
"Sayang." Mama Has memeluk tubuh Bening yang bergeming. Kristal-kristal bening berjatuhan membasahi pipi dan juga baju rumah sakit yang dikenakan wanita sendu itu.
Tak merasakan pergerakan dari tubuh puterinya. Mama Has melonggarkan pelukan.
"Adek? Hei, kenapa menangis?" Mama Has terkejut. "Kamu nangis karena terharu, kan? Mama juga nggak nyangka kamu hamil, Dek." Mama Has memegang kedua lengan Bening yang masih saja mematung.
"Dek ... jangan bikin Mama khawatir. Kamu kenapa? Kata dokter kamu baik-baik saja." Perempuan paruh baya itu menggoyang lengan puterinya. Baru saat itu Bening menoleh ke arah Mama Has.
"Ma, Be, ha-hamil?" ucapnya lirih. Sangat lirih nyaris tak terdengar.
"Kamu patut bersyukur, Dek. Allah memberimu kesempatan hamil padahal kamu ikut program KB. Itu artinya Allah percaya menitip amanah seorang anak di dalam rahimmu," ujar Mama Has lembut. Tangannya beralih menggenggam tangan Bening.
"Ma, di mana suamiku?" Bening mencari keberadaan Langit.
"Dia ada," jawab Mama Has.
"Tolong kasih kesempatan Bening untuk bicara berdua aja," pinta Bening. Mama Has merasa aneh dengan sikap dan wajah Bening, tapi tak bisa mengabaikan permintaan puterinya itu.
"Tunggu sebentar biar Mama panggilkan."
Mama Has melepas genggamannya dan berjalan keluar. Melihat reaksi Bening, membuat Mama Has takut jika puterinya tidak menerima kehamilannya. Selama ini Bening meminum pil KB karena memang belum siap hamil, lalu sekarang takdir Tuhan berkata lain. Nyatanya meski Bening rutin meminum pil KB tetap saja bisa kebobolan. Dan sekarang mengandung benih Langit. Mudah-mudahan saya Bening menerima calon anaknya.
"Lang, kenapa malah duduk di sini? Bening cariin kamu." Mama Has mendapati Langit masih duduk di kursi tunggu.
Langit tersadar dari lamunannya, lalu mendongak. "Mbak Bening cari Langit?" ulangnya.
"Iya. Cepet temuin."
Langit bangun.
__ADS_1
"Tapi, Lang____."
"Tapi apa, Ma?"
"Bagaimanapun nanti sikap Bening, kamu harus sabar, ya. Jangan buat istrimu tambah tertekan," pesan Mama Has.
"Maksud Mama?" Langit tak mengerti.
"Udah, temuin istrimu, tapi ingat pesan Mama tadi. Kamu harus sabar dan yakinkan Bening untuk lebih kuat dan mensyukuri anugerah yang diberi oleh Tuhan."
"Iya, Ma. Langit akan berbicara pelan. Mudah-mudahan Mbak Bening mau ngerti."
Langit melanjutkan langkah untuk masuk ke ruang rawat istrinya. Setelah menutup pintu, manik matanya terfokus pada Bening yang menyembunyikan wajah di atas dua lutut. Terdengar isak pilu yang menyayat hati. Langit bisa menebak apa yang akan terjadi. Kini debaran jantungnya semakin menyakiti rongga dada. Dia menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan.
"Embak ...." Langit sudah berdiri di samping Bening. Memanggil dengan suara sangat lembut.
Seketika Bening menengadah wajah untuk menatap lekat manik Langit. Napasnya terlihat memburu. Tangan sebelah terangkat dan memukuli dada bidang Langit bertubi-tubi.
"Mbak tenang. Saya mohon tenanglah, Mbak." Langit tidak menangkis serangan Bening, ia berusaha mencari celah agar bisa memeluk tubuh istrinya yang histeris.
"Bagaimana bisa tenang! Saya hamil, Rengit! Saya hamil ...! Saya gak mau hamil, kamu tau itu! Tapi, kenapa sekarang saya bisa hamil?
Langit mendekap tubuh Bening yang terus saja bergerak kasar. Gerakan itu membuat darah kembali dan cairan infus berubah dengan cairan merah.
Mama Has datang bersama dokter dan perawat. Langsung masuk begitu saja saat mendengar teriakan Bening.
"Dek, tenang, Dek!" Mama Has memegangi tubuh Bening yang histeris.
"Be gak bisa tenang, Ma. Be gak mau hamil! Gak mau!" teriak Bening. Perawat menyiapkan obat penenang, lalu memberikan pada dokter. Obat itu disuntikan lewat selang infus.
__ADS_1
"Nona, jangan banyak bergerak. Kondisi Anda masih lemah, begitu juga dengan bayi Anda. Kalau Anda seperti ini, bisa berakibat fatal," ujar Dokter ikut menenangkan.
Bening tidak mau mendengarkan dokter ataupun Mama Has. Tatapan marahnya terus menghujam Langit. Seolah memberi kebencian pada pria itu.
Setelah obat penenang bereaksi, tubuh Bening semakin kehilangan tenaga. Mata sendunya mulai memberat lalu dengan perlahan terpejam. Meski begitu, bibir Bening masih bersuara. "Aku gak mau hamil. Aku akan gugurkan anak ini!"
Langit membeku, susah payah menelan ludah. Napasnya tersengal. Ulu hati seolah terhimpit dan menjadikan napasnya kian menyesak. Apalagi mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Bening, hatinya benar-benar terluka. Hancur berkeping-keping.
Langit mengusap wajah. Mulutnya berkali-kali mengucap istigfar, berharap pikiran keruhnya segera hilang dan bisa menghadapi sikap Bening dengan kesabaran extra.
"Keadaan seperti ini bisa memperburuk keadaan ibu dan bayinya," ujar Dokter yang belum selesai memeriksa infus Bening.
"Dia sangat syok dengan kehamilannya, Dok." Mama Has menjawab dengan suara serak karena tangisannya baru usai mereda.
"Iya. Sepertinya Nona Bening belum siap hamil."
"Bagaimana, Dok? Saya takut Bening nekad melakukan ...."
"Tenang, Bu. Setelah Nona Bening sadar, kita bisa memberi pemahaman. Sebisa mungkin kita cegah Nona Bening supaya tidak berbuat nekad."
"Keadaan seperti ini, peran keluarga sangat penting untuk selalu memberi dukungan moral."
Langit menatap nanar wajah Bening. Perempuan yang dicinta namun sangat sulit untuk menjalani biduk rumah tangga bahagia. Baru usai perdebatan tentang profesi, kini sudah dihadapkan dengan masalah besar. Menyangkut garis keturunan.
Pria dengan pakaian formal itu berusaha menyembunyikan luka dan kekecewaan. Penolakan dan kata-kata yang diucapkan Bening sangat menghancurkan hatinya.
Ia tahu jika Bening belum siap hamil, tapi keadaan ini atas ijin Tuhan. Jika takdir sudah berkehendak, manusia tak bisa menolak meski sekuat apapun mencegah.
Langit berjalan gontai meninggalkan ruang rawat istrinya. Panggilan Mama Has dan Mang Juri dia abaikan begitu saja. Saat ini dia butuh ketenangan, butuh waktu untuk menyendiri.
__ADS_1
Langit berjalan tanpa arah, dia terus mengikuti lorong dan akhirnya menemukan tempat sepi di belakang gedung rumah sakit. Tangan Langit terangkat untuk menyusut sudut matanya yang sudah memanas sejak tadi. Sekuat tenaga dia menahan, tapi ketika sendiri air mata itu lolos begitu saja. Ingin rasanya dia berteriak, meluapkan perasaan yang di pendam. Dia telah banyak mengalah demi hubungannya, tapi kenapa semua itu tak pernah cukup bagi Bening. Perempuan yang di cintai itu selalu egois tanpa berpikir panjang.
"Aku tau Embak belum siap hamil, tapi apa salah janin itu sampek Embak gak mau nerima calon anak kita? Apa Embak tega menggugurkannya. Kenapa Embak selalu egois." Langit bermonolog sendiri. Dia menghirup udara dan membuangnya pelan, semoga emosi masih bisa terkontrol, dan dia bisa bersikap sabar seperti biasanya.