Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Tersembunyi


__ADS_3

"Eum-eum-eum ...." Langit mencebik di sisi kusen pintu kamar. Pria itu menunggui Bening usai bersiap. Namun wanita yang ditunggu-tunggu itu seolah tidak merasa. Tetap asik bergelut dengan alat make-upnya.


"Bibir dah merah banget, Mbak. Matanya terlalu item. Pipinya merah kek buah cerry."


"Sssttt ... Rengit!!! Bisa diem, gak!" Bening menoleh dan menatap horor pada pria yang tengah cengengesan di depan pintu.


"Saya kasih komentar dandanan Embak. Kok malah marah."


"Saya gak minta kamu komentari. Dari dulu dandanan saya kayak gini kalo mau ke kantor. Saya ini pemimpin perusahaan. Harus memberikan contoh, bagaimana berpakaian rapi dan berdandan formal ketika berada di kantor. Kamu nggak pernah ada di lingkungan resmi, jadi, mana tau harus berpakaian seperti apa. Lupa, waktu itu datang ke kantor hanya pakek baju biasa bahkan pakai sendal jepit. Oh, astaga ... untung karyawan nggak ada yang tau status kita. Bisa rendah, kan reputasi saya."


Langit terdiam sejenak menatap Bening. Berusaha meredam luka yang diberikan oleh wanita itu. Luka yang tidak berwujud namun terasa nyata sakitnya.


Satu bulan lebih usia pernikahan mereka, namun keberadaan dan status pria itu belum seutuhnya di hargai oleh Bening. Seolah profesinya sebagai penjual bakso terlalu rendah dibanding pekerja kantoran. Sampai kalimat Bening selalu merendahkan bahkan terkadang menghinanya.


Selama ini Langit berusaha sabar dan tidak mengambil hati setiap lontaran kata menyakitkan yang keluar dari bibir Bening. Beberapa tahun terakhir hidupnya sudah terbiasa mendengar cacian dari beberapa orang yang tidak menyukainya.


Sakit dan kecewa selalu dia pendam sendiri. Dia bersikap humoris hanya untuk mengalihkan rasa sedih.


"Ya gak sah diingetin lagi, Mbak. Saya gak tau kalo ke kantor harus pakek pakaian rapi. Tau gitu, waktu mau ke kantor Embak dateng dulu ke jasa laundry, pinjem jas dan celana bahan. Dah oke, baru berangkat. Kantor Embak gede banget. Sampek bingung nyari ruangan Embak disebelah mana." Langit sangat pandai menutupi kekecewaan. Pria itu tidak marah atau membalas dengan kalimat pedas. Dia memilih pura-pura tidak tahu apa-apa. Bahkan masih bisa memuji aset kekayaan milik Bening.


"Maka itu, kamu tuh beruntung bisa nikahin saya. Padahal kita beda banget."


"Iya, Mbak. Saya beruntung pakek baaaannngeeeet, bisa nikahin Mbak. Tapi beruntung lagi kalo bisa sekalian dapetin hati dan cinta Embak. Hi hi ...."


"Kalo itu, nggak sembarang orang. Benar-benar yang udah pilihan banget yang bisa dapetin hati dan cinta saya."


"Berati saya bukan pilihan Mbak, ya?"


"Tau!" Bening bangkit, mengecek kembali isi tas. "Dah siang. Ayo, turun! Waktu saya sangat berharga. Hari ini ada dua presentasi ke luar daerah, kemungkinan pulangnya malem. Kamu nggak usah nungguin," ujar Bening memberitahu.


"Oke, Mbak. Kalo gitu saya pulangnya juga agak malem. Nyantai dulu di rumah Mamak," balas Langit.


"Terserah kamu."

__ADS_1


Langit dan Bening menuruni anak tangga bersamaan. Di ruang makan, Mama Has sudah lebih dulu menunggu mereka.


"Nah, serasi banget kalau akur gitu," seloroh Mama Has menyambut Bening dan Langit.


"Serasi apanya, Ma. Dia malah kayak supirku."


"Hus, Bening!" Mama Has menyahut cepat.


"Hi hi ... yang dikatakan Mbak Bening emang bener, Ma. Langit malah kek supirnya," sela Langit dengan menyengir. Lagi-lagi menanggapi ucapan Bening dengan kalimat bercanda.


"Enggak. Kalau kamu pakek baju rapi, malah seperti adiknya. Soalnya Bening terlihat dewasa kalau pakai baju kantoran," pendapat Mama Has.


"Ini tuntutan pekerjaan sebagai CEO, Ma. Bening harus berdandan rapi dan dewasa. Masa mau pakek baju asal-asalan, ya, nggak bisa. Orang-orang bakal gosipin Bening," sela Bening.


Dddrrrttt ....


Ponsel Langit bergetar, pria itu merogoh saku celana levis. Penasaran siapa si penelepon.


"Ma, Mbak, sebentar. Saya terima telpon dulu," pamit Langit.


Dia menimang sebentar, apakah menjawab telepon atau membiarkannya. Cukup lama dia tidak berkomunikasi dengan nomor itu.


"Hem."


"Huft ... teleponku tidak pernah kamu angkat, Ga!"


"Ada apa menelpon?"


"Di sini semakin kacau. Dia masuk rumah sakit, divonis terkena gejala stroke. Kondisinya sama sekali belum membaik, padahal di rawat di rumah sakit biasanya. Jika dibiarkan, keadaan semakin rumit."


"Aku tidak peduli, Sam. Biarkan saja."


"Tapi, Lang!"

__ADS_1


"Aku cuma mengamati. Dia sudah memilih jalannya sendiri. Aku juga sudah menemukan jalanku sendiri. Sejak saat itu, aku tidak ingat dan aku tidak peduli lagi. Sama seperti yang dia lakukan padaku. Tapi, sampai saat ini aku tetap berusaha mengambil hakku."


"Pikirkan lagi! Semua memang hakmu, Ga. Apa kamu akan membiarkan mereka menang? Di sini aku tidak bisa melawan mereka. Kamu pasti tau bagaimana jaringan para monyet-monyet itu. Lihai sekali meloncat kesana kemari."


"Apa yang bisa kulakukan untuk menyadarkan. Mata hatinya sudah tertutup. Harta tidak menjamin kebahagiaan. Bahkan aku lebih bahagia dengan hidupku sekarang."


"Huft ...." Terdengar helaan napas dari seberang. "Baiklah. Setidaknya aku sudah memberi kabar. Aku dukung dan selalu di pihakmu, Kak!"


"Hei, jangan menyebut seperti itu. Kamu membuatku ingat."


"Aah' ... aku juga ingat. Kakak, aku merindukanmu."


"Mulutmu busuk, Sam!"


"Kak, jangan seperti itu. Aku semakin tersedu-sedu jika kau mengolokku."


"Sekarang bukan hanya mereka. Bahkan kau juga berubah menjadi monyet!


"Haha ...."


"Mas Lang, pagi-pagi udah nggosipin monyet," seloroh Bibik yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Langit.


"Eh, Bik. Lagi telponan sama temen lama. Biasalah bercandaan," jawab Langit. Dia segera mematikan sambungan telepon.


"Itu ditunggu Non Bening. Non mau berangkat sekarang."


"Eh, tumben nungguin. Iya, Bik. Saya kesana sekarang."


"Lama banget telponan sama siapa?" tanya Bening yang sudah berdiri di depan pintu depan.


Langit menghampiri. "Dari Bibah, dia bilang saya disuruh pulang ke rumah dulu."


"Sama cewek yang kecentilan sama kamu, itu!"

__ADS_1


"Ha ha .... Mbak ada-ada aja. Dia pens terberat, tau! Dari saya pindah di samping rumah dia. Sehari setelah itu dia langsung nembak saya. Padahal waktu itu, hidungnya aja masih ingusan. Gitu dah tau cinta-cintaan." Langit tersenyum lebar mengingat momen Habibah menyatakan perasaanya. Memang benar yang diceritakan barusan. Habibah menyukainya semenjak masih SD. Bahkan setiap hari mengikuti seperti lalat yang berterbangan. Sampai kemarin sebelum Bening menginap di rumah Langit dan mengetahui status pernikahan mereka. Habibah masih saja mengejar cinta Abang Tukang Bakso itu. Setelah tahu status yang sebenarnya, Habibah sempat frustasi dan mogok makan. Mak Iyam meminta bantuan Langit untuk membujuk Habibah, dan setelah Langit memberi penjelasan. Habibah mulai membaik.


"Fans berat?! Ya-ya, percaya. Tukang Bakso aja banyak fansnya," cibir Bening.


__ADS_2