Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Waktu demi waktu


__ADS_3

Pagi ini Langit melihat pria malam itu menjemput Bening. Dia terus mengamati sampai mobil hitam itu meninggalkan jalan rumah Bening.


Langit menuju garasi untuk mengambil motor, hati yang sedih akan bertambah sedih jika dia tak melakukan apapun. Saat ini bukan Bening hal utama yang dipikirkan. Entah, pria itu sedang memikirkan apa.



Sore hari, ponsel Bening bergetar, dia yang bersiap pulang mengurungkan niat. Tertera nama Bram.


"Mau aku jemput lagi, nggak, Beb?"


Bening memijat pelipis, entah mengapa tiba-tiba terpikir dengan Langit. Dia memilih mengubungi nomor Langit tapi tidak aktif. Keningnya bertaut. "Tumben nggak aktif?"


Akhirnya memilih menelpon Mang Juri untuk menjemput. Ketika dia sudah diperjalanan pulang dan melewati tenda orange ternyata tutup. Dia mulai menebak-nebak, ada apa dengan pria itu.


Apa karena pertengkarannya atau karena pagi tadi dijemput Bram? Ah, itu salah dia sendiri, di kasih pilihan enak tapi menolak. Dia terlalu egois, tidak memikirkan istrinya. Jadi itu salah dia, bukan salahnya. Begitu pikir Bening.



Hari kedua tanpa Langit, pagi ketika bangun tidur lagi-lagi terasa berbeda, hampa dan kosong. Menilik kesana kemari tidak menemukan objek yang dicari. Hati mulai terasa kesepian.


"Ugh, menyebalkan!"


Bening berangkat ke kantor dengan murung. Mama Has tak terlalu banyak bertanya, dia tahu hubungan Bening dan Langit sedang sedikit ada masalah. Dia membiarkan keduanya belajar dewasa dan menyelesaikan masalah mereka sendiri.


Sampai saat ini nomor Langit masih tidak aktif. Hampir saja Bening melempar ponsel ke lantai karena perasaanya kesal dengan sendirinya.


"Memang kenapa? Kalo nomor dia gak aktif, hah? Aku gak peduli dengan pria egois itu! Biarkan saja dia melakukan apapun dan sedang dimanapun, aku gak peduli. Ada dia atau gak, gak ada bedanya!!!" Bening marah dengan pikirannya sendiri. Entah, dia benar-benar bingung dengan perasaanya.


Sore ketika pulang kerja dia kembali melewati tenda orange. Dan lagi-lagi tenda itu sepi karena Langit tidak berjualan.


"Mang, kita pulang ke rumah Rengit!" perintahnya.


"Baik, Non."


Dia tak bisa merasa aneh sendirian, kehilangan Langit, tapi pria itu seolah tak merasa. Saat ini dorongan hatinya sangat kuat ingin menemui Langit di rumah. Dia memang bersikeras menyangkal tak peduli pada pria yang menjadi suaminya itu, tapi hati tak bisa ditahan. Dia sangat penasaran apa yang terjadi dengan Langit, sampai pria itu tak bisa dihubungi juga tak menampakkan diri sampai detik ini.


"Sore. Permisi,"


Tok ... tok ....

__ADS_1


"Mak ...! Permisi. Mamak...."


"Eh, Mbak, orangnya ndak ada, sedang pergi."


Bening menoleh pada sumber suara yang menyahut. Dia sedikit tak senang karena mendapati Habibah berdiri di seberang jalan setapak. Tapi demi rasa penasarannya, mau tak mau dia harus bertanya pada gadis belia itu.


"Memang pergi kemana?"


"Taaauu!" jawab Habibah cuek.


Bening semakin geram ingin menarik mulut perempuan muda itu.


"Dek, saya tanya serius. Emang Mamak dan Rengit kemana?" Bening sedikit sewot.


"Yeee ... orang nanya kok gitu amat! Situ kan istrinya, kok, nanya keberadaan suami sama orang lain. Lucu, deh."


Tangan Bening terkepal. Sekali Habibah menyolot, yakin, emosinya takkan terkontrol.


"Sekali lagi saya tanya, emang Mamak dan Rengit KEMANA!" Bening menekankan kata kemana.


"Entahlah, kemarin pagi pergi buru-buru, jadi saya ndak tau mereka pergi kemana. Tapi, nih, mereka bawa ransel besar. Dan juga perginya nyewa mobil rental. Pasti pergi jauh tuh. Huh, Mbak ditinggal, kan." Habibah mengejek.


Dia pergi begitu saja dari hadapan Habibah.


"Oi, Mbak songong, tua lagi. Pantes ditinggalin Bang Langit, situnya kek gitu!"


Ejekan Habibah membuat Bening murka, tapi dia sudah jauh dari gadis muda itu. Tak mau meladeni, memilih pergi dengan pikiran berkecamuk.


Di dalam mobil Bening menutup mulut rapat-rapat. Hati dan pikirannya yang bermonolog tentang kepergian Langit yang mendadak.



Hari ketiga tanpa Langit.


Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya, bahkan terlihat bertambah murung. Mama Has tak mau membuat Bening semakin sedih, dia tak berani menanyakan tentang Langit. Sebisa mungkin untuk menghibur puterinya yang saat ini dalam mood buruk.


Bening sudah menceritakan semuanya pada Mama Has. Wanita paruh baya itu memberi nasehat panjang lebar, berupaya Bening mau merubah sikap dan mau menjadi istri seutuhnya untuk Langit.


__ADS_1


Hari ke empat tanpa pria bawel yang selalu mengekorinya disetiap penjuru rumah. Bening mulai rindu ketika Langit memanggilnya manja 'Embaak.'


Dia rindu saat pagi hari ketika bangun tidur pertama kali yang dilihat hanya pria itu. Terkadang diam-diam dia mengagumi wajah tampan Langit. Ketika Langit belum bangun.



10 hari tanpa Langit. Dia benar-benar tidak bisa mengontrol diri. Menangis seharian di balkon kamar. Meski setiap kebersamaannya hanya ada pertengkaran, namun tak melihat wajahnya ternyata ada kerinduan.


Bahkan saat ini dia sangat rindu ingin bertengkar dengan Langit. Dia rindu ingin dikomentari tentang penampilannya. Dia rindu ingin pergi ke rumah sederhana yang terasa sekali kehangatannya. Dia rindu masakan Mamak. Rindu ketika Langit rela mengipasinya sepanjang malam. Bahkan dia ingin mengulang momen ketika berbelanja bahan dagangan. Dia rindu dibonceng motor butut milik suaminya.


"Aaaaa', kenapa seperti ini!" teriaknya frustasi.


"Dek, mungkin seperti ini waktu yang tepat untuk kamu merenung. Tanyakan pada hatimu, dia ingin bagaimana. Masih ingin bersama atau memang ingin berpisah. Jika berpisah mumpung semua belum tau tentang pernikahanmu. Mumpung kamu dan Langit belum terlalu jauh berhubungan, kalian masih ada kesempatan mencari pasangan kalian seperti yang kalian harapkan. Hati memang gak bisa dipaksa, kalau sampai saat ini kamu gak cinta sama Langit. Ya sudah, Mama pasrahin keputusan sama kamu. Tapi jujur, Mama sangat menyukai Langit, dia pria baik dan sabar. Mama perhatikan, dia tidak pernah marah padamu walau sikapmu kadang berlebihan. Pikirkan semuanya baik-baik."



Dua Minggu tanpa Langit, kondisi Bening hampir drop. Bahkan sampai saat ini tak ada petunjuk apapun tentang Langit dan Mamak. Nomor masih tak bisa dihubungi.


Datang ke rumahnya pun percuma, karena sampai pada pagi ini rumah Langit masih sepi tanpa ada yang beraktifitas.


Ratusan kali nomor Bram mengirim pesan, tapi dia tak memperdulikan. Juga ratusan kali grup WAG alumni teman kuliah mengirim pesan, tak dihiraukan.


Hanya satu yang ditunggu. Yaitu Langit kembali menghubunginya.



"Apa aku yang terlalu egois tentang keinginanku? Kenapa semakin lama berpisah aku malah ingin bertemu dengannya. Aku gak ingin berpisah. Tapi aku juga gak tau bagaimana ingin berubah. A-aku ...."


"Kenapa aku sangat kehilangan? Aku pengen banget ketemu? Apa aku ... aku mulai ada rasa untuk Rengit?"



"Ga, ini beneran kamu?"


"Hem...."


"Sekian lama, kamu semakin tampan, Kak."


"Sam, ada yang lebih penting dari sekedar pertemuan kita."

__ADS_1


__ADS_2