
Hari ke lima di rumah sakit. Sejak subuh Bening sudah bangun dan tidak bisa tidur lagi. Dia mengeluh ingin pulang, sangat bosan dan tidak betah hanya tiduran di atas brankar, tanpa melakukan apapun. Namun, dia bisa apa jika mencium bau apapun rasanya sudah mual.
Pukul lima pagi menyuruh sang suami untuk membelikan bubur ayam, padahal mata Langit masih enggan terbuka karena baru tidur satu jam lalu. Namun, apa bisa dibantah jika sang istri yang memberi perintah. Baru semalam berbaikan, dia tak mau bertambah runyam.
"Dek, jam segini belum ada yang jualan bubur ayam. Tunggulah jam 7 nanti."
"Be, maunya sekarang, Ma." Bening bangun dengan pelan, Mama Has membantu memegangi kedua lengan putrinya. "Dia udah berangkat, kan, Ma?"
"Udah. Kamu nggak kasihan sama suamimu. Semalaman dia jagain kamu, belum jadi tidur udah kamu suruh muter beli bubur ayam."
"Be gak maksa, kalo dia gak mau, ya, udah. Tapi dia berangka juga."
Mama Has membuang napas panjang dan beralih membuka gorden jendela. Membiarkan udara pagi masuk dan memberi kesejukan.
~
Gerombolan awan masih hitam pekat, namun tak menyurutkan tekad Langit mengelilingi jalanan yang biasanya jadi tempat mangkal tukang bubur ayam. Di jam subuh memang belum ada yang berjualan, dia tetap berusaha mencari.
"Ah, mending aku pulang aja dan suruh Mamak yang buat bubur ayam. Iya, ide bagus itu." Langit menarik tuas gas dan melajukan motor matic menuju rumah Mamak.
•
Sampai pukul setengah delapan, Langit belum kembali juga ke rumah sakit. Bening tak henti mengomel, ke mana saja pria itu membeli bubur ayam sampai dua jam setengah belum juga dapat.
Tok ... tok ....
"Mungkin itu Langit, Dek," kata Mama Has. Bening hanya melirik sinis.
"Selamat pagi, Kristal Bening. Sebening embun pagi," sapa Rani, teman kuliah Bening. Di belakangnya ada beberapa orang lain. Ada Sinta, Indah, Rania dan Angga.
Bening terkesiap. Dia sama sekali tak tahu jika teman-temannya akan datang. Wanita yang tertegun itu terpaksa memasang senyum palsu untuk menyambut mereka.
"Pagi, Tante," Rani dan yang lain juga menyapa Mama Has.
__ADS_1
"Pagi semuanya." Mama Has tersenyum ramah. Berbincang sebentar dan sekalian pamit untuk sarapan di kantin rumah sakit.
"Gimana keadaan lu, Be?" Rani menaruh bingkisan ke atas meja.
"Wah ... gak nyangka temen kita yang satu ini susah nyari gebetan kok tahu-tahu dah punya suami dan hamidun," seloroh Sinta dengan terkekeh kecil.
"Lu pewaris satu-satu Perusahaan Permana Grup, kok, bisa nikah diem-diem, Be? Gua pikir pernikahan lu akan di gelar paling besar se-Indonesia," tutur Indah.
"Sumpah, gua kaget denger lu bunting. Tapi ikut seneng juga. Ya ampun, kek mana rasanya jadi calon ibu, ya," ucap Rania.
"Nikah sono biar tau gimana jadi calon ibu," sahut Sinta.
"Be, yang gua gak abis pikir. Suami lu ... tukang jualan bakso?!" timpal Angga.
Serentak mereka menoleh pada Angga. "Ups ... maksud gua ... Bening Agistasari gitu lho, banyak pria dengan jabatan CEO yang sedia buat nikahin dia, tapi malah kepincutnya sama tukang bakso. Heran aja gua. Coba dulu tetep jadi sama Bram atau tetep ngejar Vino. Kan gak gini ceritanya," ujar Angga membeberkan kalimatnya.
"Eh, jodoh itu gak ada yang tau, ya. Kita juga gak tau jodoh kita nantinya sama siapa. Be pacaran lama sama Bram, eh, jodohnya malah sama tukang bakso. Lu pacaran sama Indah, besok kalian putus dan dapet jodoh tukang sapu jalanan, kan, gak tau!" sela Sinta.
"Idih, amit-amit, Sin. Jangan sampek deh. Omongan lu jelek amat."
"Eh kalian ini malah ribut sendiri! Be aja belum jawab kita, lu malah pada berantem," lerai Rani.
"Be, walau suamimu cuuuuma tukang bakso, tapi dia ganteng bingits. Gak masalah cuma tukang bakso, kalau di ajak liburan orang-orang
gak bakal tau pekerjaannya. Tinggal lu permak dandanannya aja pasti dah keren kalau di ajak jalan." Rania tersenyum miring.
Napas Bening tak beraturan, wanita itu menahan geram di hatinya.
"Em ... gua denger juga suami lu udah lu tarik untuk kerja di perusahaan lu, ntar statusnya gak jualan bakso lagi. Statusnya ganti bekerja sama istri dan di gaji istri sendiri. Hi hi ... lucu, ya."
Tok ... tok ....
Langit mengetuk pintu dan masuk begitu saja. Pria itu terkejut mendapati teman-teman istrinya datang menjenguk. Dia sudah kepalang tanggung ingin berbalik dan pergi tapi tidak mungkin. Mata Langit menyorot mata Bening. Dia takut akan terjadi hal buruk lagi. Apalagi raut Bening tak seceria saat dia pergi tadi.
__ADS_1
"Wih ... suami lu datang, Be."
Bening menundukkan pandangan. Jemari tangan saling meremas.
"Hay, Bang," sapa Rani.
"Hay, Mbak," balas Langit tersenyum seperti biasanya. Mencoba bersikap ramah meski canggung berada di antara mereka.
"Tampang boleh keren, tapi enggak banget," cetus Angga yang masih bisa di dengar oleh yang lainnya. Indah menyenggol lengan pacarnya supaya lebih menjaga ucapan. Wanita itu tak enak hati dengan Bening.
Bening menutup mulutnya. Tiba-tiba mual parah dan ingin muntah. Langit mengambil kantong kresek dan mengusungkan itu di depan Bening untuk menampung sesuatu yang akan keluar.
"Oh, sweet banget, deh." Sinta memandang dengan kekaguman.
"Mungkin sikap seperti ini yang bikin Be suka sama tukang bakso itu," timpal Indah.
"Kalau itu Angga, gua gak jamin dia mau kek gitu. Yang ada calon suami lu bakal kabur sebelum lu muntah," cibir Sinta melirik Indah.
"Lu apaan sih. Sirik banget sama lakik gua? Yang penting dia ketua advertising di Perusahaan Galacy Bima Grup. Keren, kan," sahut Indah.
"Ketua advertising doang. Vino itu yang sebentar lagi akan di angkat menjadi CEO nya. Itu baru keren," celetuk Sinta yang membuat Langit dan Bening menatap wanita itu.
"Jabatan itu belum resmi jika Tuan Wijaya belum sembuh. Apalagi berita dimana-mana selalu mengabarkan jika kondisinya terus menurun dan memburuk."
"Walau begitu, tetap Vino yang akan mewarisi saham Tuan Wijaya, kalo enggak, siapa lagi akan meneruskan, jika bukan putera sulungnya itu."
"Tapi, Vino itu bukan_____." Kalimat Sinta terpotong saat Rani lagi-lagi melerai perselisihan kedua temannya itu.
"Ehem ...." Bening berdehem. Langit pergi ke kamar mandi untuk membuang kantong kresek.
"Coba dulu lu masih suka sama Vino, Be, perusahaan lu bakal tambah maju bisa gabung sama perusahan besar itu. Sayangnya Vino milih Elia daripada lu," ujar Angga.
"Gua muak sama cowok brengsek kek dia," balas Bening.
__ADS_1
Langit bergeming di depan pintu kamar mandi.