
Tok ... tok ....
"Dek, udah siang kok belum bangun?" Mama Has mengetuk kamar Bening, karena sudah hampir jam tujuh pagi belum juga turun untuk sarapan. Dari kemarin kondisi Bening memang kurang enak badan, Mama Has menjadi khawatir jika kondisi Bening semakin drop.
"Mama bawain sarapan ke kamar, ya?"
Tok ... tok ....
Tak kunjung mendapat jawaban, Mama Has kembali mengetuk pintu.
"Dek ...! Adek ....!!!" Mama Has yang bertambah khawatir langsung membuka pintu kamar Bening. Dia mendekati tubuh Bening yang masih bergulung dengan selimut. Perempuan paruh baya itu duduk di tepi ranjang.
Dahi Bening dipenuhi keringat dingin. "Rengit ...!" Bibir pucatnya memanggil-manggil nama Langit.
Mama Has mengernyit, lalu menempelkan telapak tangannya di kening Bening. "Astagfirullah, Adek, kening kamu panas banget." Mama Has segera keluar kamar dan memanggil pembantunya.
"Bibik! Bik!"
"Iya, Nya?" Bibik menyahut dari lantai bawah.
"Panggil Mang Juri, suruh antar Bening ke rumah sakit!!! Cepat!"
"Baik, Nya."
•
Di Rumah Sakit Sehat Bersama.
Mama Has menunggu di luar kamar rawat Bening. Ibu paruh baya itu sangat khawatir dengan kondisi puterinya. Sesekali menatap daun pintu yang belum juga terbuka.
Empat kali menghubungi nomor Langit, masih saja tidak aktif. "Kemana sebenarnya kamu, Langit? Kalau ada masalah seharusnya nggak seperti ini. Atau ... kamu sendiri juga sedang dalam masalah? Bening sangat ingin bertemu denganmu." Mama Has bermonolog sendiri.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" Mama Has mendekat setelah dokter yang merawat Bening sudah keluar.
"Demam putri ibu sangat tinggi. Sudah kami tangani. Mudah-mudahan demamnya segera turun." Keterangan dokter itu sedikit melegakan kekhawatiran Mama Has.
"Jadi, tidak ada bahaya serius yang mengancam putri saya, kan, Dok?"
"Sejauh ini kita masih memantau, jika dalam 24 jam demamnya tidak turun, kita akan lakukan penanganan intensif. Dan, sepertinya putri ibu sangat fobia dengan hewan Rengit, karna dari tadi selalu menyebut hewan itu. Atau sebelumnya pernah mengalami hal menakutkan dengan hewan kecil itu?" Dokter menjelaskan dengan kening mengerut. Baru ini ada pasiennya demam tinggi gara-gara hewan kecil itu.
Awalnya Mama Has melongo, tapi setelah ingat, dia justru tersenyum. "Maaf, Dok. Putri saya bukan takut dengan hewan rengit. Rengit yang dimaksud putri saya itu suaminya____"
"Heh??? Putri ibu menikah dengan hewan rengit?" Dokter itu sampai melotot dan mundur ke belakang.
__ADS_1
"Eh, Dok, jangan salah paham dulu. Rengit itu panggilan sayang putri saya ke suaminya. Biasa, anak muda memang seperti itu."
"Oh, begitu. Maafkan saya sudah salah paham. Saran saya, suaminya harus diberitahu keadaanya. Demam tinggi itu bisa saja karena putri ibu merindukan suaminya."
"Iya, Dok. Saya sedang berusaha menghubungi menantu saya."
Dokter mengangguk. "Saya permisi, Bu. Kalau ada apa-apa bisa panggil saya."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Setelah dokter pergi, Mama Has masuk ke dalam. Bening yang biasa sehat kini terbaring lemah dengan jarum infus menusuk punggung tangannya.
Mama Has meraih tangan Bening yang sebelah. Air matanya menetes melihat wajah Bening sangat pucat. "Adek, Mama tau kamu sangat merindukan Langit? Mama sedang berusaha menghubungi dia, tapi belum aktif. Kamu sabar ya, dan harus kuat. Mungkin saja suamimu sedang ada keperluan. Dia pasti segera menemuimu."
•
Di tempat lain.
Pria yang duduk di hamparan luas itu tengah melamun. Ada yang mengganggu pikirannya. Sejak beberapa hari lalu, dia terus saja kepikiran dengan Bening. Semakin hari, semakin kalut dan gusar. Saat ini dia harus menjadi orang lain, bukan menjadi Langit yang ceria dan humoris. Dia sendiri sedang terjebak peliknya permasalahan pribadi.
Pria itu beranjak pergi.
"Mak, sore ini kita pulang."
"Lang rasa Mbak Bening gak mungkin nyariin aku. Dia udah ada yang jaga. Setelah ini Lang mau bicara sama dia, soal kelanjutan hubungan kami."
"Lang, dipikir dengan matang. Mak serahkan semua keputusan padamu. Mak selalu dukung."
•
Pukul sebelas malam, mobil silver memasuki jalanan rumah Langit. Suasana sekitar nampak sunyi, mungkin sebagian warga sudah terlelap. Langit dengan supir mobil menurunkan tas dan kantong kresek dari dalam bagasi.
"Terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama."
Mamak membuka kunci pintu, Langit mengusung bawaan tadi dan membawa ke dalam rumah.
"Mamak langsung tidur aja, pasti capek banget," ujar Langit.
Langit duduk di sofa. Sekian lama tidak menonaktifkan daya ponselnya. Ketika menyala, ponsel itu tak henti berbunyi. Pertanda ada banyak yang menghubungi.
Bola matanya hampir loncat saat banyak sekali panggilan masuk dari nomor Bening dan Mama mertuanya. Dan ada puluhan pesan masuk. Tapi Langit enggan membuka, pria itu justru melamun. Mengingat terakhir kali dia berada di rumah Bening, istrinya di jemput pria lain. Dia tahu jika Bening bukan hanya sekadar berteman dengan pria itu.
__ADS_1
•
Jam setengah dua belas demam Bening belum juga turun meski dokter sudah memberi penangan intensif.
Mama Has yang tanpa sadar tertidur di samping Bening tiba-tiba terbangun saat badan Bening menggigil kedinginan. Dia segera memanggil dokter.
Mama Has menunggu di luar, dia tak henti menangis karena sangat mengkhawatirkan Bening. Dia teringat dengan Langit, dia akan mencoba menghubungi kembali.
"Langit, tolong aktifin nomor kamu." Dengan terisak Mama Has menelpon lagi. Dia sangat berharap nomor Langit sudah aktif.
Mama Has berubah senang ketika nomor Langit sudah berdering, itu artinya tinggal menunggu di jawab.
Langit yang sudah berpindah ke kamar dan baru saja terlelap harus terganggu dengan deringan ponsel yang tak juga berhenti. Mata yang menyipit dia membaca nama siapa yang menghubungi.
"Mama mertua."
"Tumbenan jam segini hubungi?"
"Halo, Ma."
"Langit! Ya, Tuhan ... kamu kemana saja?" Suara Mama Has terdengar serak.
"Ada apa, Ma?"
"Bening ... Bening di rawat. Dan kondisinya masih mengkhawatirkan. Mama minta tolong, kamu segera ke sini."
"Mbak Bening sakit apa?"
"Nanti Mama jelasin. Kamu cepetan ke sini."
Rasa kantuk dan rasa lelah sudah hilang begitu saja saat mendengar kabar barusan. Langit segera mengambil jaket tebal dan segera mencari kunci motor.
Jalanan yang lengang membuat Langit lebih leluasa menguasai jalanan. Hanya sekitar 30 menit sudah sampai di rumah sakit. Dia kembali menghubungi Mama Has untuk menanyakan di mana ruang rawatnya.
"Ma ...."
"Lang? Adek, Lang?"
"Mbak Bening sakit apa, Ma?"
"Dia demam tinggi. Barusan badannya menggigil. Mama takut kondisinya bertambah lemah."
"Mama tenang, jangan khawatir. Mbak Bening pasti baik-baik saja." Langit menenangkan, tapi tak dipungkiri bahwa dia juga sangat khawatir. Mama Has yang terus menangis belum bisa di ajak berbicara, dia hanya menunggu dokter keluar dan meminta penjelasan.
__ADS_1