
"Aku buta!!! Enggak, aku gak mungkin buta! Aku gak mau buta! Aku gak mau!!!" Bening berteriak histeris, saat ingin bangun tapi perut bawahnya terasa sangat sakit. Wanita itu hanya bisa memukuli apapun yang bisa dijangkau, melampiaskan segala amarah tentang keadaanya.
Tangisan Bening terdengar memilukan. Mama Has mendekap dan menahan Bening supaya tidak banyak bergerak, ditakutkan bekas jahitan kemarin bisa terbuka. Juga selang infus yang bisa terlepas.
"Tenang, sayang. Tenang."
"Ma, Bening gak mungkin buta. Kenapa seperti ini!"
"Be," panggil Langit dengan memegang pergelangan tangan Bening.
"Bang, katakan. Ini hanya sebentar, kan? Besok aku bisa liat lagi, kan?" Bening menggenggam tangan Langit dengan amat sangat erat.
Lidah Langit kaku, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Bening. Dia juga tidak tahu sampai kapan istrinya tidak bisa melihat. Melihat Bening histeris, hati Langit seperti di tusuk sebilah pisau. 'Kenapa harus dia yang kehilangan penglihatan, Tuhan? Kenapa bukan aku saja.' Sudut mata Langit meneteskan air mata.
"Kenapa kamu gak jawab, Bang?!" tuntut Bening. Dia melepas genggaman Langit dan beralih menjangkau tangan Mama Has. "Ma, besok Bening udah bisa liat, kan?"
"Sabar, sayang. Kamu pasti bisa liat lagi. Ada dokter yang akan bantu. Adek tenang dulu, ya." Suara Mama Has tenggelam dalam tangisnya.
"Aku buta. Ya Tuhan, kenapa seperti ini! Ini tidak adil." Bening terus histeris. Mulutnya tak henti memaki.
"Dok, tolong hentikan tindakan Bening!"
Perawat berlari keluar untuk mengambil obat penenang. Mama Has masih terus mendekap tubuh Bening.
Tangan Bening terlepas dari genggaman Mama Has, saat perutnya terasa sakit dia beralih memegang bekas luka diperutnya. Sejenak tangisan Bening terhenti, tangan itu meraba perutnya berulang kali.
"Bang, pe-perutku? Ke-kenapa perutku datar? Aku gak bisa ngerasain gerakan anak kita, Bang? Perutku kenapa begini?"
Langit dan Mama Has terhenyak. Keduanya saling pandang dengan raut kecemasan. Detik berikutnya Mama Has berganti menangis histeris. "Ya Allah, kenapa ujian ini sangat berat."
Langit mengalihkan pandangan, tak sanggup melihat Bening dan Mama Has. Dia menahan dadanya yang terasa sangat sesak.
__ADS_1
"Ma! Kenapa, Ma? Kenapa?" sentak Bening dengan histeris. Ruangan itu terasa mencekam.
"Kamu yang sabar, Dek. Kamu pasti kuat melewati ujian ini. Mama yakin kamu bisa melewati ini."
"Be, anak kita udah kembali. Allah, lebih sayang dengan anak kita. Dia udah tenang di sisi-Nya," ucap Langit pelan.
"A-apa? Aku pasti salah dengar. Aku salah dengar. Gak mungkin. Enggak. Dia tadi nendangin perutku. Di-dia ... dia masih di dalam perutku. Aku belum melahirkannya, dia gak mungkin ...."
"Mamak sedang mengurus pemakaman anak kita."
"Meninggal? Hah?! Dia meninggal?! Jangan becanda, Bang. Ini gak lucu! Anakku gak mungkin meninggal. Aku gak jadi gugurin dia, aku sayang dia. Dia ... anakku gak mung____," ucapan Bening tidak berlanjut karena wanita itu kembali tak sadarkan diri.
"Be! Bangun, Be?"
"Adek! Adek." Mama Has dan Langit memanggil dan menggoyangkan badan Bening. "Dok, bagaimana ini? Bagaimana, Bening?"
"Nona Bening sangat syok, Nyonya. Setelah nanti diberi penanganan, Nona Bening akan kembali normal. Semoga setelah siuman, Nona Bening tidak histeris lagi. Jika kondisinya berturut-turut seperti ini, ditakutkan jiwanya tidak kuat menahan beban dan Nona Bening bisa saja kehilangan akal sehatnya." Penjelasan Dokter membuat Mama Has terduduk lemas. Rasanya tak sanggup menyaksikan kesengsaraan putrinya.
Perawat berganti mendekati Langit. Mengecek kondisi Langit yang ternyata ikut melemah. "Mas Langit kesulitan bernapas?" tanyanya. Langit yang memejamkan mata mengangguk pelan.
Perawat menyiapkan tabung oksigen untuk membantu pernapasan Langit, setelah itu menyuntikan obat lewat selang infus.
~
Malam hari, tepat pukul 21:21. Mata Bening mengerjap pelan. Dia lupa dengan keadaannya. Sebanyak apapun mengerjap tetap saja tidak bisa melihat. Tetap saja semua gelap gulita.
Wanita itu terdiam. Hanya mampu mengedipkan mata tanpa bisa melihat. Hanya bisa diam karena lelah berteriak. Tenaganya telah terkuras habis dengan sekujur tubuh terasa sakit. Bekas operasi kembali nyeri dan panas, tapi semua itu seolah tak ada apa-apanya di banding nyeri dan pedih di hatinya.
Langit menoleh pada Bening, ternyata istrinya sudah kembali sadar. Melihat Bening menangis dalam diam, Langit ragu untuk bersuara.
Langit bergerak ingin merubah posisi, lelah hanya berada di posisi yang sama.
__ADS_1
"Kenapa aku harus menanggung semua ini?" ujar Bening lirih namun terdengar tegas. Langit masih diam, dia tak tahu Bening bersuara dengan siapa.
"Aku kehilangan anakku. Aku juga kehilangan pengliatanku. Adilkah semua ini?"
"Walau aku gak bisa melihat, tapi aku tau kamu gak tidur!" tegas Bening dengan suara penuh penekanan.
Deg ....
Mendengar Bening berbicara dengan nada bukan seperti biasanya, Langit hanya menerka-nerka sikap Bening.
"Semua emang gak adil. Tapi kita bisa melakukan apa?"
Bening tertawa getir. "Bisa melakukan apa? Kita emang gak bisa melakukan apa-apa setelah ini, tapi sebelumnya kita bisa mencegah. Harusnya aku gak perlu naik motormu, dan kecelakaan ini gak mungkin terjadi. Kamu sadar, semua ini gara-gara kamu!"
Deg ....
Jantung Langit seolah terhenti paksa. Terkesiap mendengar Bening mengatakan semua ini gara-gara dia. Begitukah pemikiran istrinya? Bahkan dia tidak menyalahkan siapapun untuk kejadian ini. Lalu Bening memiliki pemikiran demikian ....
Andaipun dia tega, dia juga bisa menuduh Bening ikut andil dalam musibah ini. Dia akan berseru, 'kamu ingat bagaimana dulu tidak menerima kehadiran anak kita. Apa kamu juga ingat saat ingin melenyapkan nyawanya. Bahkan kamu tidak mau melihat dia lahir ke dunia.'
Ini, yah, inilah pembuktian ucapanmu waktu itu. Mungkin Tuhan baru mengabulkan ucapan itu sekarang.
"Kamu nyalahin aku?" Lidah Langit terasa kelu bertanya memastikan.
"Lalu aku harus menyalahkan siapa!?" Bening bergeming dengan posisinya. Dia tidak menoleh karena percuma, tetap tak bisa melihat wajah Langit.
Langit memejamkan mata. Entah berapa kali lagi dia harus merasakan kesakitan seperti ini. Mungkin, jika hatinya dapat terlihat, hati itu sudah tidak berbentuk lagi saking terlalu banyak kesakitan yang diterima.
"Kamu benar. Semua ini emang gara-gara aku." Suara Langit bergetar. Pria itu berusaha menutupi segala perasaanya. "Aku tau, sebelum kamu menikah denganku, hidupmu selalu sempurna. Tapi aku lah yang mengacaukan semuanya. Selama kita bersama, hanya kesakitan yang selalu aku ciptakan."
Terdengar isak tangis Bening. Dia tidak bisa berpikir jernih. Semua keadaan ini terlalu berat untuk diterima.
__ADS_1