Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Seseorang yang masih tertidur panjang


__ADS_3

Negara Jerman, tepatnya di kota Humburg.


Alat medis masih memenuhi bagian tubuh seseorang. Mata yang sering memancarkan keteduhan itu masih betah terpejam.


Seorang pria paruh baya yang selalu menggunakan kursi roda kemana pun dia pergi tak pernah lelah menunggui putra semata wayangnya bangun dari tidur panjangnya.


"Kapan kamu akan membuka matamu, Ga." Pria paruh baya itu menggenggam tangan putranya yang pucat. Sepucat wajahnya yang seolah tidak ada aliran darah.


"Paman, Kak Arga kuat. Dia akan segera sadar." Pemuda di sampingnya mengusap bahu pria paruh baya itu.


Dia mengangguk lemah, mencoba yakin jika putranya bisa terbangun lagi meski hati tuanya sangat diliputi ketakutan.


"Apa kamu sudah menemukan seseorang yang bersedia melakukan itu."


"Ada banyak yang bersedia melakukannya. Kita hanya menunggu dia sadar. Setelah kondisinya membaik, dia akan segera di operasi."


Tok ... tok ....


"Tuan, Dokter sudah datang."


"Antar dia masuk."


~


Flash back


~


"Nak ... Sam?!" Mamak begitu terkejut mengetahui Sam, sepupu Langit tiba-tiba datang.


"Bagaimana keadaan kakakku, Bik?" Sam mendekati Langit yang usai melakukan operasi pendonoran kornea mata.


"Dia ... koma."


"Bik, saya ke sini karena suruhan Paman Bima. Saya akan membawa Arga kembali ke Jerman."


"Tapi ...." Mamak terlihat berat. Wanita lanjut usia itu takut melepas Langit kembali pada keluarganya karena sesuatu hal.

__ADS_1


"Bibik tenang saja. Nenek sihir Della dan anaknya si idiot Vino itu sudah masuk penjara, Arga akan aman kembali ke sana."


Mamak masih diam dan terlihat ragu. Dia saksi kunci bagaimana kehidupan Langit di negara asal itu.


"Bik, ini demi nyawa Kak Arga. Nyawanya tidak akan tertolong jika dia tidak mendapat penanganan yang tepat." Sam membujuk.


"Bagaimana Nak Sam tahu tentang kondisi Langit?"


"Bibik lupa, siapa aku dan Tuan Bima. Sangat mudah mengetahui kondisi Langit dari dokter yang bekerjasama di bawah naungan Galacy Grup." Terdengar embusan napas panjang dari mulut Sam. Pria itu bersiap untuk kembali bersuara. "Selama ini memang aku dan ayah yang menyembunyikan keberadaan Kak Arga, itu pun atas permintaan dia sendiri. Ayah memintaku hanya untuk mengawasi agar Kak Arga tidak tersentuh keberadaanya oleh Della dan Vino, kami takut mereka mengincar nyawa Kak Arga."


Mamak memandangi wajah Langit, anak yang dia asuh dari lahir hingga sedewasa ini. Kasih sayang Mamak hampir sama dengan kasih sayang ibunya. Berat. Sangat berat untuk merelakan Langit kembali ke asalnya, tapi, semua itu demi penyelamatan nyawanya.


"Baiklah, Nak Sam. Bibik titip Langit padamu. Lindungi dia, jangan sampai Tuan Besar atau siapapun menyakitinya."


"Tidak, Bik. Sekarang tidak akan ada lagi yang menyakiti Kak Arga. Paman sangat menyesal dan ingin menebus dosanya. Kita beri kesempatan Paman untuk memperbaiki diri. Biarkan hubungan Paman dan Kak Arga membaik."


"Bagaimana dengan istrinya?"


"Biarkan dia tidak mengetahui keadaan Kak Arga. Setelah sadar, Biar Kak Arga sendiri yang akan menentukan kehidupannya. Memilih menjalani yang baru atau kembali pada masa lalu."


Saat itulah Sam membawa Langit kembali ke kota Humburg. Di mana Tuan Bima Wijaya tinggal.


~


~


"Bagaimana? Kapan dia akan sadar?"


"Kondisinya terus membaik, Tuan. Tapi, sepertinya Tuan Arga belum ingin kembali. Kita hanya bisa menunggu."


Penjelasan dokter tak melegakan hati Tuan Bima. "Sam, apa ada lagi rekomendasi dokter hebat yang bisa menyadarkan Arga dengan cepat. Aku tidak sabar ingin melihat dia terbangun."


"Coba saya hubungi Dokter Katti. Dokter terbaik dari Negara Italia."


Tuan Wijaya mengangguk setuju. Dia rela mengeluarkan milyaran Euro demi kesembuhan putra semata wayangnya.


~

__ADS_1


Bulan kedua yang telah di lalui. Semua tak ada yang berubah, Mata Langit masih betah terpejam. Tuan Bima tak bisa mengupayakan apapun selain berpasrah. Puluhan dokter terbaik dari seluruh negara telah di datangkan, namun kondisi Langit masih tetap sama.


"Paman, apa perlu kita jemput istrinya Kak Arga dan membawanya kesini. Siapa tahu Kak Arga segera sadar." Sam memberi usul.


"Tidak, Sam. Aku tidak suka dengan wanita itu. Aku telah mengetahui kehidupan Arga setelah menikah. Dia selalu tertekan dengan sikap wanita itu. Setelah Arga sadar dan membaik, aku akan menyuruhnya bercerai dan mencarikan wanita terbaik untuk putraku."


'Kau masih saja egois, Paman,' batin Sam. 'Siapa yang memberitahu kehidupan Kak Arga? Ah, anak buah Paman telah merajai penduduk bumi, tidak sulit untuk mencari tahu keadaan Kak Arga dulu. Aku sangat salut dengan ayah. Selama ini menutup identitas Kakak sampai Paman tidak bisa mengendus keberadaan Kakak di Jakarta. Padahal seringkali Paman mencari Kakak di kota itu.' Sam tersenyum miring.


~


Satu bulan lebih Bening menjalani kehidupannya yang baru. Kehidupan yang sungguh melelahkan dan penuh perjuangan. Satu bulan telah berlalu tak membuat wanita itu melupakan kenangannya bersama Langit. Ketika teringat semuanya, akan tetap terasa menyesakan.


Wajah dan penampilannya sudah tidak terurus, dia hanya bisa memikirkan bagaimana mencari pecahan uang receh. Tubuhnya kini semakin kurus, dengan beberapa goresan dan collus di tangannya. Semua itu karena gesekan dan tekanan di kulitnya.


Bening Agistasari, yang dulu selalu mengagungkan jabatan CEO-nya, kini semua itu tak bisa di agungkan lagi. Wanita itu bisa makan karena hasil berjualan bakso seperti yang dilakukan suaminya dulu.


Wanita itu baru usai membersihkan diri. Dia harus merebus air untuk mandi karena pria yang sering menyiapkan kebutuhan mandinya sudah tidak ada, dia harus melakukan semuanya sendiri.


"Satu bulan tanpamu, Bang. Apa kamu bisa melihatku menjadi wanita yang lebih baik. Aku menjadi mandiri dan lebih bersabar. Aku gak bisa mendepankan egoku. Aku harus bersabar menghadapi makian orang yang gak puas dengan kerjaku."


"Bang, satu bulan tanpamu aku sudah lebih ikhlas menjalani hidup yang gak sesuai keinginanku."


"Sampai kapan aku bisa bertahan, Bang. Rasanya aku ingin menyusul kalian."


"Aku akan mengumpulkan uang untuk pergi ke kota kelahiranmu dan berziarah ke makammu."


"Terimakasih untuk mata ini, terima kasih untuk perjuangan dan pengorbananmu."


"Aku hanya bisa mengucap maaf lewat doaku. Semoga Abang selalu tenang dan damai. Meski rumah Abang yang baru gak dekat dengan Almarhum mama dan anak kita, tapi aku yakin, Abang sudah bertemu dia di tempat yang baru."


Bening mendekap bingkai fotonya bersama Langit. Setiap malam, sebelum memejamkan mata, dia selalu mendekap erat bingkai foto itu untuk menemaninya tertidur.


Mamak memang mengatakan jika Langit di bawa kembali oleh keluarganya. Saat itu Bening mengira Langit telah tiada, meski begitu Mamak tidak menjelaskan yang sesungguhnya. Seperti pesan Sam.


Di kamar lain.


Mamak juga sedang memandangi foto Langit. Dia sangat merindukan sosok pria dewasa yang selama ini selalu menemaninya.

__ADS_1


"Lang, apa kamu sudah sadar? Apa kamu lupa dengan Mamak? Sampai saat ini tidak ada kabar darimu."


__ADS_2