Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Keberadaanmu di sini saja sudah salah


__ADS_3

"Emang enak?! Kalo bukan Mama yang nyuruh, ogah bener bikin minuman buat kamu! Rasain tuh," tegas Bening dengan sudut bibir atasnya terangkat.


"Pedes banget, Mbak. Ini wedang jahe apa wedang sambel?! Jontor dah bibir saya!" kesal Langit menautkan alisnya. Lidah yang terasa terbakar itu tetap sesekali dijulurkan.


Bening tersenyum mengejek, "Tadi jahenya tak kasih sepuluh ruas yang gede. Warna putih kemerahan itu tak tambahin cabe rawit! Haha ...." Dia tertawa jahat.


"Astaga ... istri gak ada akhlak!"


"Ya bodo'!"


"Situ ngatain saya gak ada akhlak?! Kamu pikir suami yang pulang hampir pagi gini akhlaknya bagus! Di anjurkan begitu!" geram Bening dengan tatapan murka.


Langit tetap biasa, tidak menanggapi kemurkaan Bening. Respon pria itu malah menautkan kedua alis karena tak paham dengan sikap Bening. "Tadi pagi Mbak bilang gak peduli. Mau pulang kek, mau enggak, kek. Bodo' amat! Gitu, kan?" Langit mengingatkan Bening dengan perkataannya tadi pagi, "Atau, jangan-jangan Mbak nungguin saya pulang? Hayo, ngaku!" seloroh Langit.


Bening membuang pandangan, "Idih, pede! Sorry worry, ye. Gak mungkin saya nungguin kamu!"


"Hacing ... Ha ...."


"Setoooop!!! Ih, jijik banget, sih. Flu itu nularin virus, tau!" omel Bening.


Seburuk dan sehina apapun perkataan Bening, tak membuat Langit membalas demikian. Pria itu tak pernah ambil pusing semua sikap Bening. Sakit dan kekecewaan dipendamnya dalam hati.


Langit menggosok-gosok hidungnya sampai memerah. Rasa gatal di bagian itu tak bisa ditahan. "Hacing ...." Lagi-lagi Langit bersin di depan Bening, membuat wanita itu bertambah kesal dengan tatapan tidak mengenakan. Bening menjauhi Langit, menuju ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Selimut tebal dia tarik sampai atas.


Langit hanya memperhatikan gerak-gerik Bening, setelah itu terdengar embusan panjang dari hidungnya. Kesabaran masih ada untuk menanggapi sikap tidak peduli istrinya. Dia merebahkan tubuhnya kembali di sofa. Memilih tidur di sana tanpa berniat menyusul Bening tidur di ranjang.


Di bawah selimut tebal tak lantas Bening memejamkan mata. Pergolakan batin kembali terjadi, bukankah tadi ada setitik rasa bersalah, tapi setelah melihat wajah Langit, rasa tidak suka itu muncul. Dan yang terjadi, dia justru menunjukan sikap buruk.



Pagi hari.


Meja makan di rumah besar Bening terisi oleh tiga orang. Namun, pagi ini berbeda dari biasanya. Bening memilih duduk berseberangan dengan Langit, karena pria itu tidak henti bersin-bersin.


"Lang, periksa aja ke dokter," perintah Mama Has.

__ADS_1


"Gak usah, Ma. Bersin gini, sehari juga sembuh," tolak Langit.


"Bersinmu gak berenti-berenti gitu! Daripada makin parah, langsung aja diperiksain."


"Nanti kalo udah dikerokin sama Mamak, bakal sembuh."


"La, ngapa nunggu Mamak yang kerokin. Tadi malam Bening gak inisiatif kerokin kamu!" Mama Has tertuju pada Bening. Padahal kalimat itu untuk Langit.


"Kasihan Mbak Bening ngantuk, makanya nanti aja nunggu Mamak."


"Palingan istrimu yang gak mau kerokin!"


Bening memutar bola mata. Merasa kesal setiap dekat dengan pria itu ada saja yang membuatnya marah.


"Bentar, ya," ujar Mama Has pamit ke belakang.


Setelah Mama Has tidak terlihat. Bola mata Bening melotot dan menatap garang pada Langit. "Ngapa sih, tiap ada kamu bikin kesal!"


"Saya salah apa lagi, Mbak?!"


"Keberadaan kamu di sini aja udah salah!" balas Bening cepat dengan nada ketusnya. Langit langsung tertuju tepat pada bola mata Bening.


"Lagian semalam kemana aja sampek pulang hampir pagi?!"


"Saya ketemu temen, ngobrol di warnet dan keasikan gak taunya udah hampir pagi. Oke, saya minta maaf untuk yang semalam, kalo Mbak kesal gara-gara itu. Tapi, saya juga ingat perkataan Mbak yang kemarin pagi di kantor. Makanya agak bingung mau pulang apa enggak ."


Bening mengembus napas kasar dengan fokus menikmati sarapannya. Tidak merespon perkataan Langit. Sampai dia lebih dulu meninggalkan meja makan dan berangkat ke kantor, Bening tidak menganggap keberadaan Langit.



"Mak," panggil Langit. Pria itu berdiri di depan pintu rumah menunggu Mamak membukakan pintu. Sedikit lama tidak kunjung dibuka, Langit mengintip lewat kaca jendela. Ternyata Mamak sudah berjalan ke pintu.


"Dah pulang, Lang," sambut Mamak.


"Hacing ... hacing ...." Sambutan Mamak dibalas dengan sambutan bersin-bersin oleh Langit. Pria itu menggosok hidung dengan tisu.

__ADS_1


"Dah tua kok pilek! Kamu ujan-ujanan?!" todong Mamak.


"Elah, Mak. Kapan ujannya? Dari kemarin juga gak ujan." Langit menyelonong masuk dan duduk di sofa. "Semalam kedinginan kena angin malam, makanya pilek," sambungnya.


Mamak tidak bersuara, memilih melangkah masuk. Namun, tak selang lama sudah kembali dengan minyak angin dan uang koin. "Kamu belum kerokan? Sini, Mak, kerokin."


Langit melepas jaket dan kaus yang dipakai. Membelakangi Mamak dan memasang badan. Mamak mulai mengerok punggung Langit.


"Sampek merah gini, kamu tuh masuk angin, Lang!"


"Ho'o paling, Mak. Hacing ... kepala Langit nyut-nyutan."


"Hari ini istirahat aja, gak usah jualan."


"Sayang, Mak, kalo gak jualan, nanti pelanggan pada kabur. Seminggu lagi Langit kudu ke Surabaya. 'Kan masih ada yang belum selesai."


"Nah, justru itu, Lang. Dah tau seminggu lagi ke Surabaya harusnya siapin kesehatan. Jangan sampek drop."


"Enggak, Mak. Tenang aja! Nanti udah minum obat juga sembuh. Tapi Langit mau tidur bentar, ngantuk banget semalem gak tidur."


"Kamu tidur aja, nanti Mamak siapin semuanya."


"Gak usah, nanti bangun tidur Langit yang siapin, Mak."


"Ada Habibah yang bantuin Mamak. Kamu tenang aja, dia tadi pulang bentar ngambil apa gitu, tapi katanya mau sini lagi."


"Bibah ke sini? Ya, dah, kalo gitu. Selesai Mak kerokin, Langit mau tidur."


Punggung putih mulus Langit sudah penuh dengan garis merah kehitaman. Pria itu mengenakan kausnya kembali. "Rasanya agak enteng udah Mak kerokin." Langit bangkit dan keluar rumah, pria itu mengambil dua ransel besar.


Mamak mengernyit. "Kenapa tasnya dibawa pulang semua, Lang?!"


"Gak apa, Mak. Mbak Bening lagi banyak kerjaan, takut ganggu konsentrasinya. Jadi, sementara ini Langit di rumah sini."


"Kok, gitu?!" tanya Mamak bingung.

__ADS_1


"Gak apa, Mak. Ini persetujuan kami berdua, jadi gak ada kata suami istri wajib tinggal satu atap. Toh, ini kesepakatan kami."


Saat Bening meninggalkan meja makan begitu saja, Langit merasa sedih. Dia memutuskan kembali ke rumah Mamak untuk sementara waktu. Mungkin Bening sangat tidak suka dengan kehadirannya.


__ADS_2