
Pukul tujuh malam Mama Has berjalan mondar-mandir di ruang depan. Telapak tangannya menggenggam ponsel. Raut wajahnya kentara sedang khawatir.
Dia kembali menghubungi Langit meski dari tadi belum di angkat. Padahal sudah ke tiga kalinya Mama Has menelpon, namun tak membuatnya menyerah untuk tetap menghubungi sampai panggilannya di angkat oleh Langit.
Duduk sebentar, bangkit lagi, mondar-mandir lagi, menghubungi lagi. Namun tetap tidak ada perubahan.
Bibik datang membawa minuman. "Minum dulu, Nya." Bibik menaruh secangkir teh di atas meja hadapan Mama Has. Bibik tahu sedari tadi majikannya sedang gusar karena anak semata wayangnya belum pulang, juga tidak bisa dihubungi.
Selang beberapa menit, ponsel Mama Has berdering. Langit menghubungi balik.
"Lang."
"Halo, Ma."
"Bening sama kamu, enggak?"
"Enggak, Ma. Mbak Bening tadi udah bilang sama Langit, dia ada lembur dan pulangnya agak malam." Langit membaca kekhawatiran Mama Has dari nada bicaranya yang terdengar tidak seperti biasanya.
"Oh gitu. Tapi perasaan Mama nggak enak. Boleh minta tolong. Coba kamu susul ke kantornya. Soalnya Mang Juri udah pulang duluan dan sekarang masih di bengkel. Telepon ke kantor, katanya Bening ada meting diluar sama sekretarisnya. Semua di hubungi nggak bisa. Gimana ya, ini udah jam tujuh lebih. Mama khawatir." Panjang lebar Mama Has berkalimat dan mengutarakan kekhawatirannya.
"Baik, Ma. Langit ke kantor Mbak Bening sekarang."
"Jangan lupa telpon Mama kalau kamu sudah sama Bening!"
"Iya, Ma. Langit tutup telponnya."
•
Langit yang juga sedang sibuk di rumahnya segera bersiap: berganti pakaian, memakai jaket dan sedikit merapikan penampilan. Dia tidak mau mengulang kedua kalinya. Ketika dia ke kantor Bening dan hanya dikira sebagai penjaga rumahnya saja. Padahal keinginannya ingin menjaga hati Bening. Ah, disituasi genting seperti ini malah curhat.
"Mak, Langit pergi!" teriak Langit.
Mamak yang sedang wirid harus terjeda sebentar. "Iya. Hati-hati, Lang!"
Langit mengeluarkan motor matic yang tadi sudah dimasukan ke dalam rumah. Dengan tergesa-gesa segera menghidupkan mesin motor dan ngacir menuju kantor Bening.
Sekitar 40 menit, pria itu sampai di depan gedung tinggi pencakar langit. Dia turun dari motor sudah disambut oleh salah satu satpam yang kebetulan baru saja lewat.
"Kantor udah tutup, Mas."
__ADS_1
"Apa semua udah pulang?"
"Sudah, Mas. Hari ini tidak ada yang lembur."
"Berati Mbak Bening juga udah pulang?"
"Sebelum jam kantor selesai, Non Bening sudah pergi bersama Pak Dodi. Sekretarisnya." terang Pak Satpam yang memakai seragam serba hitam.
"Bapak tau nggak, kira-kira Mbak Bening pergi kemana?"
"Wah, saya kurang tau, Mas."
"Baik, terima kasih, Pak. Saya permisi," pamit Langit.
"Sama-sama, Mas."
Langit melajukan motornya belum tentu arah. Setelah beberapa meter jauh dari kantor Bening, dia menghentikan motor di pinggir jalan raya. Mencoba mengotak-atik nomor ponsel Bening; melacak nomor ponsel Bening, ingin tahu di mana terakhir nomor itu aktif.
Alamat sudah di dapat, ternyata tidak jauh dari tempatnya berhenti. Langit sedikit melega, setidaknya istri galaknya itu masih disekitaran daerah sini.
Dengan tersenyum sendiri, dia terus melajukan motornya menuju alamat yang dilacaknya tadi.
Kaki itu mulai memasuki cafe yang sedikit lengang. Mungkin bukan malam Minggu, dan pemuda-pemudi sibuk dengan urusan mereka, maka dari itu cafe sedikit sepi.
Matanya dikerahkan untuk merotasi ke segala arah, mencari wanita yang sedari tadi di khawatirkan. Berharap segera menemukan siluet Bening.
Satu per-satu meja diteliti. Dan ... akhirnya dia menemukan objek yang dicari. Kaki Langit hampir melangkah, tapi di urungkan ketika seorang pria tiba-tiba duduk di hadapan Bening. Pria itu menebar senyum.
Langit mematung. Ada sesuatu yang dirasanya tepat di ulu hati. Sesak, sakit, seolah ada yang meremas, menarik dan menusuk hatinya.
Dia adalah suaminya, tetapi yang dilihat sekarang melukai statusnya sebagai seorang suami. Seolah status itu tidak dihargai.
Jika pria itu tidak menggenggam tangan Bening, tentu dia mengira itu hanya rekan bisnis; tidak memiliki hubungan apapun.
Namun, sikap Bening menambah kegalauan hati Langit saat wanita itu hanya diam saja tanpa ada perlawanan. Bukankah menunjukan bahwa Bening sudah mengenal, bahkan bisa saja sudah akrab dengan pria itu.
Jika orang lain memperhatikan mereka. Maka akan memberi komentar jika keduanya adalah sepasang kekasih.
Langit bingung harus bagaimana. Menghampiri atau pura-pura tidak tahu. Atau dia meninggalkan cafe itu dengan kekecewaan lagi. Namun kali ini kekecewaannya jauh lebih menyesakkan.
__ADS_1
"Mas, mau pesen meja tidak?" Salah satu pelayan cafe menghampiri Langit.
"Oh, enggak, Mbak. Tadi saya cuma cari orang, tapi kayaknya tidak ada!"
"Oh, baik, Mas. Boleh saya mencari orang di cafe ini, tapi jangan sampai menggangu tamu yang datang."
"Iya, Mbak. Saya juga akan pergi sekarang."
Tepat saat Langit berbincang dengan pelayan, tatapan Bening tak sengaja terarah ke Langit. Wanita itu terkejut. Bening menoleh lama ke arah Langit. Dan Langit juga tepat melihat ke arah Bening. Sejenak tatapan keduanya beradu.
"Be," suara seseorang di hadapan Bening, mengalihkan wanita itu.
"Aku harus pulang, sekarang!"
"Nanti sebentar lagi, Be!" Pria tersebut mencoba menahan Bening agar mengurungkan niat untuk pergi.
"Ini terlalu lama. Aku harus pulang!" Tidak menghiraukan panggilan pria itu. Bening lekas meninggalkan cafe. Dia berjalan cepat menuju parkiran motor. Memasang mata untuk mencari Langit.
"Renggit!!!"
Langit menoleh. Pria itu tersenyum. "Tadi saya cuma mau mastiin kalo Mbak baik-baik aja," ujarnya meski Bening tidak bertanya tentang itu. "Mama yang nyuruh," imbuh Langit.
Bening diam menatapi Langit. Pria itu pun sama sedang menatap Bening dengan sorot berbeda. Meski bibir melengkungkan senyum, namun pancaran mata tidak bisa menutupi perasaan tersembunyi.
"Kalo urusannya belum selesai, Mbak masuk aja."
Langit mendorong motornya ke depan. Bening mengikuti pergerakan Langit namun belum membuka mulut untuk menjawab atau menjelaskan.
Melihat Bening diam saja, Langit berniat pulang. "Saya pergi duluan, Mbak."
"Saya akan kasih tau Mama kalo Embak baik-baik aja. Kalo bisa, cepet pulang biar Mama gak semakin khawatir. Atau gak, telpon Mama sekarang aja."
"Ponsel saya habis baterei."
Langit men-stater motor. Tapi Bening memegang lengan Langit. "Saya ikut pulang."
"Siapa, dia, Be?" Pria yang tadi duduk di meja yang sama dengan Bening tiba-tiba mendekat. "Apa dia sepupumu?" tanyanya lagi.
Namun Bening bergeming dengan tatapan mengarah pada Langit.
__ADS_1
"Saya penjaga rumah Mbak Bening. Di suruh nyari Mbak Bening karna udah malem belum juga pulang." Langit membantu menjawab.