Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Pernikahan seperti apa yang kita jalani


__ADS_3

Tak lantas Bening menerima uluran tangan Langit. Wanita itu tersenyum tipis dan memilih menyedot es cendol santan untuk peralihan ajakan Langit tadi yang menawarkan sebuah pertemanan di dalam pernikahannya. Konyol atau lucu? Eum, mungkin keduanya.


Uluran tangan dianggurkan, Langit membuat gerakan memukul angin. Berbalik dengan Bening, pria berjaket hitam itu tersenyum kecut. Dia terlalu percaya diri jika Bening mulai luluh dan berubah, nyatanya masih sama saja. Ah, terlalu banyak berharap.


"Eskrimnya gak di makan-makan? Beneran leleh nanti," kata Bening.


"Saya gak seneng eskrim rasa ini. Leleh gak apa, cuma eskrim doang. Tapi sayang____"


"Sayang kenapa?"


"Sayang, karna sampek saat ini hati Mbak belum juga leleh," seloroh Langit.


"Idih, apaan!" Bening menyengir dan mengalihkan pandangan. Meniti es cendol santan yang belum habis meski sudah beberapa kali disedot.


Sekian detik, kini keduanya terlibat kebisuan. Tatapan mereka beralih lurus ke depan. Memperhatikan suasana taman yang lumayan ramai.


"Mbak!"


"Heem."


"Mbak pernah berpikir pernikahan seperti apa yang kita jalani?" Bibir Langit bertanya, tapi pandangannya masih tetap pada objek yang sama.


Tanpa sadar Bening menghendikan bahu, meski pergerakannya tidak diketahui oleh Langit, dia hanya reflek melakukannya. "Entahlah, ini bukan pernikahan. Karna bagiku gak ada bedanya status menikah atau belum. Ya, gini aja. Jalani."


"Eum, begitu. Apa Mbak dah punya cowok idaman. Dan berpikir menikah dengan cowok itu?"


"Gak ada sih. Kenapa tanya-tanya gitu?!" Bening melirik.


"Saya pikir, sikap Mbak yang ... yah, gitu, itu karna Mbak udah punya cowok. Dan karna kesalahpahaman waktu itu keinginan Mbak buat nikah sama cowok Mbak harus kepending, mungkin sebab itu juga Mbak kesal dan marah sama saya." Langit berbicara serius. "Tapi, apa semua itu mutlak kesalahan saya, Mbak, sedangkan kita nikah karna kesalahpahaman bukan karna kehendak saya atau paksaan dari saya. Sebenarnya keadaan kita sama, kita dipaksa bersatu dalam kesalahpahaman. Jadi, saya bingung harus jalani status kita seperti apa. Mbak tau, dalam pernikahan banyak yang harus dilakukan. Seperti wejangan dari Mama juga Mamak. Jika diliat dari status saya, saya itu kepala keluarga, beban tanggung jawab saya sangat besar. Saya akan sangat berdosa kalo istri saya selalu kesal dan marah sama saya. Apalagi gak bisa bikin Mbak bahagia, pasti malaikat bakal ngelaknat saya____"


"Kamu lagi cerita, kultum, ceramah atau apa berkata sebanyak itu?! Intinya aja!" sinis Bening.


"Intinya, omongin aja keinginan Mbak tentang bagaimana pernikahan kita selanjutnya. Mencoba saling kenal, atau____" Kalimat Langit terhenti. Dia tahu jika melanjutkan kata itu tidak boleh. Berharap Bening tahu maksutnya.


Bening diam. Rotasi matanya bergerak kesana kemari, pertanda diapun bingung. "Gak usah ngomongin inilah. Sok serius. Jalani aja dulu. Jika berpisah, belum tentu Mama dukung. Makanya saya juga masih bingung mikirin kelanjutannya."


Tuling ... tuling ....


Bunyi ponsel mengalihkan perhatian Langit. "Halo, Mak?"

__ADS_1


"Ini masih ngadem bentar di taman. Kenapa?"


"He ... he ... iya, bakal cepet pulang. Oke, Mak."


"Kenapa?" tanya Bening penasaran saat sambungan telepon sudah berakhir.


"Mamak nyariin. Katanya kok gak pulang-pulang."



Pulang ke rumah disambut dengan omelan Mamak yang luar biasa. Cuaca gerah bertambah gerah.


Biasanya pulang dari pasar pukul 09.30. Tapi kali ini sampai jam 11.00 siang belum juga kelihatan batang hidungnya. Maka itu Mamak mengomel.


"Mak tau kalian manfaatin waktu libur, tapi jangan lupa tugas, Lang. Coba kamu balikin dulu belanjaannya, Mamak bisa nyambi siapin semuanya. Tapi belanjaan malah ikut kamu bawa ngadem, keteteran, kan, akhirnya."


"Ya, maap, Mak. Mak kek gak ngerti aja kalo udah bedua yang lain bakal kelupaan."


Bening duduk di kursi plastik yang ada dimeja makan hanya diam mengamati.


"Nak Bening kalo capek istirahat aja!" suruh Mamak.


"Kamu istirahat, biar Mak nyuruh si Kasep yang jualan!"


"Ish, ngambek."


Langit memang tipikal humoris dan suka bercanda, bahkan bersama Mamak juga bersikap demikian.


"Saya tadi udah istirahat, Mak. Capeknya udah hilang. Kalo gak keberatan, saya bisa bantu pekerjaan Mamak," kata Bening.


Seketika Langit dan Mamak langsung menghentikan gerakannya. Saling pandang, merasa tidak yakin jika Bening benar-benar menawarkan diri untuk membantu.


Bening beralih mendekati Mamak yang mengupas bawang merah. Belum genap sepuluh menit berada di sisi Mamak, Bening mengeluh matanya perih. Langit yang sedang membuat cetakan bakso segera menghentikan pekerjaannya. Mencuci tangan dan menuntun Bening ke kamar mandi untuk mencuci muka.


"Kalo Nak Bening memang mau bantu. Bantu Lang buat bakso saja. Ngupas bawang bikin mata perih, nanti nangis lagi."


Mengikuti saran Mamak, Bening lantas mendekati Langit dan memperhatikan bagaimana pria itu mengubah bahan lembek bisa dibentuk bulat-bulat dan menjadi pentol bakso.


"Kenapa bikinnya gak satu ukuran?" tanya Bening mengamati. Pasalnya Langit membuat pentol kecil, sedang, besar dan super besar.

__ADS_1


"Dibikin variasi, Mbak. Biar pembeli bisa milih, mau yang kecil, sedang, besar atau super besar. Tapi kalo yang panjang gak ada, semua bentuknya bulet."


"Gak dijelasin juga tau, kaleee! Dari abad pertama bakso ada di Indonesia, semua memang bentuknya bulet."


"Tapi ada bakso yang khusus lho, Mbak. Panjang dan buletnya itu cuma diujung."


"Iya, tah? Bakso apa?" tanggap Bening dengan mengernyit.


"A'co milik saya,"


"Rengggiiiittttt ...!"


"Ha ... ha ...."


"Kalian kenapa? Heboh banget," sela Mamak. "Ada rengit, ya? Kalo musim hujan kadang banyak rengit," sambungnya.


Bening dan Langit saling pandang. Mamak mengira Bening takut dengan hewan bernama rengit, alias agas kecil. Padahal rengit adalah julukan yang diberikan Bening untuk Langit.


"Mak, kalo ngusir rengit itu pakek apa, ya?" tanya Bening sengaja.


"Hewan lembut itu memang ganggu banget. Apa ya, Mak juga gak tau. Mungkin disemprot pestisida bisa mati, itu."


"Ha ha ... iya-ya, Mak. Sepertinya butuh pestisida buat ngusir rengit. Biar pergi jauh dan gak ganggu lagi. Gak ngeselin lagi." Bening terkekeh menghadap Langit. Sedangkan pria itu pura-pura cemberut. Langit tahu jika Bening sedang mengoloknya.


Mamak menggeleng pelan melihat anak dan menantunya. Ada kelegaan melihat mereka mulai akrab satu sama lain.


Persiapan buat jualan sudah selesai. Adzan zhuhur sudah terdengar, Mamak menyuruh Langit dan Bening untuk istirahat sebentar.


"Kalo capek, tidur aja, Mbak. Saya malah kelupaan gak mampir ke toko furniture." Wajah Langit merasa bersalah.


"Panas banget, ya?" keluh Bening.


"Saya kipasin lagi," tawar Langit.


"Gitu kamu betah hidup kayak gini."


"Betah gak betah, Mbak."


"Apa kamu gak bisa usaha lain? Lamar kerja kantoran atau paling gak cari kerjaan yang lebih pantes dikit. Gak terlalu rendah, cuma jadi penjual bakso."

__ADS_1


"Saya gak punya ijasah. Gimana mau lamar kerja."


__ADS_2