Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Kepalang Kemalangan


__ADS_3

"Be, tunggu bentar, ya," pamit Langit yang mendapat telepon dari seseorang.


"Kenapa sih, jawab di sini aja gak apa, kan?" Bening curiga dengan wajah celingukan suaminya. Apa ada sesuatu yang disembunyikan.


"Gak enak di makam ngomongin bahan bakso. Bentaran aja." Langit melangkah menjauh. Beberapa kali menengok Bening, apa istrinya mengikuti. Dia lega karena Bening masih tetap di depan makam mamanya.


"Ada apa, Sam?"


"Ga, kabar baik. Dia sudah sadar." Seseorang berkata antusias dari seberang telepon.


"Em. Syukur Alhamdulillah, kalo gitu."


"Jawabanmu gitu aja. Harusnya kamu senang. "


"Ya aku senang, tapi gak musti teriak sama loncat-loncat, kan?"


"Haha ... Kakakku yang dingin ini bisa juga becanda."


"Berapa kali aku bilang, jangan panggil itu."


"Em, baiklah-baiklah. Hei, setidaknya buka email, ada pesan baru yang aku kirim. Kamu kerjakan, oke."


"Busuk. Lu yang dapet gaji, gue yang pusing."


"Ayolah, Kak. Kamu terbaik. Suatu saat kamu kembali, kamu sudah mengerti pekerjaanmu. Otak Kakak kan tokcer banget. Belajar sama Ayah tapi Kakak sudah menguasai semua ilmu perkantoran."


"Aku lebih senang jualan bakso. Gak perlu pusing, cuma jual jasa aja."


"Ck ... Ntar aku ajuin buka cabang restoran baru biar Kakak bisa jualan bakso di tempat keren."


"Aku gak mau dan gak akan kembali, Sam. Di sini aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku."


"Tapi, Kak ...."


"Aku jalani yang sekarang, tanpa ingat yang di sana. Hatiku sakit, Sam. Sepenuhnya aku masih ingat____." Pria berwajah sendu itu menghentikan kalimatnya. Menghirup udara dan membuangnya pelan. "Sekarang aku sedang ziarah ke makam mama."


"Oh, maaf, Ga, bila aku membuatmu sedih. Aku akan tetap berusaha mengawasi Paman."


"Em, aku percaya padamu. Aku harus kembali."

__ADS_1


"Baik. Aku tutup telponnya."


"Percaya sama siapa?" Suara Bening mengejutkan Langit. Entah, tiba-tiba sang istri sudah berdiri di belakangnya.


"Keponakan Mamak yang ada di Jawa telepon." Langit menjawab sesantai mungkin agar Bening tidak curiga.


"Yakin?" Seolah Bening tak mempercayai. "Lama-lama kamu banyak misteri, deh. Apa lagi yang gak kamu ceritain sama aku?"


"Gak ada. Beneran ponakan Mamak tadi yang telepon. Udah selesai?" Langit berusaha mengalihkan topik.


"Hem." Bening mengangguk. "Ayo, berdoa dulu buat mama," ajaknya. Mereka berdua kembali ke makam mamanya Langit. Kali ini berdoa untuk ketenangan almarhumah di sisi Tuhan Yang Maha Esa.


Setelah usai memanjatkan doa, Langit dan Bening keluar dari area pemakaman menuju kendaraan motor yang terparkir di depan makam tersebut. Membantu Bening memakai helm, lalu giliran dia sendiri.


Bibir Bening mengulum senyum tipis. Ini berbanding terbalik dengan dulu, menjadi istri Langit benar-benar dapat merubah sikap dan kebiasaanya. Dia yang sebelumnya tak pernah menaiki motor kini kemana-mana di bonceng motor butut suaminya. Lucu. Dia menertawai dirinya sendiri. Kesederhanaan Langit mampu mengalahkan egonya.


"Pegangan!" perintah Langit.


"Iya, calon pipi. Lama-lama mulutnya bawel." Gerutuan Bening membuat Langit terkekeh lebar.


"Tau gak?"


"Besok kita bakal kesini lagi," ujar Bening.


"Kok besok? Kalo aku kesininya satu bulan sekali. Ngapain besok kesini lagi?" timpal Langit dengan kebingungan.


"Aku punya firasat begitu. Kayaknya besok Mamak, Mama, Mang Juri dan Bibik juga ikut kesini." celetuk Bening yang membuat Langit bertambah bingung. Entah kenapa istrinya tiba-tiba berbicara demikian.


"Yang tau makam mama cuma kamu, Yang. Mereka gak bakal kesini. Ngawur, aja."


"Entahlah, aku felingnya gitu."


"Be, tiba-tiba perasaanku gak enak." Langit menatap Bening intens.


"Perasaanmu emang keseringan gak enak," sahut Bening. "Tapi, aku deg-degan juga, sih, gak tau kenapa. Apa karena besok jadwal periksa. Dan besok kita bakal tau dia cowok atau cewek." Bening beralih tersenyum sambil mengelus perutnya yang mulai aktif bergerak.


"Oh iya, calon ayah ini malah sampek lupa kalo besok jadwal periksa. Sehat-sehat ya, jagoan ayah____," ucapan Langit diserobot oleh Bening.


"Bukan ayah! Besok kita manggilnya mimi sama pipi, biar lucu."

__ADS_1


"Abah sama ama aja," usul Langit becanda.


"Kalo mau manggil begitu, kamu ganti dulu pakek sarung, kalo aku pakek kerudung panjang."


Langit kembali terkekeh. Sungguh, akhir ini hubungannya membaik dengan Bening membuat dia sering tertawa. Jika sikap angkuh dan cuek Bening hilang, ternyata perempuan itu lucu dan manja. Dia beralih mengelus sayang perut Bening. "Mimi kamu kadang lucu, Dek." Dia mengajak berbicara calon anaknya yang bergerak aktif di dalam sana.


"Ayo ah, kelamaan di sini di liatin orang-orang."


Langit membantu Bening naik ke atas motor. Lalu dia sendiri naik di bagian kemudi dan men-stater motor. Pria itu tak pernah kebut-kebutan, bahkan sangat hati-hati jika membawa Bening. Tentu saja tak ingin menyakiti calon anaknya.


"Nanti sore aku libur jualan, ya," ujar Langit.


Di belakang Bening tidak begitu mendengar karena mereka memakai helm. "Kamu ngomong apa?" Bening setengah berteriak dan mendekatkan wajah, namun tetap memberi ruang pada perut buncitnya agar tidak tertekan.


"Nanti sore ijin gak jualan!" Langit ikut meninggikan suara. "Entah, rasanya hari ini males mau ngapa-ngapa."


Terik matahari mulai meninggi, meski begitu tak menyurutkan pengguna jalanan saling berebut jalan.


Di bahu jalan ada mobil Fuso tengah berjalan dengan lambat karena terlihat membawa muatan penuh. Mobil besar itu memakan cukup banyak bahu jalanan. Mengendarai dibelakang mobil besar sangat tidak nyaman dengan knalpot mobil yang menguar asap tebal. Dia kasihan jika istrinya menghirup udara yang pekat polusi itu.


"Salip aja!" kata Bening.


Langit mencari selah untuk menyalip mobil besar itu. Beberapa kali harus bersabar karena arah berlawanan selalu penuh dengan mobil dan motor.


Sebenarnya jarak rumah Mamak dengan tempat makam tidak terlalu jauh dan hanya bisa ditempuh dengan satu jalan dengan arah berlawanan. Maka dari itu tak ada jalan alternatif lain.


Di depan ada mobil pickup yang masih lumayan jauh. Pikir Langit, dia masih ada waktu untuk mendahului kerangka besar yang memakan banyak bahu jalan itu.


Langit menekan kuat tuas motor agar segera menyalip mobil Fuso tadi. Naas, dari arah depan mobil pickup yang diperkirakan berjalan lambat tadi terlihat menambah kecepatan dan oleng tak terkendali.


Kepalang kemalangan, apa yang bisa dihindari ketika kemalangan tetap menghampiri.


Pada saat itu bayi dalam perut Bening menendang dengan kuat, membuat Bening meringis dan mengelus perutnya. Wanita itu lalu mengalihkan pandangan melihat sisi jalan tidak tahu jika kemalangan akan segera menghampiri.


Din ... Din ....


Clakson saling bersahutan. Lampu peringatan beberapa kali dinyalakan, tetapi keadaan sudah tak bisa diperbaiki. Mundur tidak bisa, maju akan mendapat kehancuran.


"Aaakh' ....!!!!!"

__ADS_1


Braaaakkkkkkk ....


__ADS_2