Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Pingsan


__ADS_3

Seseorang mengenakan celana hitam senada dengan jas yang dipakai, membuat pria tersebut nampak tampan dan gagah. Pertama kali menatap sang suami, mulut Bening sampai terbuka lebar. 'Tampan sekali'. Sungguh, bibirnya tak lelah menebar senyum, dia begitu terpesona. Ah, padahal dua bulan dia menjadi istri Langit, tapi sangat jarang melihat pria itu memakai pakaian formal; hanya sesekali saat acara resmi saja.


"Gantengnya ... suami siapa, sih, ini?" seloroh Bening.


"Suaminya Mbak Bening Agistasari," jawab Langit ikut mengimbangi tawa Bening.


"Cius, kamu tampan banget pakek pakaian begini. Sampek pangling." Bening memuji dengan air muka berbinar.


"Hiuh, gombal. Saya mah emang dah tampan dari dulu."


"Siap ke kantor?"


"Siap gak siap. Saya takut. Asli, tangan saya sampek gemeter. Ntar apa tanggapan bawahan Embak kalo tiba-tiba saya jadi manager. Mereka pasti bingung."


"Udah kamu tenang aja. Itu biar jadi urusan saya. Kantor punya saya, terserah saya. Mereka gak akan ada yang berani protes. Oke!"



Turun dari mobil, kaki Langit seolah terserang kebas dadakan. Sulit untuk berjalan, mungkin saking nervousnya sampai merasakan demikian.


Beberapa pegawai yang berwara-wiri di depan kantor beralih fokus pada pemilik perusahaan. Bukan, sepertinya fokus mereka lebih kepada pria yang berdiri di samping Bening, ketampanan Langit hampir mendekati paripurna.


"Eh, siapa itu yang bareng Nona Bening? Tampan banget?"


"Ya ampun ... cool banget."


"Eh eh, tunggu! Kok sepertinya wajah itu gak asing? Kayak pernah liat di mana gitu?" Salah satu wanita tengah mengingat-ingat wajah Langit. Tentu saja penampilan Langit sangat berbeda saat berjualan bakso dengan penampilannya sekarang.


"Santai aja, gak usah tegang gitu. Cukup pas malam aja tegangnya, kalo siang gini biar biasa aja."


Langit melirik. "Yang Mbak maksud tegang bagian apanya tuh?" pancing Langit.


Bening mencebik dengan raut malu-malu. "His, Rengit! Mesum banget sih! Udah, ayo, kita masuk."


Bening berjalan lebih dulu, sedangkan Langit berjalan dua langkah di belakangnya. Saat sampai di lobi, Bening berhenti. "Perhatian untuk semuanya." Suara Bening menghentikan aktivitas para pegawai. Sebagian dari pegawai yang ada di lantai dasar itu langsung terfokus pada CEO mereka.


"Perkenalkan, ini Pak Langit. Dia manager keuangan yang baru. Sebelumnya saya sudah konfirmasi hal ini dengan manager yang dulu, yaitu Pak Ahmad. Karena Pak Ahmad memang sudah harus pensiun, maka saya menjadikan saudara saya sebagai gantinya. Apa ada yang ingin ditanyakan?"


"Nona Bening, kenapa tidak memilih bawahan Pak Ahmad langsung? Apa Pak Langit sudah memiliki pengalaman untuk menempati posisi penting itu?"

__ADS_1


"Kalian bisa menilai kompetensinya setelah Pak Langit mulai bekerja. Oke, ini saja, tidak mau membuang waktu, kalian bisa kembali bekerja."


Bening mengajak Langit untuk naik ke lantai atas. Dalam lift mereka hanya berdua.


"Mbak keren," puji Langit.


"Keren gimana?"


"Bisa bicara lugas, gitu. Hebat." Langit mengacungkan ibu jari di depan Bening, sedangkan Bening hanya membalas dengan tersenyum.


Sore hari.


Langit lebih dulu selesai, dia keruangan Bening untuk pulang lebih dulu, tapi Bening mencegah. Wanita dengan stelan pakaian putih itu ingin pulang bareng Langit. Sebenarnya lebih ke rasa takut kalau Langit ada yang menggoda. 'Kamu gak mulai bucin, kan, Be? Hadew!'


Langit menunggu di post satpam, saat asik mengobrol netranya tak sengaja melihat Bram turun dari mobilnya.


"Itu bukannya Tuan Bram? Sudah lama tidak ke sini, saya pikir sudah putus dengan Nona Bening," celetuk salah satu satpam memberitahu temannya.


"Iya, hubungan mereka semakin awet saja."


Langit hanya diam dengan menahan kekesalan. Ingin sekali berkata pada mereka bahwa dia suaminya, tapi itu tidak mungkin. Menyalahi kesepakatan.


"Be!" Bram berteriak memanggil Bening saat wanita itu baru keluar dari lobi.


"Aku ke sini mau anter kamu pulang."


"Bram! Kamu ini apa-apaan?! Kita udah gak ada hubungan. Please, gak usah datang ke sini atau nemuin aku lagi."


"Be, kamu, kok, gini?!"


"Kamu tanya kenapa aku bisa kek gini? Tanya aja sama diri kamu sendiri. Pokoknya aku anggap hubungan kita sudah berakhir. Dan jangan ganggu lagi!"


Bening berjalan melewati Bram dan menghampiri Langit ke post satpam. Bram terkejut lagi-lagi Bening bersama pria itu, bahkan sekarang penampilannya sudah berbeda.


"Sial!" umpatnya.


Dua satpam dengan pegawai yang tak sengaja lewat mengetahui kejadian itu, mereka tak berani untuk ikut campur dan hanya menyimpan pertanyaan dalam benak saja.


Saat mobil Bening pergi dan Bram masih berdiri di parkiran mobil, pria itu dikejutkan dengan tepukan di bahunya.

__ADS_1


"Jangan kejar dia lagi. Dia udah jadi istri orang. Lu telat," ujar seseorang dengan tersenyum miring.


"Apaaaaa?! Istri orang!? Maksud lu Bening udah nikah?"


"Yaps, betul. Dan yang bareng dia tadi suaminya."


'Pantes, beberapa kali aku liat kamu sama dia, Be! Kurang ajar. Bagaimana bisa seperti ini?!' dalam batinnya Bram frustasi mengetahui fakta mengejutkan yang tak pernah di sangkanya.


"Dan lu bakal syok lagi kalau tau suami Bening cuma ... penjual Bakso!"



Satu minggu terlewati begitu saja. Langit masih bekerja di kantor Bening meski rasanya tidak betah. Dia pontang-panting bekerja dobel; pulang kantor masih harus mendorong gerobak untuk berjualan. Saat ini dia tidak berbelanja bahan dagangan sendirian karena dia menyuruh seseorang untuk pergi ke pasar dan membantu Mamak membuat bakso, dia hanya bertugas menjual. Sedikit ringan, tapi tetap melelahkan.


"Dek, kok kayak pucet dan lemes gitu?" Mama Has meneliti wajah puterinya.


"Masa sih, Ma? Masih keliatan tah? Padahal udah ditutup pakai bedak."


"Kamu nggak enak badan?" tebak Mama Has.


"Agak pusing dikit." Tangan Bening memijat pinggir pelipisnya.


"Periksa ke dokter, ya?" Mama Has mulai khawatir.


"Enggak, Be lagi males keluar. Pengen tidur aja."


"Ya udah, ayo, Mama antar ke kamar. Nanti minum obat pusing aja. Mungkin kamu terlalu capek bekerja, telat makan, stress, dan nanti akhirnya meriang, tapi yang Mama takutin kamu kena penyakit berat. Sesekali ambil cuti gitu buat periksa."



Pagi hari, pusing yang dirasakan Bening sejak semalam belum juga hilang, tapi dia tidak mungkin cuti, karena pagi ini ada meting penting. Memakai bedak sedikit tebal agar wajah pucatnya tersamarkan.


Sampai di kantor, Bening masuk sebentar ke ruangannya sebelum sepuluh menit lagi masuk ke ruang meting.


"Ini pusing kenapa gak ilang-ilang, sih?" desisnya saat berjalan menuju ruang meting. Dodi dan Sarah yang dibelakangnya sedikit khawatir.


Pandangan yang dilihat semakin berkunang-kunang. Dan ....


Brauuuuuk ....

__ADS_1


"Nona Bening pingsan!"


Keadaan Bening menyebar ke penjuru kantor, tak terlewat dengan Langit. Pria itu secepatnya ingin mengetahui keadaan istrinya. Takut terjadi hal serius.


__ADS_2