
"Kamu udah baikan, Be?"
"Heem. Aku udah jauh lebih baik."
Tiga hari telah berlalu, hari ini diantar Teddy, Langit menemui Bening.
"Aku seneng dengernya."
"Kaku gini sih ngobrolnya?" ujar Bening.
Langit tersenyum. Meski Bening tidak bisa melihat senyum itu, tapi dia pasti bisa mendengar deru tarikan napasnya.
"Kamu tau?"
"Apa?"
"Ah, kamu pasti udah dikasih tau Mama."
"Belum," jawab Langit.
"Udah ada yang mau donor mata buat aku." Bening antusias tersenyum, lengkungan dibibir selalu tersungging. Dia yakin, Langit pasti melihat binar kebahagiaanya.
"Ohya? Alhamdulillah hirabbil alaamin. Aku ikut seneng. Akhirnya, kamu bisa melihat lagi."
"Heem. Aku nanti bisa liat cahaya, aku bisa liat dunia, aku bisa liat Mama, liat Mamak dan ... bisa liat kamu." Bening tersenyum malu saat mengatakan bisa melihat kamu. Kesenangannya terlalu membuncah, seolah semua baik-baik saja setelah tiga hari berlalu.
Hening.
"Dan aku lupa. Aku nanti bisa liat ... makam anak kita." Perempuan yang bersandar di head bed itu berubah sendu. Mengenang kembali makhluk kecil yang telah gugur untuk diperjuangkan.
Langit menggenggam tangan Bening. "Jangan sedih lagi. Dia pasti sudah bahagia di dunianya yang baru." Bukan hanya Bening, kini Langit pun ikut berubah sendu.
"Kamu tau. Orang yang mau donorin kornea matanya itu sok misterius. Dia gak mau identitasnya kebongkar. Aneh gak, sih? Aku jadi penasaran sekaligus kasihan."
"Kasihan kenapa?"
"Kata dokter di sisa umurnya dia ingin berguna bagi orang lain. Apa dia tuh hampir ...." Bening tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kamu sok tau. Itu belum tentu, mungkin saja dia lagi butuh uang."
"Tapi dia gak minta imbalan apapun. Aneh, lho."
"Dah lah gak sah dipikirin. Yang penting sebentar lagi kamu bisa lihat." Langit berusaha mengalihkan obrolan. "Mau makan?"
"Enggak. Tadi udah makan sama Mama. Doddy dan Sarah apa pernah jenguk aku? Aku ingin tau perkembangan kantor." Ada yang aneh, kenapa tangan kanan yang bertugas menghandle kantor tidak ada yang datang memberi laporan. Kemana mereka. Apa yang terjadi.
__ADS_1
"Be, boleh aku peluk kamu." Satu permintaan dari Langit yang membuat Bening terhenyak. Hal sederhana dan wajib dilakukan suami istri, tapi suaminya harus meminta izin lebih dulu. Apa Langit kena mental waktu kemarin dia histeris dan selalu menyalahkan pria itu. Kamu jahat, Be. Apa kamu tidak merasa bersalah.
Bening tidak menjawab, namun kedua tangannya merentang lebar untuk menyambut pelukan Langit. Langit tersenyum dengan mata yang berkaca, pria itu langsung merengkuh tubuh istrinya dengan sayang. Bening mendekap dengan erat, kenyamanan Langit tidak berubah meski dia selalu bersikap egois.
Aku gak bisa marah dan benci, Be. Aku masih mementingkan kamu dibanding aku sendiri. Kamu selalu menginginkan kehidupanmu, sedangkan aku ... kehidupanku tidak penting.
"Maafin aku. Aku kemarin gak bisa ngontrol emosi. Aku ... aku malah nyalahin kamu terus," ucap Bening dengan tetesan air matanya.
"Kamu pantes nyalahin aku. Aku emang penyebab semua ini terjadi. Tapi, aku ingin kamu tau ... Be, apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu." Langit berkedip, dua matanya meneteskan air mata. "Semoga operasinya berjalan lancar. Kamu bisa menemukan kebahagiaanmu seperti dulu."
"Kenapa ngomongnya melow gini, sih. Kan, jadi mewek parah." Bening melonggarkan pelukan dan memukul pelan perut Langit. Setelah itu menghapus bekas air mata.
"Gak melow. Kan, aku doain kamu. Siapa yang melow." Langit mengembus napas panjang. Dia lekat menatap setiap inci wajah istrinya. Meski wajah Bening tak tersentuh make up, namun masih terlihat sangat cantik.
"Bang! Satu, aku ingin ucapkan terima kasih. Kamu tetap selalu di sisiku meski aku bersikap jahat dan egois," ujar Bening dengan serius.
"Itu gak perlu ngucapin makasih. Aku suamimu, udah kewajibanku selalu ada buat kamu. Untuk sikapmu, semoga pelan-pelan bisa berubah," jawab Langit.
"Dua, aku ingin meminta maaf yang seeeebesar-besarnya untuk kesalahan dan dosaku yang aku perbuat padamu. Apa kamu memaafkan istri jahatmu ini?" Bening bertanya dengan sungguh-sungguh.
"Aku selalu memaafkanmu. Seburuk apapun perlakuanmu, entah mengapa aku gak bisa bencimu."
"Ke tiga, aku sayang dan cinta dengan, Abang." Kali ini Bening tersenyum ceria dan manja seperti saat wanita itu sedang bahagia.
Keduanya kembali saling merengkuh. Bibir mereka tersenyum, tapi mata mereka berkaca-kaca. Satu perasaan merasa bahagia, namun satu perasaan lagi merasa gamang.
"Besok pas aku mau operasi, dateng dan tungguin aku, ya. Orang pertama yang ingin aku liat, Abang."
"Hem."
Hening.
Langit tetap menatapi wajah Bening. "Aku harus pulang," pamit Langit.
"Kok, pulang?" manautkan kedua alisnya. Seolah tidak setuju.
"Kasihan Teddy, nunggu kelamaan."
"Nanti sore aja pulangnya, biar Teddy jemput lagi ke sini," usul Bening.
"Besok aja aku ke sini lagi. Kasihan Mamak, di rumah sendiri."
Bening melemas dan menghela napas panjang.
"Aku juga harus banyak istirahat, Be."
__ADS_1
"Tunggu. Setelah operasinya berjalan lancar, aku udah sembuh. Aku akan kembalikan uang Mamak yang kepakek buat bayar biaya rumah sakit."
"Gak usah. Semua yang udah gak usah dibahas. Suatu saat aku pasti bisa tebus sertifikat Mamak lagi. Kamu gak usah pikirin itu. Semua tanggung jawabku.
"Lang ...." Mama Has masuk.
"Ma."
"Kamu udah baikan?"
"Alhamdulillah, Ma."
Melihat Bening menggenggam tangan Langit, Mama Has bisa menebak jika keduanya sudah kembali berbaikan.
"Lang, Mama mau bicara denganmu," pinta Mama Has.
"Ada apa sih, Ma? Ngomong di sini aja," sela Bening.
"Bentar aja, Dek." Mama Has mendorong kursi roda yang di duduki Langit keluar ruangan.
"Lang, jujur sama Mama, bukan kamu kan?!"
"Maksud Mama?"
"Bukan kamu, kan, orang yang donorin mata buat Bening?"
Langit tertegun, pria itu menelan ludah kepayahan. "Bukan, Ma. Bukan Langit." Dia menjawab setenang mungkin.
"Mama harap memang bukan kamu, karna Mama tau kondisimu lebih buruk dari Bening. Mama akan bantu kumpulkan uang agar kamu segera dioperasi."
"Langit gak apa, Ma. Lang walau gak operasi, Mamak rutin buatin ramuan. Ramuan itu pasti manjur."
Mama Has menggeleng. "Ramuan hanya sekedar memperlambat penyebaran cairan, bukan penanganan yang tepat. Kamu tetap butuh tindakan operasi."
"Mama tenang aja. Lang gak selemah yang Mama lihat. Dan, makasih. Mama udah khawatirin keadaanku."
"Kamu itu anak Mama, sama seperti Bening. Mama tetap khawatir denganmu, Lang."
"Lang pamit, Ma. Nanti Lang dateng lagi kalo istriku udah mau dioperasi."
"Itu masih tiga harian, Lang."
"Iya, Ma. Lang gak bisa setiap hari kesini, gak enak ngerepotin Teddy atau Kasep. Lang juga butuh istirahat, biar cepat pulih."
"Iya, kamu butuh banyak istirahat biar cepat pulih."
__ADS_1