Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Akhiri hubungan kita.


__ADS_3

"Em, keknya masih banyak lagi. Apa perlu saya baca ulang semua, ya?" Langit mengelus dagu seolah sedang berpikir.


"Berani ulang semua, saya blokir nomer kamu!" ancam Bening, namun dia tidak serius.


"Yakin mau blokir nomer suami imut yang ngangenin?! Ntar bingung nyariin lagi," goda Langit.


"Taulah!" Bening pura-pura ngambek, lalu merubah posisi berbaring menjadi miring ke kiri, membelakangi Langit. Dia menghindari tatapan pria itu.


Saat ini Bening sangat malu dengan sifat jahil Langit yang justru senang menggodanya.


Lagilupa, seorang Bening Agistasari memang tidak bisa mengungkapkan perasaanya secara gamblang. Dia senang berpura-pura tak peduli, padahal sesungguhnya dia telah merasakan getaran asmara ketika bersama Langit.


"Ngambek, nih? Pergilah," ujar Langit.


"Bodo'!" balas Bening.


Langit berdiri dan menggeser posisinya, tapi matanya tak beralih dari Bening. Pria itu hanya mengetes bagaimana reaksi Bening. Berhasil.


Bening yang mengetahui lewat lirikan matanya, segera berbalik. "Berani pergi, gak usah kembali!" ancamnya. Namun tangan lemahnya mencoba menghentikan Langit, dia memegang tangan pria itu.


Langit tersenyum dan kembali duduk. "Jangan galak-galak gitu napa, Mbak? Saya kan jadi takut kalau mau dekat sama Embak."


"Dari dulu saya memang kayak gini," ketus Bening.


"Heem." Langit berdehem. "Mbak, tentang pesan yang Mbak kirim____" ucapan Langit terpotong.


"Jangan dibahas!" potong Bening cepat.


"Kalo gak dibahas kita gak bakal tau. Dan kita pun akan seperti ini terus."


Benar. Yang dikatakan suaminya memang benar, jika tidak dibicarakan secara langsung semua akan tetap seperti sebelumnya. Tapi, masalahnya dia sangat malu untuk mengakui. 'Tuhan, tolong. Dari mana aku harus mengawali.'


"Mbak tau, saat pertama kali kita bertemu. Memang bukan pertemuan romantis kayak pilm-pilm di tipi, tapi saya mau bilang. Dari pertama kali kita bertemu, dan Mbak sama sekali gak peduli dengan ketampanan saya, dari situ saya pikir Mbak berbeda," kata Langit serius.

__ADS_1


Bening mendengar seksama. "Berbeda gimana maksud kamu? Kamu pikir saya aneh?!"


"Enggak. Ya, pokoknya berbeda. Saya udah ada perasaan berbeda dengan Embak. Seperti, apa yah ... ah, sulit dijabarkan. Hanya saja ...." Ucapan yang tidak selesai membuat Bening penasaran.


"Hanya saja apa?"


"Embak percaya gak kalo ada orang suka dari pandangan pertama."


"Kamu korban sinetron!" tanggap Bening.


"Tau aja saya suka sinetron. Pas Mamak liat pilm ikan terbang, saya ikut nonton juga. Ha ha ...." Langit tertawa lucu.


"Nggak lucu! Yang serius, ih!" Bening memutar bola mata ke atas.


"Oke-oke. Saya lanjut." Langit menghentikan tawa dan kembali memasang wajah serius. "Em, awalnya saya gak percaya dengan perasaan saya sendiri. Kan banyak cewek yang ngepens sama saya, dari yang super cantik, cantik aja, body sexy bohay, tua, muda, dari yang giginya rapi sampai ada yang tonggos. Yah ... istilahnya saya tinggal pilih salah satu dari mereka, tapi entah kenapa saya justru tertarik sama yang galak dan cuek, umurnya lebih tua lagi!"


Bening mencubit lengan Langit sampai pria itu mengaduh kesakitan, lalu tertawa.


"Apa maksud kamu kayak gitu!" sungutnya. Bukan dia tidak tahu yang dimaksud Langit menyebutkan ciri-ciri terakhir. Tapi dia belum mau berbangga diri.


Bening menggigit bibir bawah, dia menahan senyum. Asli. Mungkin pipi pucatnya sekarang sudah kentara berubah menjadi pink karena malu.


"Tapi____" Langit menghentikan ucapannya dan mengembus napas panjang. "Tapi, setelah kita menikah, saya sadar udah suka sama orang yang salah."


Deg ....


Perasaan malu yang dirasakan Bening menguar, wanita itu terdiam dengan tatapan menyorot.


"Embak terlalu sempurna, terlalu tinggi untuk saya gapai. Meski nama saya menunjukan saya tinggi, hanya saja status saya terlalu rendah."


"Profesi saya memang memalukan jika menjadi suami Embak. Banyak pria yang jauh segalanya, dan jauh lebih pantas untuk Embak."


"Rengit! Kamu bicara apa?!" Bening menunjukan wajah tidak suka mendengar ungkapan pria itu.

__ADS_1


Semua itu memang ungkapan yang sering dia lontarkan, tapi ketika dia menyadari perasaanya, semua yang dikatakan salah. Untuk profesi, jauh di hati memang tidak menyukai, tapi profesi itu bisa dirubah jika yang bersangkutan mau berubah.


"Apa kamu bermasalah dua kali melihat saya dengan Bram?" tanya Bening.


"Saya udah katakan, saya gak ada hak buat marah. Karna sebelumnya gak tau perasaan Embak ke saya kek gimana. Selama ini Embak gak mengakui hubungan kita, lantas saya berpikir emang gak ada hak buat mengungkap kekecewaan saya. Suami mana yang gak kecewa melihat istrinya bareng cowok lain. Bahkan tanpa ijin dulu. Tapi, saya gak mau bahas karna itu privasi Mbak. Jika Mbak punya rasa sama saya, Mbak pasti tau gimana perasaan saya."


"Tapi, untuk kedua kalinya Embak bareng lagi sama dia. Dari situ saya merenung, mungkin Embak lebih baik dengan pria itu dan melepas saya. Saya kira kebahagiaan Embak dengan dia."


"Kata Mamak, cinta gak bisa dipaksa. Cinta yang sesungguhnya bukan saat kita bisa bersama, tapi saat kita bahagia melihat orang yang kita cinta bahagia, meski bukan bersama kita."


Langit mengalihkan pandangan ke atas, pria itu menarik napas dan mengembuskan panjang. Dia harus senang mengetahui perasaan Bening, atau sedih dengan pilihannya merelakan Bening untuk pria lain.


"Rengit!"


"Walau sekarang saya udah tau perasaan Embak, tapi tetap aja ngerasa gak pantes."


"Rengit, stop bicara gak penting. Oke, saya akui saya sangat bersalah selalu merendahkan statusmu. Maafkan saya."


"Saya udah maafin, Embak. Saya berbesar hati karna emang semua yang Mbak katakan benar."


"Sejak kemarin saya merenung, saya terus kepikiran dengan hubungan kita. Sampai kapan begini terus. Kita akan saling menyakiti. Saya terima gimana pun keputusan Embak. Meski cinta saya terluka, tapi yang terpenting Embak bahagia. Kalo udah sembuh, dan Mbak ingin mengakhiri, saya siap."


"Rengit ...."


"Mbak pasti bahagia bisa bersama dengan pria yang sederajat, pria yang cerdas dan memiliki status sama. Saya cuman tukang bakso, mungkin jodoh kita kemarin ketuker. Aslinya jodoh saya lebih pantas dengan cewek tukang siomay atau tukang asongan. Tapi malah dapet pemimpin perusahaan."


Bening yang terenyuh dan sedih dengan ucapan Langit, tiba-tiba dibuat lucu dengan ucapan yang terakhir.


"Jangan ketawa, Mbak. Saya serius." Langit memasang wajah serius.


"Saya tau kamu serius. Tapi saya pengen ketawa pas kamu bilang jodoh kita tertukar. Dan jodoh aslimu tukang siomay atau tukang asongan. Yang serius, heh!"


"Mbak pantes sama pria itu. Mbak akan bahagia. Setelah ini saya akan pergi. Kita akhiri hubungan kita."

__ADS_1


Deg ... deg ... deg ....


__ADS_2