Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Aku gak bisa membencimu


__ADS_3

"Ma, aku anakmu. Aku yang paling berat menerima semuanya, kenapa Mama gak membelaku dan justru membela dia. Apa Mama senang liat aku begini!"


"Be! Gak ada orang tua yang ingin anaknya kesakitan dan menderita. Gak ada! Mama bukan membela Langit dan menyalahkan kamu sepenuhnya. Mama cuma ingin kamu sadar, kamu merenungi semua yang terjadi. Introspeksi, Dek. Belajar dari kesalahan dan ucapan. Jangan bersikap semaunya sendiri. Jangan selalu menyalahkan orang lain atas keadaan yang menimpamu."


"Ma! Kalau aku gak naik motor, aku gak akan ikut dia kecelakaan. Itu berarti karna salah dia gak bisa menjaga istrinya! Bahkan calon anaknya sendiri harus pergi."


"Apa Langit memaksamu untuk ikut? Selama kamu dan dia menikah, Mama belum pernah mendengar Langit memaksakan kehendak. Justru kamu yang selalu berwewenang."


Bukan Mama Has ingin menyudutkan Bening, tapi sangat ingin putrinya itu introspeksi diri. Tidak lagi merendahkan dan selalu menyalahkan Langit. Mama Has tak bisa membayangkan jika Bening menikah dengan pria lain, belum tentu pria yang menjadi suaminya akan memiliki kesabaran seperti Langit.


"Ma, tolong, udah. Jangan bahas ini. Biarkan istriku istirahat." Langit menyorot Mama Has dengan permohonan. Dia tak sanggup lagi mendengar perdebatan istri dan mertuanya.


"Nak Bening, untuk biaya rumah sakit Langit, kami tidak akan menggunakan uang Nak Bening. Mamak akan bertanggung jawab membiayai pengobatannya, jika uang Mamak cukup, biaya pengobatan Nak Bening juga akan kami bantu. Kamu tidak usah khawatir." Mamak ikut bersuara. Meski suara Mamak terdengar tegar, namun mata Mamak bercucuran air mata.


"Mak," sela Langit melihat dengan tatapan yang sulit diartikan. Meski begitu, Mamak paham apa yang dipikirkan Langit.


"Mamak masih punya sawah peninggalan suami Mamak. Mamak bisa menjualnya, rumah itu bisa kita gadaikan dulu, Lang."


"Tapi, Mak!" Langit nampak sangat tidak setuju.


"Mamak ikhlas, yang penting kesembuhanmu, Lang."


"Makasih, Mak," ucap Langit dengan suara bergetar menahan tangis haru. Mamak mengangguk.


"Mama juga punya simpanan uang Mama sendiri. Uang peninggalan almarhum kakek. Uang itu mutlak punya Mama, bisa untuk menambahi biaya pengobatan."


~


Tengah malam Langit memandang Mamak yang sedang melakukan sholat tahajud. Tak terasa bola matanya meneteskan bulir cairan bening. Teringat ucapan Mamak yang rela menjual semua harta bendanya demi kesembuhannya. Mamak bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki hubungan darah dengannya, tetapi Mamak selalu berjuang untuk menjaga dan selalu ada setiap saat. Perempuan lanjut usia itu dulu hanya sebagai pengasuh, tetapi sampai saat ini justru menjadi ibu kedua baginya.


"Kenapa, Lang?"


Langit terhipnotis dengan bayangannya sampai tidak sadar jika Mamak sudah menyelesaikan sholat tahajud. Perempuan renta itu kini duduk di sampingnya.


"Mak, besok Lang mau pulang." Langit bersuara sangat lirih, takut membangunkan Bening dan Mama Has yang tidur di dalam tirai samping sebelah kirinya.


"Apa kamu sudah sembuh?"


"Lang bisa istirahat di rumah. Di sini bayar kamarnya aja udah mahal, mending istirahat di rumah."

__ADS_1


"Tapi lukamu butuh obat, Lang."


"Lang bisa berobat jalan."


Hening.


"Bagaimana dengan istrimu? Kamu tidak ingin menjaganya."


"Ada Mama. Mama pasti akan menjaganya dengan baik. Nanti 2 hari sekali Lang bisa jenguk."


Mamak terlihat sedih, perempuan itu selalu menuruti perkataan Langit, tapi kali ini sangat berat.


"Kita pulang besok sore. Mamak mau gandaikan sertifikat dulu buat bayar biaya beberapa hari kemarin."


"Makasih, Mak. Kalo Lang udah sembuh, Lang janji akan tebus sertifikat Mamak lagi." Tangan Langit menggenggam telapak tangan Mamak yang sudah keriput.


"Tidak usah dipikir. Jika rumah itu tidak bisa ditebus, kita bisa sewa rumah yang lebih kecil."


"Tapi, Mak. Semua itu harta peninggalan suami Mamak."


"Tidak apa. Mamak ikhlas, Lang."


~


Perawat sudah melepas bebatan kasa di kepala Langit, kini hanya tinggal plester dan kasa kecil yang menutup luka di dahinya. Sekilas Langit nampak sehat karena hanya gips di bagian kaki saja yang belum dilepas. Namun, keadaanya sangat mengkhawatirkan.


Seharian ini Langit dan Bening nampak diam. Mama Has juga lebih banyak diam, mereka akan saling berkata ketika dokter atau perawat datang. Mamak tidak ada di sana, pagi-pagi sudah meminta Kasep untuk menjemput karena ingin mengurus surat rumah untuk digadaikan.


Langit juga belum memberitahukan keinginannya untuk pulang, biar nanti saja saat Mamak sudah datang.


"Ma, boleh kasih Langit waktu untuk bicara berdua dengan istriku," izin Langit.


"Oh. Iya. Mama akan tunggu di luar." Mama Has langsung menyetujui.


Bening mengetahui itu hanya diam saja.


Langit berusaha sekuat sisa tenaga untuk menggerakkan kursi roda berpindah di hadapan Bening.


"Be, maafin aku untuk semua yang terjadi. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya."

__ADS_1


"Apa yang kamu usahakan!" sahut Bening cepat.


"Aku akan usahakan semua kebahagiaanmu."


Hening. Terdengar deru napas mereka.


Langit menggenggam tangan Bening. Perempuan itu bergeming tanpa membalas. Raut wajahnya masih terlihat kesal.


"Sore ini aku pamit pulang dulu. Kamu gak apa, kan di sini?"


"Gak ada kamu juga gak masalah!"


"Aku bakal jenguk kamu seminggu sekali, sekaligus memulihkan keadaanku."


"Terserah."


"Jangan terserah. Kamu ikhlas, gak? Kalo kamu gak ikhlas aku pulang, aku bakal usahain dateng tiap hari."


"Terserah! Kamu gak denger aku bilang terserah, hah!" sentak Bening.


Langit menunduk, menyembunyikan bola matanya yang mengembun. Meski Bening tidak melihatnya tetapi dia takut seseorang tiba-tiba masuk.


"Aku mau ngunjungi makam anak kita. Dia dimakamkan di dekat makam mamaku. Apa kamu ada titip ucapan."


"Enggak. Besok kalo aku sembuh, aku bisa datang sendiri. Kalo kita gak kecelakaan, pasti dia masih bergerak-gerak di dalam perutku. Aku kangen, pengen rasain gerakannya." Bening mulai terisak.


"Setelah kamu sembuh, Allah, akan memberi kita amanah bayi lagi." Langit menjeda kalimat yang ingin di sampaikan. "Untuk biaya rumah sakit, aku akan tanggung semuanya. Kamu gak perlu khawatir."


"Kamu mau pamer? Ngerendahin aku! Jangan kira aku gak mampu bayar rumah sakit. Aku bisa bayar sendiri."


"Aku gak pamer dan sama sekali gak ngerendahin kamu. Kamu sendiri yang bilang, aku harus bertanggung jawab. Sekarang aku bertanggung jawab."


Hening lagi.


"Be, seburuk apapun perlakuanmu, gak tau kenapa aku gak bisa membencimu. Cintaku masih besar dan kuat untukmu. Jangan menyerah, kita bisa melewati ini. Kamu akan segera sembuh dan bisa melihat lagi. Aku akan mengusahakan itu."


Bening terdiam, tetapi air matanya terus keluar.


"Mamak udah dateng. Aku pulang dulu. Kamu baik-baik di sini."

__ADS_1


"Kamu benar mau pulang?!"


Langit mengembus napas panjang. "Hem."


__ADS_2