
Bening merapikan anak rambut ke belakang. "Rengit, gimana saya tidur?" bingungnya.
"Tidur ya tinggal tidurlah, Mbak." Langit menaruh tas ransel ke atas meja.
"Tidur tinggal tidur! Ngomong seenak jidat kamu aja! Liat, ranjang ini terlalu sempit. Keras lagi. Besok pagi badan saya bakal sakit-sakit!"
Langit menghela. "Ya mau gimana lagi, adanya cuma seperti ini. Saya juga gak tau kalo Mbak mau nginap di sini. Dari tadi bisa saya ganti yang baru."
"Emang kamu punya uang?" Bening merendahkan.
"Tuh, insyaallah celengan ayam saya bisa buat beli busa baru sama kipas angin." Pria itu menunjuk celengan ayam yang diletakan di atas lemari, samping pernak-pernik: parfum, minyak rambut, sisir dan lain-lain.
Tatapan Bening tertuju pada objek yang ditunjuk Langit. Lalu tertawa lucu. "Hari gini ... nyimpen uang di celengan ayam?! Astaga ... kampungan banget, deh. Simpen kek di ATM. Eih, kamu jelas gak punya. Ha ha ...."
Langit membalas dengan menyengir. "Celengan itu buat jaga-jaga kalo Mamak sakit. Jadi, saya gak akan ditolak lagi kalo mau daftar ke rumah sakit."
Bening langsung menghentikan tawanya. "Emang pernah?"
"Pernah. Waktu pertama saya pindah ke daerah sini. Linu-linu Mamak kambuh sama terkena gejala asam lambung. Hampir seminggu Mamak gak sembuh walau udah berobat ke bidan. Pas Mamak ngeluh sesak napas, saya panik, saya nekad bawa Mamak ke rumah sakit. Waktu pendaftaran masuk, diwajibkan bayar uang DP. Gak banyak sih, cuma lima ratus ribu buat bayar sewa kamar paling murah. Tapi uang saya cuma tiga ratus ribu. Akhirnya Mamak ditolak, pihak rumah sakit gak mau ngerawat Mamak. Dari pengalaman itu, saya belajar siaga sebelum apapun terjadi," cerita Langit.
Bening bergeming mendengar cerita Langit. Miris dan sedih, separah itukah kehidupan pria yang menjadi suaminya ini. Jauh berbanding terbalik dengan kehidupan mewahnya. Dia sering menghamburkan uang hanya untuk memuaskan keinginan hati juga hasrat pamer. Tidak memperdulikan sulitnya orang-orang kalangan bawah seperti Langit yang kesusahan hanya sekedar berobat.
"Udah jam setengah satu, Mbak pasti ngantuk. Tidur aja duluan, nanti kalo kepanasan biar saya kipasin pakek ini," ujar Langit membuyarkan lamunan Bening. Pria itu mengacungkan potongan kardus di depan wanita yang terlihat cantik ketika diam.
"Saya gak bisa tidur kalo pakek baju kek gini. Sana kamu keluar dulu! Saya mau ganti baju."
__ADS_1
Langit mengikuti intruksi dari Bening. Pria itu keluar sebentar ke ruang depan.
Tidak lama Bening membuka gorden pintu. "Udah."
Beberapa kali mulut Bening menguap, tapi wanita itu masih saja duduk di pinggiran ranjang.
"Mbak tidur aja!" perintah Langit.
Wajah Bening terlihat menimang, namun tidak ada pilihan lain. Dia mulai merebahkan tubuhnya di atas busa tipis itu. Kembali tertuju pada Langit yang duduk di pinggir ranjang tepat di samping kakinya. "Kamu tidur di mana?"
"Saya?!" Langit tersenyum. "Saya mah bisa tidur di mana aja. Di kursi itu bisa, di sofa depan juga bisa."
"Tidur di kursi tulang pinggangmu bakal bengkok. Tidur di sofa, emang gak di marah Mamak? Ketahuan dong kalo saya jahat."
"Dah, kamu tidur di sini gak apa. Tapi, awas kalo kamu macem-macem! Besok pagi tamat riwayatmu!" ancam Bening.
"Yang bener, Mbak?" Langit berbinar.
"Saya males ngulang omongan! Saya mau tidur, ngantuk! Ohya, kipasin dulu sampek saya tidur. Di sini gerah banget."
Langit tersenyum senang, meski sikap Bening sangat cuek tapi sebenarnya tidak terlalu keras. Masih bisa diatasi.
Langit mulai mengipas tubuh Bening dengan potongan kardus. Namun, berapa lama mata Bening kembali terbuka, lalu tiba-tiba duduk kembali. "Rengit, di sini panas banget," keluhnya mengibas-ngibas dengan tangan. Bulir keringat menetes dan membasahi leher jenjangnya.
Langit susah payah menelan air ludah. Baginya, pemandangan Bening sangat menggoda. Dia mengalihkan pandangan. "Coba rambutnya diikat, biar gak terlalu gerah."
__ADS_1
"Gak bawa tali rambut."
"Saya pinjemin punya Mamak." Setelah mengatakan itu Langit melesat pergi. Lalu, kembali lagi membawa ikat rambut khas milik emak-emak. Namun Bening bergidik melihat ditali rambut itu tertinggal rambut Mamak yang berwarna putih.
"Ada-ada aja kamu tuh! Enggak, ah!" tolak Bening.
Langit menyimpan kembali tali rambut Mamak, terlihat pria itu sibuk mengobrak-abrik isi lemari. Dia menemukan pita panjang berwarna merah. "Mbak, balik badan!"
Bening menuruti. "Maaf, ya," ucap Langit sebelum menyentuh helai demi helai rambut wanita itu. Dengan telaten mengumpulkan rambut panjang Bening menjadi satu dan mengikat dengan tali pita tadi. Setelah itu mengambil tisu. "Keringatnya di lap."
Sesaat Bening terpukau dengan perhatian dan kelembutan pria berondong yang menjadi suaminya. Namun akal masih bisa dikontrol. Dia kembali merebahkan tubuhnya. "Kamu gak ngantuk? Hampir jam satu," katanya.
"Eng-engak." Langit menjawab tidak, tapi mulutnya tidak henti menguap.
"Kalo ngantuk tidur aja! Gak sah dipaksa!"
"Nanti aja, saya nungguin Mbak tidur."
Bening merubah posisi menjadi miring menghadap ke dinding. Dia pun mulai terserang kantuk meski rasa gerah masih dirasakan.
Langit tidak bisa menahan rasa kantuk, tanpa sadar merebahkan diri di samping Bening. Meski matanya terpejam, tangannya tidak berhenti tetap mengipas dengan potongan kardus.
Terdengar dengkuran halus, Bening yang belum terlelap membalikan tubuhnya menghadap Langit, seketika terpampang wajah tampan yang benar-benar sudah terlelap.
Dia memang tampan, baik. Tapi sayang cuma ... ah, kamu mikirin apa, Be! Semua tetap seperti ini.
__ADS_1