Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Kambalikan aku ke tempat asal


__ADS_3

Tiga bulan sudah berlalu. Selama itu juga seseorang memejamkan mata dalam tidur panjangnya. Mungkin seseorang itu sedang memimpikan hal indah hingga enggan membuka mata.


Setiap hari Tuan Bima selalu rutin mengunjungi kamar putranya demi menantikan putranya kembali membuka mata.


Hati Tuan Bima kembali sedih ketika mendapati Langit belum juga terbangun. Berbagai cara telah diupayakan, tetapi belum membuahkan hasil.


Minggu berikutnya.


Ketika sinar mentari menyingsing, Tuan Bima sangat rutin menyambut bias hangat mentari Pria paruh baya itu berjemur di halaman rumahnya yang sangat luas. Manik mata memandangi bunga lili yang tumbuh subur di hadapannya. Bunga lili berbagai warna sengaja di tanam. Dulu, Hana sangat menyukai bunga itu, hingga sampai kini dia menyuruh seseorang untuk menanam dan merawat bunga-bunga itu.


Seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh menyusul Tuan Bima. "Tuan ...," panggilnya dengan napas terengah.


"Ada apa?"


"Itu. Tuan Arga sudah bangun."


"Apa?"


"Iya. Tuan Arga sudah membuka mata."


Seseorang yang bertugas menjaga Tuan Bima langsung mendorong kursi roda dan membawa tuannya masuk ke dalam.


"Putraku sudah sadar?" Tuan Bima benar-benar hampir tak percaya. Sekian lama dia menunggu, kini putranya yang dipanggil dengan sebutan Arga itu telah membuka mata. Rasa bahagia langsung menyergap hatinya.


Tuan Bima sudah sampai di dekat ranjang Langit. Putranya memang sudah membuka mata, namun mata itu tidak bisa melihat apapun. Dia tahu jika Langit telah mendonorkan kornea matanya untuk menantu yang dianggap angkuh itu.


"Ga, kamu sudah bangun?"


Mendengar suara itu tubuh Langit berubah menegang. Pria itu mengalihkan kepalanya ke sisi yang berbeda.

__ADS_1


Tuan Bima sudah bisa menebak keadaan ini, ketika Langit sadar, putranya itu tidak mungkin akan langsung memaafkannya. Mengingat kesalahannya yang sangat besar membuat istri dan putranya itu serasa dibuang begitu saja. Wajar jika Langit saat ini sangat membenci.


"Ke-napa aku bisa di sini?"


"Papa menyuruh Sam membawamu kesini. Berkat kecelakaan itu, Papa bisa menemukanmu. Selama ini Papa kesulitan mencarimu."


Terdengar embusan napas panjang. Langit tetap enggan menoleh ke arah Tuan Bima.


"Ga____" Kalimat Tuan Bima dipotong cepat.


"Jangan panggil aku seperti itu! Namaku Langit, bukan Arga!" Langit melayangkan protes dengan nada tegas.


Langit adalah panggilan kesayangan Nyonya Hana sewaktu Langit masih kecil. Meski Tuan Bima lebih suka memanggil dengan nama Arga, tapi Nyonya Hana tetap memanggil dengan nama itu. Langit, sangat tinggi dan tidak akan pernah terjatuh, tetapi nama itu tidak sesuai alur hidup Langit sendiri. Setelah sepuluh tahun harus berada di bawah, dan selalu direndahkan. Semua itu tak lepas dari perbuatan Tuan Bima.


Sewaktu kecil hingga berumur lima belas tahun kehidupan Langit bagai putra kerajaan. Apapun selalu didapat, semua kebahagiaan dan kasih sayang selalu tercurah. Namun, semua harus hancur ketika Tuan Bima tergoda dengan rayuan sekretarisnya yang bernama Dellara. Tanpa perasaan dan secara terang-terangan Tuan Bima membawa Della pulang ke istananya. Pengakuan Tuan Bima tentang hubungan gelapnya dengan Della membuat Nyonya Hana terpuruk. Dia tidak mau di madu, tetapi Tuan Bima tetap kukuh ingin menjadikan Della istri kedua. Karena hasutan dari Della, suatu malam Tuan Bima mengusir Hana dan Langit, pria paruh baya itu memilih Della daripada mempertahankan rumah tangganya bersama Hana.


Hana yang sudah tidak memiliki orang tua dan saudara tidak tahu harus pergi kemana. Sebenarnya adik Tuan Bima, yang tak lain adalah ayahnya Sam menawarkan bantuan, tetapi ketika itu Tuan Bima mengetahui dan langsung melarangnya.


Tuan Bima mengembus napas panjang. "Lang, maafkan Papa."


"Semudah itu mengucap maaf, Pa? Aku tidak memaafkan semuanya. Kesalahanmu begitu besar." Entah kekuatan dari mana hingga dia bisa melontarkan kata tegas seperti itu. Dia tahu orang tua itu telah menyesali perbuatanya, tetapi sakit hati untuk sepuluh tahun yang lalu masih sangat sulit untuk dilupakan. Dia memang baik, tetapi hati yang sakit itu belum bisa meluluh.


"Papa tahu. Papa sadar telah berbuat dosa besar pada kalian. Tapi, di sisa umur ini, ijinkan Papa untuk menebus dosa padamu, Nak."


"Papa bisa menebus dosa padaku, tapi Papa tidak akan bisa menebus dosa pada mama. Papa tidak tahu, bagaimana kami menjalani kesulitan setelah kamu buang kami begitu saja. Gara-gara Papa mengancam Om Edwin dan memberi peringatan tidak boleh membantu kami, saat itu mama harus meregang nyawa dengan tragis. Kamu pria dan Papa paling jahat!"


Langit menggebu mengatakan semua sakit hatinya. Dia tahu jika kalimatnya mungkin sangat keterlaluan, tetapi semua itu sebanding dengan luka yang diciptakan oleh pria paruh baya itu sendiri.


"Aku membencimu, Pa. Tinggalkan aku sendiri. Jika aku bisa meninggalkan tempat ini, aku sudah pergi dari sini. Aku tidak ingin di dekatmu. Karena kamu yang mengajarkan aku seperti itu. Aku sudah dewasa, tidak akan kelaparan meski aku tidak mendapat harta warisanmu."

__ADS_1


Tuan Bima menunduk dalam. Pria paruh baya itu menangis untuk penyesalannya. Semua perkataan Langit sebanding dengan perbuatannya dulu. Mungkin dosanya memang tidak bisa terampuni.


"Ga! Kontrol emosimu." Sam yang baru datang begitu terkejut mendapati suara Langit yang terdengar dari luar kamar. Dia mendekati pamannya. "Paman, beri waktu Kak Arga untuk menangkan diri. Dia baru sadar, tidak baik untuk kondisinya. Kita sudah menunggu selama tiga bulan, jangan sampai kondisi Kakak kembali memburuk." Sam berusaha membujuk.


Tuan Bima mengangguk. Sam menyuruh pelayan untuk membawa pamannya pergi.


Pria muda itu beralih duduk di kursi samping Langit. "Ga!"


"Jangan panggil aku seperti itu!"


"Oke-oke." Sam mengangguk meski Langit tidak bisa melihatnya. "Kenapa lebih galak dari sebelumnya?" desis Sam lirih.


Keheningan sejenak melanda mereka.


Sam bingung harus memulai pembicaraan, sedangkan Langit sibuk menyeka wajahnya yang sembab. Dia berpikir tentang ucapannya tadi.


"Sam, apa aku kelewatan?"


"Sangat. Aku tahu perasaanmu, Kak. Tapi, kasihan juga melihat Paman menangis."


"Tapi dia dulu tidak kasihan saat kami menangis dan mengemis padanya."


"Jika semua bisa kembali, aku yakin Paman tidak akan melakukan itu."


"Tapi sayangnya semua tidak bisa kembali. Mama tetap pergi, begitu juga dengan kebahagiaanku." Langit beralih menoleh ke sisi samping, di sana dia tahu ada Sam. "Kamu yang membawaku kesini, aku minta padamu, kembalikan aku ke tempatku."


"Ini rumahmu, Kak. Aku tidak akan mengembalikanmu sebelum kamu sembuh. Jika kamu bisa, coba saja pulanglah."


"Sam, kamu jangan menguji kesabaranku!"

__ADS_1


"Aku menguji kesabaranmu demi kebaikanmu. Kamu tidak bisa menghajarku makanya aku sangat berani. Jika kamu ingin kembali, maka sembuhlah dulu."


__ADS_2