
Bening duduk di pinggir ranjang bekas kamar Langit. Dia menunduk meredam suara tangis agar tidak terdengar sampai ke luar.
Ketika tidur di sini biasanya Langit yang selalu mengipasi menggunakan sobekan kardus, pria itu rela semalaman suntuk tidak tidur demi kenyamanannya tidur di tempat sempit itu. Kini, entah sampai kapan dia akan menghuni kamar itu tanpa ada yang mengipasi, tanpa ada yang memijat kaki dan tangannya. Tidak ada yang akan mendengar keluh kesahnya. Semua tidak sama seperti dulu lagi.
Bening semakin sesak saat melihat ke lemari baru Langit yang tadi sengaja dia buka, semua baju tersusun rapi. Dia ingat ketika suaminya menyempatkan waktu untuk menyetrika semua bajunya sendiri, bukan hanya itu, semua rutinitas di kerjakan sendiri tanpa mau merepotkan Mamak. Kini fokus pandangan Bening tertuju pada tumpukan baju daster miliknya sewaktu dia hamil.
Biasanya Langit akan duduk di tempatnya sekarang sambil melihat dia mengomel sepanjang rel kereta api, meski begitu Langit tak pernah kembali memarahinya, pria itu justru menanggapi dengan senyuman.
Sekarang dia mengelus perutnya yang sudah kembali rata, tidak seperti beberapa waktu lalu yang membesar dengan tendangan-tendangan kecil dari calon anaknya. Biasanya Langit tak pernah absen selalu mengelus perutnya dan mengajak calon anak mereka berbicara.
"Sehat-sehat di dalam sana sampai nanti waktunya kamu lahir, ya, Nak. Calon ayahmu ini sangat menantikan kehadiranmu. Ayah sayang ama dedek."
"Be, dia nendang aku lagi."
"Be, dia dah pindah di sebelah sini." Setelah mengatakan beberapa kalimat itu, pria dengan wajah teduh itu selalu melempar senyum dan tergelak renyah.
Kebiasaan-kebiasaan yang sering di lakukan meski sangat sederhana tapi justru kebiasaan itu yang membuatnya rindu.
Sesuatu yang sering dianggap tak berharga, sering kali disia-siakan akan terasa menyesakkan setelah sesuatu itu sudah menghilang. Dia tak bisa lagi mengulang momen indah itu karena sebagian dari pencipta momen itu sudah tiada. Mereka sudah tidak bisa tinggal bersama.
Kini dia mengerti, kebersamaan alam mengajarkan kita untuk saling bersabar dalam memahami.
Begitu pun dengan kehilangan akan mengajarkan kita tentang menghargai keberadaan sesuatu yang kita anggap remeh. Semua mengajarkan tentang betapa berat bersabar dan mengikhlaskan.
Semua barang di kamar Langit mengingatkan tentang kenangan mereka. Dada Bening terasa di remas-remas dengan kuat.
~
Kumandang azan maghrib sudah terdengar, namun lamunan Bening belum juga menghilang, wanita itu menyangga dagu dengan tatapan kosong. Dia benar-benar bukan Bening Agistasari yang dulu, kini menjadi sosok yang berbeda, murung dan wajah pucatnya tak berhias senyum sama sekali.
__ADS_1
"Nak Bening, sudah azan maghrib, kurang baik melamun di luaran gitu. Ayo, masuk!" ajak Mamak.
"Eh, i-iya, Mak."
Ketika waktunya makan malam, mata Bening terus melihat menu makanan yang terhidang. Ada, nasi, sayur santan tahu dengan orek tempe. Menu sederhana yang jarang dia makan kecuali memang sedang tinggal di rumah Mamak. Di meja itu sama sekali tidak ada lauk yang bergizi, seperti dulu yang sering dia makan.
"Maaf, ya, Bu, Nak Bening, makanannya cuma seadanya saja."
Itulah yang setiap hari Langit hadapi, begitu dia tidak bersyukur memiliki suami seperti Langit. Pria yang tak pernah berbuat neko-neko, selalu ikhlas menerima apapun yang ada disekitarnya.
~
Malam pertama tinggal di rumah Mamak tanpa adanya Langit. Kedua mata Bening enggan terpejam, dia hanya berganti-ganti posisi tapi tak menemukan kenyamanan. Dia tidak bisa tidur.
Pagi hari.
Bening bangun sedikit siang, Mamak atau Mama Has sendiri tidak berani untuk membangunkan.
"Dek, jangan pergi kesana dulu sebelum hatimu siap."
Bening terdiam, bukan dia takut untuk mengunjungi makam mertua dan anaknya, tapi wanita itu takut melewati jalan yang pernah terjadinya kecelakaan.
"Hilangkan dulu traumamu, Dek."
Bening mengangguk. "Tapi hari ini Be tetap akan pergi, Ma. Be harus membuat perhitungan dengan mereka!" Mereka yang dimaksud Bening tak lain adalah Doddy dan Sarah.
"Dengan siapa kamu ke sana? Mama benar-benar takut terjadi sesuatu denganmu lagi."
"Be bisa pergi sendiri dengan taksi. Mama gak usah takut. Be ingin menemui mereka, Ma."
__ADS_1
~
Tak ada yang bisa mencegah Bening, kini perempuan itu sudah berada di perjalanan menuju apartemen Sarah. Dia akan menemui wanita tak tahu malu itu lebih dahulu.
Bening mengetuk pintu Apartemen, tak lama dari itu pintu dibuka.
"Hah?" Wanita dengan make up tebal itu terkejut melihat Bening sudah berdiri di depan pintunya.
"Ada apa kamu kemari!" sambut Sarah tanpa keramahan sama sekali.
Belum Bening membuka suara, tetapi terdengar suara sahutan dari dalam. "Siapa, sayang?" Suara itu, Bening nampak tak asing dengan suara yang terdengar.
"Bram!" Bola mata Bening hampir loncat dari tangkainya. Entah sejak kapan keduanya berkenalan dan bisa sedekat sekarang. Meski semua itu sudah tidak ada hubungan dengannya, tetapi keberadaan Bram di apartemen Sarah cukup mengejutkan.
"Be?!" Bram ikut terkejut.
"Oh, kamu dengan wanita ini, Bram? Kalian emang cocok, satu pengkhianat dan satunya lagi penipu. Klop banget kalian," ujar Bening dengan senyum sinis.
Pakaian sexy yang digunakan Sarah seolah menunjukan bahwa keduanya sudah berbuat jauh, tapi Bening tidak peduli dengan itu. Bram memang pria brengsek.
"Wanita bodoh sepertimu tahu apa tentang keserasian kami? Tapi, bukankah lebih beruntung aku pada akhirnya bisa bersama Bram, daripada kamu ... hanya berjodoh dengan penjual bakso," cibir Sarah dengan wajah menyebalkan.
Wajah Bening berubah geram, tanpa aba-aba tangan yang sedari tadi terkepal melayangkan tinju ke hidung Sarah hingga wanita itu mimisan.
"Akh ...! Kurang ajar! Dasar wanita bodoh. Wanita gila!" Wajah Sarah memerah dengan menahan sakit di pangkal hidungnya.
"Aku gak nyangka kamu wanita selicik ini, Sar. Kamu lupa, bagaimana aku menolongmu dari jeratan hutang rentenir, dan sekarang kamu justru menusukku dari belakang. Munafik!"
"Apa kamu juga lupa, kamu sering memarahiku dengan Doddy meski kami hanya melakukan kesalahan kecil?! Kami memendam kesakitan atas kesombongan dan keangkuhanmu, Bening Agistasari. Sekarang rasakan, apa enak jatuh miskin? Aku mensejajarkan posisimu dengan suamimu, supaya kalian lebih serasi."
__ADS_1
"Ingat, harta yang kamu rebut gak akan halal. Semua itu bukan hakmu. Suatu saat aku akan mengambil kembali apa yang aku punya!"
Berdebat dengan Sarah tak membuat kondisi membaik, justru sebaliknya. Bening meninggalkan apartemen Sarah dengan kemarahan dan air mata. Dia mengalami menjadi orang luntang lantung di jalan. Apa yang harus dilakukan lagi. Semua tidak bisa terus begini. Dia harus mencari jalan agar keluar dari kemiskinannya.