Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Pembelajaran Waktu


__ADS_3

Sirine ambulans menggetarkan tiap orang yang mendengar. Di jalan terjadinya kecelakaan antar motor matic putih dengan mobil pickup masih tersisa body kendaraan yang berserak.


Sirine ambulans barusaja terdengar menjauh.


Ruang UGD yang mencekam. Dua orang korban kecelakaan mengalami luka parah dengan satu ibu hamil yang mengalami pendarahan di kepala dan bagian inti tubuhnya. Banyak yang mengira wanita itu akan kehilangan calon bayinya, mengingat kondisinya yang mengenaskan.


Mama Has di papah pembantunya telah menyusuri lorong rumah sakit. Berapa bulan lalu puterinya di rawat, tak sampai Bening melahirkan kembali di rawat dengan kasus kecelakaan lalu lintas. Mama Has hampir pingsan mendapat kabar Bening kecelakaan, mengingatkannya pada almarhum suaminya yang meregang nyawa karena kecelakaan. Kejadian naas seperti itu kenapa harus terulang lagi. Mudah-mudahan Bening dan calon anaknya bisa selamat. Langit, dia juga mendoakan hal yang sama untuk menantunya itu.


Mamak, Habibah, Kasep dan Teddy juga memenuhi lorong. Mereka semua langsung gegas ke rumah sakit saat Kasep dan Teddy mengetahui kecelakaan yang terjadi.


"Bu." Mamak mengelus punggung Mama Has.


"Mak." Mama Has memeluk tubuh Mamak. "Bagaimana dengan mereka, Mak? Saya gak sanggup bayangin yang terjadi dengan mereka." Perempuan paruh baya itu terisak. Dan sama halnya dengan Mamak.


"Sabar, Bu. Ini takdir dari Tuhan. Kita berdoa, semoga mereka baik-baik saja, hanya mengalami luka ringan." Mamak berusaha menegarkan, padahal hatinya sendiri sangat takut dan khawatir. Padahal Mamak tahu separah apa kecelakaan yang terjadi.


Satu dokter keluar dengan mimik wajah tegang. Menghampiri keluarga pasien. "Nyonya dan Nenek, mohon sabar dan tabah. Kami para dokter sudah melakukan yang kami mampu. Dengan berat hati saya harus memberitahukan kabar buruk."


Deg ....


Mama Has merosot dan terduduk di kursi tunggu. Bibik pembantu sigap menyanggah tubuh majikannya. Mama Has terisak sesak. Belum mendengar kabar buruk itu tubuhnya sudah sangat lemah. Tak terkecuali dengan Mamak juga terlihat melemas.


"Bayi Nona Bening sudah meninggal di dalam kandungan, untuk itu kami meminta persetujuan keluarga untuk melakukan operasi cecar."


Semua terkesiap mendengar penuturan dokter.


"Cu-cucuku meninggal?" Setelah bertanya itu Mama Has tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Inalillahi wainaillahi rajiun." Mamak lebih tegar dari Mama Has. Namun, tubuhnya sama-sama tak bisa melakukan apa-apa. Berkali-kali mengucap istigfar.


Kecelakaan yang terjadi menggemparkan dunia maya. Sorotan media adalah nama Bening Agistasari yang menjabat CEO di Perusahaan Permana Grup. Beredarnya video itu sampai di tangan seseorang dan membuat orang itu sangat terkejut dengan sosok Langit yang turut terlibat pada kecelakaan itu.


~


Usai sadar, Mama Has kembali duduk di kursi tunggu. Air matanya tidak pernah surut membanjiri pipi. Pandangannya tampak kosong. 'Astagfirullahalazdim. Musibah apalagi yang Kau berikan pada keluarga kami, ya Rabb. Musibah ini sangat berat, kenapa Engkau mengambil calon cucuku sebelum lahir. Apa ini kemurkaan terhadap sikap Bening waktu itu yang tidak menginginkan amanahmu. Bukankah Engkau Maha Mengetahui jika Bening sudah menerima dan menyayangi calon anaknya, kenapa justru Engkau ambil dengan cara seperti ini. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan putriku setelah dia sadar nanti.'


Semua masih harap-harap cemas menunggu dokter keluar dan memberi keterangan keadaan mereka.


Dokter yang menangani Langit keluar lebih dulu.


"Dok, bagaimana keadaan Langit?" Mamak antusias bertanya.


"Mas Langit mengalami pergeseran tulang lutut, luka di pelipis dan kebocoran paru-paru. Kami sudah menangani dan kemungkinan 4 jam sudah siuman. Kalau untuk berjalan normal, kami menafsirkan waktu sekitar 2 bulanan lebih, tergantung penanganan selanjutnya."


Tak berselang dari itu tubuh Bening yang belum sadar akan dipindah ke ruang operasi. Mama Has dan yang lain menghampiri dan ikut mengantar Bening. Mama Has terisak pilu melihat anaknya dengan keadaan memprihatinkan. Perut Bening masih nampak membesar, tetapi untuk beberapa saat berikutnya perut itu akan kembali datar.


Mama Has teriris membayangkan kemalangan itu. Calon cucunya sudah pergi sebelum dia bisa melihat dan menggendongnya.


"Dek, kamu kuat sayang. Bertahan, Nak. Adek bisa lewatin ujian ini." Mama Has berbisik di telinga Bening.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Mohon Nyonya, Nenek dan keluarga ikut mendoakan semoga operasinya berjalan lancar."


"Aamiin. Kami terus berdoa, Dok. Saya mohon, lakukan yang terbaik dan selamatkan anak saya," pinta Mama Has.


"Pasti, Nyonya. Kami mengupayakan sebaik mungkin, tapi tetap Tuhan yang berkuasa."

__ADS_1


Tubuh Bening sudah masuk ke ruang operasi. Semua menunggui di sana, tapi Mamak izin sebentar untuk menengok Langit.


Pandangan Mamak terfokus pada tubuh lemah Langit. Kasa putih yang membebat kepala Langit berubah kemerahan saat cairan darah terus keluar.


Air mata Mamak semakin deras membanjiri pipi, mata yang berkabut tak begitu jelas meniti wajah Langit.


"Allah selalu sayang padamu, Lang. Sampai saat ini memberimu ujian lagi. Kamu telah melewati ujian tersulit, kali ini pun tidak jauh beda dari waktu itu. Dan, cara menerima ujian saat ini kamu harus menyikapi dengan sama. Kamu kuat, kamu bisa melewati ini." Tangan Mamak mengelus pelan rambut Langit.


'Setelah kamu sadar nanti, mudah-mudahan bisa tegar menerima keadaan jika calon anakmu sudah kembali pada yang kuasa.'


Keadaan sekarang dan yang akan datang tidak ada yang tahu. Jika dulu Bening yang berontak dan menolak anugerah dari-Nya, kini Tuhan benar-benar mengambil sesuatu yang pernah ditolak. Tuhan takkan lupa dengan doa hambanya. Pun tidak akan lupa memberi ganjaran pada setiap perbuatan. Semua hanya tentang waktu. Bening tidak akan mendapat pembelajaran dari waktu jika pada saat itu Tuhan menakdirkan bayi itu tidak berumur panjang.


*Aku gak mau hamil


Aku akan gugurkan anak ini*


Kini ucapan itu terkabul. Setelah 4 bulan ucapan itu baru terkabul. Tanpa Bening melakukan apapun, benih yang dikandung sudah kembali ke sisi-Nya. Tuhan Maha Tahu kapan memberi ganjaran pada perkataan hambanya.


~


Dua jam berada di ruang operasi. Kini operasi yang itu berjalan lancar. Perawat keluar dengan membawa seonggok daging tanpa nyawa. Makhluk kecil yang selama lima bulan berada diperut Bening kini telah dikeluarkan.


Meski masih sangat kecil, tetapi bagian tubuh sudah lengkap membentuk bayi.


"Nyonya, ini bayi Nona Bening. Berjenis kelamin perempuan." Perawat itu memberi tahu dengan memperlihatkan bayi kecil yang ada di gendongannya. Namun, sekali lagi sangat di sayangkan, bayi itu tidak bisa terselamatkan karena mengalami benturan hebat.


"Ya Tuhan ...." Mama Has membekap mulut dan kembali terisak ketika meniti bayi mungil yang sudah tidak bernyawa.

__ADS_1


__ADS_2