meneduhkan pandangan, tak lagi menyorot dengan tajam.
__ADS_1
Langit mulai menyuapi Bening, tapi arah pandanganya tak menentu. Pria itu tak berani fokus ke arah istrinya.
"Enak jadi kamu, ya," ujar Bening tiba-tiba.
Langit mengernyit. "Enak dalam hal apa, Mbak?"
"Dalam hal pertemanan. Kamu gak punya teman kayak mereka. Kepo, suka ngurusin hidup saya, suka bicara asal yang kadang bikin saya kesal dan merasa tertekan. Hal apapun akan di kepoin dan jadi bahan lelucon mereka," curhat Bening. Mulutnya mengunyah makanan dengan gerakan pelan, sedangkan fokus matanya melihat ke jendela.
Sekarang Langit mengerti. Terkadang Bening selalu mementingkan ego dan bersikap kurang baik mungkin saja pengaruh pergaulan bersama teman-temannya.
Langit tersenyum hangat. Sebelah tangannya menggenggam telapak tangan Bening. "Dalam hidup ada hal yang enak dan gak enak. Mungkin Embak ngiranya jadi saya enak. Padahal saya kira jadi Embak yang enak. Jadi, kita tuh kayak sawang si nawang aja, ya." Tangan Langit terus bergerak pelan mengelus telapak tangan sehalus pualam itu.
"Berteman ada yang membuat kita senang, tapi gak jarang juga bikin kita sesat. Bertemanlah dengan teman yang bisa membimbing kita ke jalan baik, dan tinggalkan teman yang hanya menjerumuskan ke hal buruk."
Langit menarik napas dan membuangnya pelan. "Saya emang gak punya banyak teman. Bisa dibilang saya gak punya teman sama sekali. Mereka ngejauhi saya ketika saya terpuruk, ketika saya gak berkuasa lagi. Mereka mencibir dengan kalimat-kalimat yang gak pantas. Mereka meninggalkan saya di saat saya gak bisa lagi ngimbangin gaya hidup mereka. Teman yang dulu selalu jadi penjilat berubah sok berkuasa dan berganti membully saya habis-habisan." Langit tersenyum kecut dan mengalihkan pandangan. Memorinya kembali pada beberapa tahun silam saat yang diceritakan barusan memang sungguh dialaminya.
"Dari situ saya putuskan menjalani hidup sendiri tanpa bergantung dan berkeluh kesah lagi dengan teman. Saya tutup telinga dan tutup mata, saya gak peduli tentang hinaan, cacian dan komentar teman-teman atau orang yang hidup di sekeliling saya. Jalani semua sesuai keadaan dan kemampuan sesuai kesanggupan kita. Tahan rasa sakit maka lama kelamaan rasa sakit akan menjadi kekebalan hati."
"Mbak tau!" ucap Langit cepat.
Bening menggeleng.
"Mamak orang paling berjasa dalam hidup saya. Berkat Mamak saya masih bisa tegar menjalani dunia yang gak adil menurut saya."
"Em ... kalo itu saya tau. Seorang Mama emang paling berjasa buat anak-anaknya," timpal Bening.
"Nanti kalo Mbak udah sembuh, saya mau kenalin Embak ke orang yang paling berjasa dalam hidup saya. Saya punya dua yang berperan penting dalam membentuk pribadi saya."
"Dua orang penting?" Kening Bening mengerut. Wanita itu dibuat penasaran dengan ucapan Langit. "Kamu punya dua Mama?" Mata Bening melotot.
Langit tersenyum tipis. "Sambil makan lagi, dong. Biar cepet habis," ujarnya mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Kamunya berenti nyuapin, saya juga berenti makan!"
"Saya rasa, Embak egois juga ada kaitannya dengan sikap teman-teman Embak."
"Em, ya ... gitu, deh." Bening mengangkat bahu. "Kamu tau sendiri sikap mereka kayak apa."
"Tapi, Embak kudu pinter-pinter menyikapi. Jangan mau dengerin mereka. Kita putuskan apa yang ingin kita jalani, gak perlu denger komentar mereka."
"Gak bisalah, Rengit. Bakal jadi kalau kita gak sesuai mereka."
"Nah, itu yang bikin Mbak tertekan," sahut Langit cepat.
"Waktu mereka tau kamu cuma tukang bakso, saya di bully abis-abisan. Dan kamu tau sendiri. Sampek sekarang mereka juga masih cibir mulu'. Bikin kesel." Bening mencebik.
"Aduh, mual lagi." Bening segera membekap mulutnya sendiri. Dia hampir tak bisa menahan muntahan. Dan ....
Hoek
Sebagian bubur yang sudah masuk ke dalam perut harus keluar lagi. Mengotori tangan dan mengenai jaket dan kaus Langit.
Langit melepas jaketnya dan mengelap tangan Bening dengan jaket itu.
"Jaketnya kotor," ujar Bening menatap nanar.
"Gak apa, Mbak. Nanti bisa di cuci. Dari pada tumpah kemana-mana kasihan cleaning servisnya."
'Keadaan gini masih mikirin cleaning servise. Astaga, Be, suamimu. Kelewat baik.'
"Mbak mau di bantu lap di sini apa ke kamar mandi?" Langit nampak telaten dan sabar saat membersihkan bekas muntahan. Tanpa merasa enggan dan jijik.
Bening malah membisu dengan menatap fokus pada Langit.
__ADS_1
"Ke kamar mandi aja, ya. Mandi gitu biar seger. Dah berapa hari gak mandi," usul Langit yang di angguki oleh Bening.