
Beberapa saat lalu wanita yang syok mengetahui semuanya, kini sudah kembali tersadar. Saat tersadar wanita itu langsung teringat kembali dengan keadaan suaminya.
"Ma, semua yang Mama katakan tadi gak benar, kan, Ma? Kondisi Langit lemah dia gak mungkin donorin kornea matanya buat Bening."
"Karena itu dia sekarang koma," sahut Mama Has.
Bening terisak pilu menangisi semua keadaan yang terjadi. "Kenapa kamu berkorban sejauh ini! Jika aku tahu, aku gak akan mau nerima kornea mata ini. Kamu menjadikan aku istri paling jahat. Aku benar-benar jahat."
Bening memukuli paha dan mengacak rambutnya frustasi. "Ma, aku selalu jahat sama dia. Kenapa dia harus berkorban sebesar ini."
"Itu karna kamu selalu menyalahkan Langit atas musibah yang terjadi. Kamu selalu menuntut pertanggung jawabannya. Sekarang dia mengabulkan tuntutanmu."
"Bening menyesal, Ma. Bening gak mau kehilangan dia."
"Menangislah dalam penyesalanmu. Kita hanya bisa berpasrah."
Bening memegangi dadanya yang terasa sesak, dia memukulnya beberapa kali. Di sana sangat sakit, sesak, dia ingin menjerit sekuat tenaga demi bertanya tentang keadaan yang dialami.
Mamak masuk dan berjalan pelan.
"Mak, kenapa Mamak gak cegah Langit?! kenapa Mamak biarin Langit donorin matanya buat aku. Kenapa, Mak? Keadaan Langit jadi melemah. Aku gak mau kehilangan dia, Mak."
Mamak mendekat dan mengelus punggung tangan Bening. "Mamak sudah memberi nasihat, tapi Langit yang bersikeras ingin mengorbankan kornea matanya buat kamu. Dia mementingkan hidupmu."
"Dia mementingkan hidupku tapi membahayakan hidupnya sendiri, Mak. Sekarang dia koma." Bening lelah berteriak, dia menyandarkan kepala di badan Mamak. "Aku ingin bertemu dia, Mak. Aku ingin melihatnya."
Mamak menggeleng. "Dia sudah gak ada, Nak Bening. Dia sudah tidak bersama kita."
Deg ....
"Di-dia ... apa maksud Mamak dia sudah tidak bersama kita, Mak? Kemana dia, Mak? Jawab, Mak!" Suara Bening tercekat di tenggorokan. Dia sangat takut, sangat. Tidak mungkin! Langit tidak mungkin ....
__ADS_1
~
Mendengar Bening jatuh miskin, Mamak menawari mereka untuk tinggal dirumahnya. Eyang Putri dan keluarga yang lain belum tahu kabar itu, mereka masih menutupi semuanya, takut Eyang Putri syok dan jatuh sakit. Mereka ingin ketenangan sebentar.
Bening begitu sesak ketika kakinya harus meninggalkan rumah yang penuh kenangan. Rumah yang menjadi tempat ternyaman dari lahir hingga sampai saat kemarin, yah ... hanya sampai saat kemarin sebelum dia masuk rumah sakit, untuk detik ini dan berikutnya dia tidak bisa lagi tinggal di rumah itu.
Dia angkat kaki dari rumahnya sendiri hanya membawa tas berisi pakaian. Semua harta benda sudah dialih nama oleh Doddy, sekretaris yang berbuat curang. Namun, meski tahu kebenaranya dia tidak bisa berbuat apapun karena dia sendiri yang membubuhkan tanda tangan di atas kertas peralihan semua harta bendanya. Entah kapan Doddy merencanakan perbuatan kejinya hingga tidak sadar telah ditipu dengan tanda tangan itu.
Mang Juri, dua satpam dan Bibik yang bekerja di rumahnya turut mengemasi barang-barang, bukan hanya Bening dan Mama Has yang harus pergi, mereka juga harus angkat kaki.
"Mang Juri, Pak Shalih, Pak Munir dan Bibik, maaf ya, saya belum bisa membayar gaji kalian dua bulan ini," ucap Mama Has.
"Tidak apa, Nyonya, Nona, walau tidak dibayar kami ikhlas, mudah-mudahan Nyonya dan Nona bisa sabar menghadapi musibah ini," jawab Bibik mewakili yang lainnya.
"Iya, Nyonya, Nona, kami tidak di gaji tidak apa. Semua ini musibah, kami mengerti keadaan Nyonya dan Nona." Mang Juri ikut menimpali.
"Sementara ini kami tinggal di rumah Mamak, kalian jika ada waktu boleh mampir ke sana. Jika tidak di sana, mungkin saya pindah ke Solo."
Mama Has dan Bening masuk ke mobil taksi yang sudah di pesan tadi. Lalu detik berikutnya mobil taksi mulai meninggalkan gerbang.
"Mereka gak marah meski kita gak bisa bayar gaji selama 2 bulan," ujar Bening dengan terus melihat ke arah belakang.
"Begitulah Be, terkadang orang yang kita anggap rendahan seperti mereka, tapi mereka punya hati tulus dan selalu berbuat baik meski kita pernah menyakiti. Ambil pelajaran, jangan semena-mena dan bersikap sombong ketika kita berada di atas, kita dan mereka sejatinya sama saja. Jika Allah mengganjar kita kemiskinan seperti ini, bukankah kita sama saja dengan mereka."
Bening terdiam merenungi waktu yang sudah-sudah, betapa dia selalu bersikap semaunya sendiri. Dia sering memarahi mereka meski mereka hanya melakukan kesalahan kecil. Sering membentak saat Bibik tidak becus membuatkan minuman dan makanan yang tidak sesuai selera. Memarahi Mang Ujang saat pria paruh baya itu telat menjemputnya dari kantor. Memarahi dua satpam yang lelet membuka pintu. 'Kalian cuma senang menerima gaji, tapi kerjanya gak becus dan lelet!' Dia pernah melontarkan kalimat seperti itu pada mereka. Bening mengusap pipi yang terdapat air mata.
"Betapa selama ini Bening menjadi manusia paling jahat di muka bumi, Ma. Bening selalu bersikap buruk. Egois, sombong dan sering merendahkan orang lain."
"Mama hanya ingin kamu merenungi dan merubah sikap, Dek. Semua gak ada yang abadi dan semua ada ganjaran atas perbuatan kita. Mudah-mudahan kedepannya kamu bisa berubah. Kita bisa mengambil hikmah dan menjadi manusia yang lebih baik." Mama Has berkata dengan lembut namun semua itu begitu menusuk hati Bening. Perkataan Mama Has memang benar, semua ada ganjaran atas yang pernah dilakukan.
Tak terasa mobil yang ditumpangi Bening dan Mama Has sudah sampai di depan rumah Mamak. Wanita lanjut usia itu menyambut di depan rumah bersama Habibah. Turun dari taksi, Bening enggan melangkah, air matanya menetes teringat di samping rumah biasanya Langit sedang mencuci motor. Saat itu suaminya itu senang sekali bersiul dengan menirukan suara lagu yang di putar di play musik dalam ponselnya.
__ADS_1
Bening menyeka air mata yang tak surut menggenang di pelupuk matanya. Teringat ketika Langit berpamitan untuk berjualan bakso, dengan menggunakan topi hitam kesukaannya, Langit akan mulai mendorong gerobak bakso menuju jalan yang kini sedang di pijak lalu menghilang di gang jalan menuju jalan raya.
Ketika malam hari suaminya itu akan pulang dengan senyum kebahagiaan, Lamgit selalu antusias ketika menghitung uang hasil penjualan. Ketika itu dia hanya membantin, 'dapet uang receh aja senengnya minta ampun.'
Setelah itu semua uang yang didapat akan dibagi, termasuk diberikan padanya untuk nafkah lahir.
'Bang, aku rindu kamu.' Bening terisak dengan memeluk Mama Has. "Ma, Adek rindu dia, Ma."
"Mama juga rindu dengan mantu Mama yang selalu berbuat baik. Semoga dia sudah tenang dan damai."
.
.
.
.
.
Apa saya baperan, ya, ngetik ini sambil mewek parah. 😭😭😭
Yang gak kuat, boleh skip.
Yang gak suka boleh tinggalkan.
Saya gak akan gubris komen yang bikin down, saya cuma mau menyelesaikan cerita ini sesegera mungkin.
Yang komen kok begini, begitu, gak apa, hak kalian untuk mengetik itu. Saya dah sering peringatkan untuk saling menghargai jika tidak bisa menebak cerita ini, jangan sok tahu ya. Yang perlu di ingat, saya gak akan mengingkari janji.
Jika penasaran ikuti terus sampai tamat season pertama.
__ADS_1
Terima kasih. 🙏