
Ketika Langit membuka mata, istri galaknya sudah tidak ada. Dia pikir Bening masih di dapur membantu Mama Has menyiapkan sarapan atau aktifitas lainnya. Langit beranjak ke kamar mandi.
Sekitar 30 menit sudah keluar dengan wajah segarnya. Handuk putih yang digunakan untuk mengeringkan rambut dia letakan di atas kursi meja rias.
Langit mengambil pakaian dari tas ransel untuk dikenakan. Setelah memastikan penampilannya dari cermin, pria itu segera keluar untuk menyusul Bening.
Menuruni tangga, tak mendapati siapapun. Sampai di lantai bawah Langit bingung harus kemana dan bagaimana. Rumah Bening memang sangat luas dengan bangunan kokoh berlantai dua.
"Langit."
"Ma." Langit berbalik menghadap Mama Has yang muncul dari pintu ruang belakang.
"Ayo, sarapan dulu. Kamu mau dibikinin kopi atau teh?" tawar Mama Has.
"Enggak usah, Ma. Nanti biar Langit bikin sendiri." Langit menyengir.
"Gak apa, ada Bi Ijah yang akan buatin. Kamu tinggal bilang sama dia, mau kopi atau teh."
"Em, kopi boleh, deh, Ma."
Mama Has mengangguk. "Bi, tolong buatin kopi buat suaminya adek," teriaknya. Pintu belakang dengan dapur tidak terlalu jauh, hanya terhalang satu sekat ruang saja.
"Baik, Nya," sahut Bi Ijah dari dapur.
Mama Has mendekat, "Ayo, sarapan dulu!" Wanita paruh baya itu lantas berjalan mendahului Langit.
"Ohya, kamu nyariin Bening, ya? Dia udah berangkat pagi tadi. Katanya di kantor ada meting pagi." Keterangan Mama Has menjawab semua pertanyaan yang ada dibenak Langit. Meski tadi malam Bening sudah memberitahu, namun tak mengira jika waktunya sepagi ini sudah berangkat.
"Iya, Ma, semalam Mbak Bening udah kasih tau Langit."
Bi Ijah datang membawa kopi, disuguhkan di meja depan Langit.
"Makasih, Bik."
"Sama-sama, Tuan."
"Jangan panggil saya tuan, Bik! Gak enak dengernya. Panggil nama aja gak apa," kata Langit.
"Lho, ya, gak sopan atuh manggil nama aja. Lagian Bibik manggil Non Bening, masak sama Tuan manggil nama aja."
Mama Has hanya tersenyum mendengar mereka.
__ADS_1
"Ya udah kalo gak mau, Bibik panggil Langit dengan panggilan 'mas' aja," sela Mama Has.
"Itu juga boleh, Bik," sahut Langit menyetujui.
"Baiklah, Bibik panggil Mas aja. Bibik permisi dulu, kalo ada perlu apa-apa panggil Bibik saja!"
Setelah Bi Ijah kembali ke dapur, tinggal Mama Has dan Langit lagi yang melanjutkan sarapan.
"Lang," panggil Mama Has terlihat serius.
Langit yang sedang menyeruput kopi beralih melihat mama mertuanya. "Iya, Ma."
"Maafin sikap Bening, ya." Mama Has menghirup udara dan membuangnya pelan. Menatap Langit dengan serius. "Mama tau sikap Bening kurang baik sama kamu. Dia emang begitu, makanya sampek umur 27 menginjak 28 tahun belum menemukan jodoh. Sejujurnya Mama senang dengan pernikahan kalian. Kamu pemuda baik, sayangnya Bening belum bisa melihat kebaikanmu. Kamu yang sabar, ya, ngadepin sikap dia. Dia keras kepala, dan sulit ditaklukan." Mama Has tersenyum. "Tapi Mama yakin, lambat laun kamu bisa mengambil hati Bening," lanjutnya.
Tapi malah Langit yang gak yakin. Dia gak ingin aku ada di dekatnya. Dia malu punya suami sepertiku.
"Mama tenang aja, Langit gak ambil pusing sikap Mbak Bening yang kadang cuek dan gak peduli. Tapi Langit malah ngerasa rendah diri berjodoh dengan Mbak Bening. Langit cuma penjual bakso, sedangkan Mbak Bening orang kantoran. Saya kasihan kalo pegawai kantor juga teman mbak Bening tau siapa suaminya. Dia pasti malu banget," ujar Langit.
Mama Has memandang dengan sorot mata berbeda, mungkin kasihan karena Langit merasa minder dengan profesinya.
"Penjual bakso profesi halal. Kamu gak perlu rendah diri. Mama yakin, suatu saat nanti jika Bening tahu kebaikanmu, maka dia akan menyesal."
"Halo, Dek?"
"Eum ... lha kamu naroknya di mana?"
"Iya-iya, nanti Mama cari."
"Kalo dianter Mang Juri apa gak kelamaan?"
"Ya udah, iya nanti biar di anter."
Sambungan telepon terputus. Mama Has menyimpan ponselnya kembali.
"Berkas buat meting malah ketinggalan. Mama suruh nyariin biar nanti diantar Mang Juri. Tapi Mang Juri aja belum pulang, sedangkan waktu metingnya cuma tinggal satu jam lagi. Keburu gak, ya?"
"Emang kantor Mbak Bening di mana, Ma? Biar Langit aja yang anterin."
"Beneran? Tapi, apa kamu gak repot?"
"Enggak, Ma. Kalo pagi Langit cuma pergi ke pasar beli bahan-bahan buat dagang. Nanti pulang dari kantor bisa langsung labas ke pasar. Berkas Mbak Bening lebih penting," kata Langit.
__ADS_1
"Ya udah Mama siapin dulu berkasnya." Mama Has segera pergi untuk mencari berkas yang dimaksud Bening. Sementara itu Langit memesan ojek online.
•
Pria berpakaian biasa itu sudah sampai di depan kantor Bening. Setelah membayar ongkos, Langit mulai masuk ke lobi.
"Mbak, ruangan Mbak Bening di lantai berapa ya?" Langit bertanya pada wanita yang berjaga di bagian resepsionis.
"Ruangan Nona Bening di lantai 36. Mas ada perlu apa? Apa udah ada janji sebelumnya?"
"Udah, tadi Mbak Bening telpon minta buat dianter berkasnya."
"Oh, Mas, supir pribadinya? Ya, udah, silahkan."
Langit mendengkus saat wanita di depannya mengatakan dia sebagai supir pribadi. Padahal kenyataanya dia adalah suami sah. Namun, apa bisa dia menjelaskan kebenaranya. Tidak. Sama saja dia mempermalukan Bening jika sampai statusnya diketahui publik.
Langit menuju lantai 36 menggunkan lift, saat keluar dari lift di hadapkan dengan Bening yang baru keluar dari ruangannya bersama dua orang lain tidak dikenalnya.
Bening menghentikan langkah mengetahui Langit ada di kantornya.
"Mbak," panggil Langit.
Dua orang di samping Bening mengernyit. Heran mendengar pria itu memanggil Bening dengan sebutan 'mbak'. Siapa pria itu.
"Mbak? Dia siapa manggil, Nona Bening dengan sebutan mbak?" lirih Dion, sekretaris pertama.
"Saya juga gak tau. Mungkin sodara jauhnya. Tapi masa iya Nona Bening punya sodara model begitu? Ganteng sih, tapi liat pakainya, kok gitu? Belum lagi pakai sandal jepit. Hi hi ... gak banget, kan? Mungkin penjaga rumahnya."
"Mungkin," balas pria bernama Dion.
Meski lirih, namun suara bisikan itu mampu di dengar Bening. Seketika air muka Bening memerah. Dia berjalan cepat menghampiri Langit. "Ayo, ikut!" perintahnya dengan gigi merapat.
Langit yang tidak tahu apa-apa mengikuti berjalan di belakang Bening.
Bening mengajak Langit masuk ke ruangannya. Sebelum mengeluarkan kata-kata untuk memarahi Langit, wanita itu menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengembus pelan.
"Ngapain kamu yang anter berkas itu?!"
"Bukannya saya tadi udah pesen sama mama biar Mang Juri aja yang anter!"
"Kamu juga, udah tau mau dateng ke kantor saya ngapain pakek baju kek gitu! Malu-maluin!!! Kampungan!"
__ADS_1