
Badan Bening sudah jauh lebih segar setelah mandi dengan air hangat yang disiapkan oleh Langit tadi. Wanita itu mengekor di belakang Mamak ketika wanita lanjut usia itu tengah mencuci dan menjemur baju.
"Apa gak enak pakek mesin cuci aja, Mak? Lebih hemat tenaga sama cepet keringnya. Kalo beli paling cuma tiga jutaan."
Mamak tersenyum sambil lekas memeras baju untuk di jemur. "Gak semua harus pakek mesin, Nak Bening. Banyak yang harus dipikirkan. Kami terbiasa hidup sederhana. Toh, pekerjaan rumah itu menyehatkan badan juga menyehatkan kantong. Daya listrik juga lebih hemat."
"Tapikan Mamak kasihan udah tua nyuci baju pakek tangan."
Langit berjalan melewati mereka membawa ember berisi air. Bening hanya memperhatikan saja. Masih terlihat dari pandangannya, ternyata pria itu tengah mencuci motor.
"Lang, kamu gak ke pasar? udah siang!" teriak Mamak.
"Iya, Mak. Selesai nyuci motor Langit langsung berangkat."
"Ke pasar ngapain, Mak?" tanya Bening.
"Beli bahan-bahan buat jualan nanti. Biasanya pagi-pagi udah berangkat. Mungkin ada Nak Bening makanya agak santai. Ohya, ini hari Minggu juga, Mamak sampek lupa."
"Emang kalo hari Minggu kenapa, Mak?" .
Mamak menyengir. "Kata Langit, dia males hari Minggu ke pasar lewat taman banyak cewek-cewek lari pagi. Mereka suka godain anak Mamak."
"Bhbb, begitu, Mak? Lucu, ya. Biasanya laki-laki yang menggoda, kenapa jadi perempuan yang ngegoda."
"Bang Lang!!!"
"Oi ... Napa sih, Bah, teriak-teriak?!"
"Hari Minggu, nih, numpang ikut ke pasar, ya. Mau beli ikan."
"Eh, gak bisa, Nong! Abang udah ada boncengan lain."
"Siapa, Bang? Kok, gitu? Ish ... Bibah nebeng siapa dong Bang?"
"Nebeng Kasep September aja, hari Minggu dia ke pasar juga biasanya."
"Gak mau! 'Kan, maunya sama Abang Lang!" Wanita bernama Habibah itu berkedip-kedip menggoda Langit.
Bening muncul menghentikan obrolan Langit dengan Habibah. Gadis SMA yang tidak lain tetangga Langit sendiri sangat menyukai pria itu meski usia mereka terpaut sangat jauh. Pesona tukang bakso tampan tidak terelakan, mampu mendebarkan kaum wanita yang memandang. Tua, muda, semua terpincut pesonanya.
__ADS_1
"Kata Mamak suruh sarapan!" ujar Bening saat dekat dengan Langit.
"Iya, bentar lagi dah selesai nyuci motornya. Nanti saya masuk."
"Siapa, Bang? Gelis pisan? Ada wanita seperti ini di rumah Abang? Huh, Abang selingkuh! Berpaling hati dari Bibah! Amaaaaakkkk, Bang Langit jahat, Mak!" Habibah melesat kembali ke rumahnya.
Bening melongo dan menatap Langit. Pria itu justru tertawa lebar dengan menghendikan bahu. "Bibah mah gitu! Tergila-gila sama saya," ucap Langit.
"Idih! Pede!" Sudut bibir Bening terangkat, lalu kembali meninggalkan Langit.
Di ruang makan yang ada di samping dapur tidak ada ukiran kayu jati, atau kursi mahal lainnya. Hanya kursi plastik sama seperti yang ada di tenda orange. Bahkan menu makanan pun tidak ada yang mewah, hanya ada sambal terong penyet, tahu dan tempe goreng juga ayam ungkep kecap manis. Menu sederhana itu yang menjadi menu sarapan Bening pagi ini.
Awalnya sangat ragu untuk makan menu makanan asing itu, tapi melihat Mamak dan Langit sangat lahap, tidak ayal wanita itu ingin mencoba. Saat sesuap nasi dan lauk sudah ada di dalam mulutnya. Rasanya tidak buruk. Aku juga belum pernah rasain menu ini.
"Nak Bening, mumpung hari Minggu ikut Langit ke pasar, mau?" kata Mamak.
"Ke pasar, Mak?"
"Iya, sekalian jalan-jalan. Mamak lupa hari ini ada pengajian. Nanti kamu gak ada temen."
Bening terlihat berpikir. Jika seperti ini bukankah kesempatannya untuk pulang ke rumah? Ah, tapi Mama Has sudah mewanti-wanti tidak boleh pulang sebelum hari Senin malam. Itupun harus bersama Langit. Menyebalkan. Lebih sial lagi, semua kartu dan uang tunai disita. Dia datang ke rumah Langit tidak membawa apapun selain pakaiannya.
"Jangan, Mbak! Di rumah sendirian banyak bahaya mengancam. Kalo gak keberatan ikut aja gak apa. Sekalian jalan-jalan, mumpung libur kerja."
•
Langit menyodorkan helm pada Bening. Wanita itu ogah-ogahan menerima helm yang sudah pernah dipakai sebelumnya. "Rambutku bakal lepek, jadi rusak juga ketularan ketombean atau ada kutunya!"
"Enggak! Di jamin enggak!"
"Rengit! Saya gak pernah bonceng motor. Takut!"
"Gak usah takut, saya udah ahli nyetir motor. Yang penting Mbak pegangan yang kenceng!"
"Kalo naik motor jatuh dan mati. Sia-sia dong, masih muda malah udah mati."
"Astaga! Gak semua pengendara jatuh dari motor dan mati 'kan Mbak?! Pasarnya cuma deket ini. Tiga puluh menit udah nyampek. Nanti lewat jalan pintas aja."
Bening tidak membantah lagi, meski hatinya ngedumel tapi dia tetap membonceng di belakang Langit. Mungkin tidak punya pilihan lain.
__ADS_1
Motor matic sudah di stater. "Mbak jangan lupa pegangan."
"Pegangan?! Saya harus pegangan apa?" Jika berpegangan dengan besi yang ada di bodi belakang motor tidak mungkin. Pasti terlihat lucu.
"Pegangan ujung jaket saya gak apa," perintah Langit. Meski ragu, tapi Bening mengikuti perintah suaminya. Dan motor itu mulai melaju menyusuri jalan gang sempit.
Angin segar menerpa wajah Bening yang tidak tertutup kaca helm. Bibirnya tersenyum tipis dengan pengalaman pertamanya menaiki kendaraan roda dua tersebut. Ada kesenangan bercampur takut juga memacu adrenalin. Kedua tangan berpegang erat di ujung jaket yang dikenakan Langit. Badan Bening sangat dekat namun tidak menempel. Ada jarak yang dia sisakan.
Jeduk ....
Saat ban motor tidak bisa menghindari jalan berlubang, helm yang dikenakan saling berbenturan.
"Auh, pelan-pelan, dong! Liat jalannya yang bener!" omel Bening.
"Maaf, Mbak! Jangan salahin saya! Salahin aja jalannya yang gak rata. Banyak lubang-lubang jadi gak ada pilihan lain selain diterabas!"
"Ngeles, aja!"
"Ye, gak percaya!"
Jeduk ....
"Aauh, Rengit!"
"Saya juga sakit, Mbak! Bukan Mbak aja!"
Kesal. Bening justru memukul-mukul helm Langit dengan keras! Membuat pria itu mengaduh kesakitan. Apa reaksi Bening? Wanita itu terbahak-bahak dengan tangan masih memukuli helm yang di kenakan Langit meski tidak sekeras tadi.
"Auuuh, sakit, Mbak! Aduh, duh, duh!!! Jahil banget, sih!" canda Langit yang membuat Bening semakin tertawa lebar. Dari kaca spion Langit bisa melihat tawa Bening dibalut wajah cerianya. Hati Langit ikut senang menyaksikan wanita yang biasanya acuh dan galak kini bisa terbahak tanpa beban.
"Syukurin! Makanya punya mata jangan meleng! Liatin jalan yang benar, nanti kita jatuh!"
"Enggak akan jatuh kalo Mbak pegangan yang erat."
"Saya udah pegangan!"
"Pegangannya disitu aja, jangan ke bawah-bawah, nanti nyentuh pentol a'co saya!"
"Aaaahhhh ... Renggiiitt! Gue pukul baru tau rasa, lho! Ngeselin!" sungut Bening namun menyisakan wajah tersipu malu.
__ADS_1
"Ha ha ...."