
Bening terbangun saat pantulan sinar matahari mulai meredup. Dia menggeliat dengan merentangkan tangan ke samping. Kedua mata yang terpejam tiba-tiba terbuka saat sebelah tangannya merasakan bersentuhan dengan sesuatu.
Nyawa yang tadinya berpencar dipaksa kembali. Wanita itu menyiapkan hati untuk menoleh ke samping. Tangannya lebih dulu merasakan gesekan dengan kulit lain. Dia ingat dan bisa menduga jika ada orang lain yang tidur di sampingnya. Tapi, dia berusaha keras menyangkal pikiran itu. Tidak tidak! Semua hanya mimpikan? tanyanya pada diri sendiri.
Kepala itu menoleh, "Tidaaaakk!!!" teriaknya terdengar lugas. Bening reflek bergerak mengubah posisi terlentang menjadi duduk.
Langit yang tadinya terlelap tidur di samping Bening reflek terpaksa ikut bangun. "Ada apa? Ada gempa?! Ada gempa!! Ayo-ayo, lari!!!" Langit yang belum sadar penuh ikut berteriak tidak jelas. Pria itu hampir berlari jika Bening tidak memukulnya dengan bantal.
"Kurang ajar! Siapa yang ngijinin kamu tidur disini! Hua ... dasar Rengit!!!"
"Kamu nyuri kesempatan 'kan?!"
"Heh?!" Langit bingung menanggapi. Nyawanya benar-benar masih belum kumpul semua.
Buk ... buk ....
__ADS_1
Bening kembali memukuli Langit dengan bantal. Kesal mendapati Langit tidur di sampingnya.
"Mbak ... Stop!! Mbak mau, mama mbak dan nenek mbak, kesini?!" ujar Langit menghentikan pukulan Bening.
Bening merasakan angin semilir menyapu kulitnya. Dia menunduk dan lagi-lagi berteriak "Akh' ...!!!"
"Astaga ...!!! Mbak!!!" Langit menutup kedua daun telinga. Seolah gendang telinganya pecah mendengar teriakan wanita yang sedang syok itu.
Tok ... tok ....
Brak ....
"Ning, ada apa?!"
"Hah ...." Mama Has dan Eyang Putri termangu setelah membuka pintu kamar Bening. Mendapati Langit tidak memakai baju dan hanya memakai kolor, sedangkan Bening memakai tank top saja. Keduanya terlihat vulgar.
__ADS_1
Bening dan Langit terkejut. Keduanya juga ikut termangu sesaat. Setelah itu balapan menarik selimut untuk menutup tubuh masing-masing.
"Mah, kita masuk disaat kurang tepat," kata Mama Has dengan wajah bengongnya.
"Kamu benar, Has. Kita masuk diwaktu yang kurang tepat. Mamah juga lupa kalo cucu mamah udah nikah. Harusnya kita gak main buka pintu. Ini masih aman. Tapi ... besok-besok kita gak tau," timpal Eyang Putri menahan tawa.
"Mama, Eyang, apaan sih malah ngeledek Bening!" protes Bening cemberut.
"Mama sama Eyang kaget pas denger teriakanmu, jadi gak inget kalo kamu lagi menyesuaikan status dan mungkin sedang mencoba untuk mencetak cucu." Mama Has terkikik.
"Ma ...!!" Bening bertambah cemberut. "Cucu-cucu!! Bukannya mikirin nasib Bening malah mikirin cucu!" Bening kembali protes.
"Setelah menikah, apalagi yang dinantikan selain kabar bahagia darimu, Ning. Eyang dan mamamu bakal seneng banget kalo kamu cepet hamil," sela Eyang Putri.
"Ya Ampun, Eyang, jangankan hamil. Bening aja belum yakin kalo lelaki belum cukup umur ini adalah suami Bening. Apalagi harus mikir jauh kesana." Bening memasang wajah masam.
__ADS_1
"Apalagi yang belum kamu yakini? Dia udah jadi suamimu, kalian punya peran untuk melakukan kewajiban masing-masing. Kalo bingung kewajiban seperti apa yang harus dilakuin, kalian bisa baca panduannya di buku nikah. Atau lihat artikel terpercaya dari joogle atau butute. Semua hak dan kewajiban berumah tangga diberitahukan lengkap." Mama Has memberitahu.
"Udah, ayo kita keluar, Has. Kita ganggu mereka buat beradaptasi. Biarkan mereka saling kenal dan menyesuaikan diri. Dengan gitu, mudah-mudahan gak lama kita dapet kabar baik," kata Eyang Putri dengan senyumannya yang membuat Bening tambah kesal sekaligus malu.