Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Semua menjadi gelap


__ADS_3

Rintik gerimis menghantar kepergian bayi mungil itu. Meski tanpa kehadiran kedua orang tuanya, bayi mungil yang telah pergi dengan ketenangannya tetap dimakamkan sore ini juga.


Mamak diberi tugas untuk mengurus pemakaman. Awalnya Mama Has meminta untuk dimakamkan di dekat almarhum suaminya yang tak lain kakek dari bayi itu, tapi Langit meminta dimakamkan samping makam mamanya. Namun, tetap menutup identitas almarhum mamanya dengan mengatakan itu makam kakaknya.


Mama Has tidak berkuasa memaksa kehendak, bagaimanapun keputusan Langit sangat sah karena dia ayah dari bayi itu. Selain itu, hari sudah semakin sore, dia tak mungkin berdebat alot demi merebutkan dimana letak makam, yang terpenting sekarang calon cucunya segera diantar keperistirahatan terakhir.


Mama Has tidak ikut ke makam karena harus menjaga Bening dan Langit.


"Nyonya, makanlah. Dari siang Anda belum makan sama sekali." Bibik khawatir dengan majikannya yang terlihat pucat.


"Saya belum lapar, Bik. Kalau Bibik mau pulang, gak apa. Nanti saya sama Mang Juri."


"Saya pulangnya nunggu Mang Juri sudah kembali ke sini, Nyonya. Kasihan Anda hanya sendirian."


Mama Has tidak menanggapi lagi, memilih memejamkan mata dengan memijat pelipis. Selama itu Bening belum juga sadar, hatinya terus diselimuti kecemasan, entah seperti apa saat putrinya sudah tersadar nanti.


Tok ... tok ....


Perawat masuk ke ruang rawat Bening. "Nyonya, Mas Langit ingin satu ruangan dengan Nona Bening."


"Iya, tidak apa. Itu lebih baik. Tolong siapkan dan pindahkan dia kesini," ujar Mama Has menyetujui. Perawat kembali keluar yang mungkin akan segera memindahkan Langit.


Berapa saat, brankar Langit terlihat memasuki ruangan. Kini pria sendu itu bisa menatap wajah pucat Bening. Keadaan Bening sama dengan Langit, memiliki bebatan kasa di kepalanya.


"Adek belum sadar juga, Lang," kata Mama Has.


"Gimana kondisinya?"


"Kata dokter, detak jantungnya masih lemah dan mereka belum bisa memastikan kapan Bening akan sadar."


Langit meniti wajah dan badan Bening, wanita itu tidak terlihat sedang terluka parah, pasalnya hanya ada balutan di kepala tanpa ada luka lain selain bekas operasi di perut yang tidak terlihat. Namun, wajah Bening terlihat sangat pucat, seolah tak ada aliran darah ditubuh lemah itu.


Langit menatap lekat dalam diam. Namun, logikanya sedang berkecamuk memikirkan semua yang terjadi.

__ADS_1


~


Malam berganti siang. Bergulirnya waktu begitu cepat, namun terasa lambat bagi Langit dan yang lain. Hingga detik ini mata Bening belum juga terbuka, semua diliputi rasa cemas. Dokter belum bisa memperkirakan kapan Bening akan sadar, hanya menunggu detak jantung kembali normal karena sampai saat ini detak jantung Bening masih sangat lemah.


Langit menahan sakit di bagian dada, pria itu sedikit sesak saat bernapas. Sampai saat ini dokter belum melakukan tindakan operasi untuk paru-paru Langit yang bocor karena biayanya yang terlalu besar dan Langit sendiri pun menolak. Dia tak mau biaya rumah sakit semua ditanggung keluarga Bening, setelah sembuh, dia akan berusaha mencari jalan keluar sendiri.


Sebelumnya sudah berdiskusi dengan dokter, bertanya tentang efek kelanjutan kondisinya. Mengharuskan operasi saat ini juga atau bisa ditunda. Dokter menerangkan kondisinya masih bisa bertahan walau tanpa operasi, hanya saja berdampak pada pernapasannya yang mungkin akan terhambat.


Keterangan dari dokter membuat Langit memilih membiarkan kondisinya seperti itu untuk sekarang, setelah kondisi luka yang lain membaik, dia akan memikirkan jalan keluarnya.


Meski bosan dalam kegelisahan, tapi Langit tak bisa melakukan apapun. Pria itu hanya bisa memperhatikan Bening yang masih setia dalam tidurnya. Dia sangat berharap mata indah itu segera terbuka.


Langit mengingat kembali bagaimana awal Bening mengetahui kehamilannya, wanita itu sangat membenci dia dan calon anaknya, bahkan sampai berucap ingin menggugurkan bayinya. Langit berpikir, apakah semua itu ada kaitannya dengan ucapan Bening saat itu. Mengingat itu mata Langit tak berhenti berkabut, bagaimana dulu Bening menolak keberadaan anaknya. Kini, ucapan itu dikabulkan Tuhan. Calon anak mereka diambil kembali dengan cara menyakitkan. Mungkin benar semboyan, ucapan adalah doa.


Pria berwajah sedih itu mengembus napas panjang, lalu dia berpikir ulang.


Atas kematian anaknya, tak lantas dia harus menyalahkan wanita itu. Tidak. Meski dulu Bening sangat jahat karena tidak menerima calon anaknya, tapi dia tak mungkin tega untuk menuntut dan menyalahkan semua ucapan Bening dulu. Mungkin yang terjadi sudah garis takdir dari Sang Ilahi.


Akhir ini Bening sudah sangat menyayangi bayi mereka, dia yakin saat sadar nanti Bening akan sangat sedih bahkan kesedihannya bisa lebih besar darinya.


Terdengar desis kesakitan, lamunan Langit menghilang dan segera menoleh pada Bening.


"Be ... sayang."


Mulut Bening mendesis, tapi kedua bola matanya belum terbuka. Langit memindahkan tangannya untuk mengelus tangan Bening. Brankar mereka berdempetan, memudahkan Langit untuk melakukan itu.


"Sakit," desis Bening lirih.


"Aku panggilin Mama buat nyari dokter," kata Langit.


"Kamu gak apa?" Bening bertanya tentang Langit, wanita itu belum sadar akan keadaanya sendiri.


"Suamimu ini gak kenapa-napa."

__ADS_1


"Ma!" Langit setengah berteriak memanggil Mama Has.


"Iya, Lang." Mama Has segera menghampiri.


"Ma." Kali ini Bening yang memanggil dengan suara seperti bisikan.


"Alhamdulillah, Adek sudah sadar. Ya, Allah, Dek, Mama seneng banget." Mama Has sampai berkaca-kaca, mengelus lengan Bening.


"Sakit dan panas, Ma," keluh Bening masih dengan mata terpejam karena kepalanya terasa berdenyut.


"Mama panggilkan dokter." Mama Has menekan tombol dokter dan kembali di dekat Bening. Hatinya sangat senang Bening sudah sadar, tapi ketika Bening juga sadar dengan keberadaan calon anaknya, entah apa yang akan terjadi.


"Ma, kenapa gelap?" Perlahan Bening membuka kelopak mata.


Mama Has dan Langit saling pandang. Bagaimana bisa ruangan begitu terang oleh bias matahari tapi Bening mengatakan gelap.


"Dek, ini siang hari. Ruangan ini sangat terang."


"Ma, semuanya gelap. Be gak bisa liat Mama." Wajah Bening mulai panik, tangannya bergerak untuk menjangkau apapun. "Gelap, Ma. Gelap banget. Suamiku mana?"


"Be, aku di sini. Di sampingmu."


"Kenapa semuanya gelap? Aku gak bisa liat kalian. Aku gak bisa liat ini di mana?" Bening mulai panik tak terkendali.


"Selamat siang," dokter masuk dengan perawat.


"Dok, periksa anak saya. Kenapa dia tidak bisa melihat," pinta Mama Has.


"Dokter, kenapa aku gak bisa melihat? Ada apa dengan mataku?"


Dokter mulai memeriksa bola mata Bening, semua normal. "Kami harus melakukan pemeriksaan dalam. Kemungkinan benturan di kepala Nona Bening mengenai retina mata bagian dalam dan itu yang membuat Nona Bening sementara ini mengalami kebutaan."


"Apa!? A-aku buta?" Bening terhenyak.

__ADS_1


"Astagfirullah halazdhim," ucap Mama Has.


Langit juga mematung. 'Cobaan apa lagi, Tuhan. Semua terjadi bertubi-tubi. Bagaimana kami akan menghadapi keadaan ini.'


__ADS_2